Kemenhub Dukung Penuh Rem ABS untuk Keselamatan Sepeda Motor di Jalan Raya
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan komitmennya dalam mendukung penggunaan teknologi Anti-lock Braking System (ABS) pada sepeda motor demi peningkatan keselamatan berkendara dan menekan angka kecelakaan di jalan raya.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara tegas mendukung implementasi teknologi Anti-lock Braking System (ABS) pada sepeda motor. Langkah ini diambil sebagai upaya krusial untuk meningkatkan keselamatan berkendara di jalan raya nasional. Dukungan ini diharapkan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan roda dua.
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, melalui Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Yusuf Nugroho, menyatakan bahwa kemajuan teknologi keselamatan semakin pesat. Fitur canggih seperti rem ABS dan stability control kini dapat diterapkan di Indonesia. Teknologi ini dirancang untuk membantu pengendara bermanuver lebih aman dalam berbagai kondisi jalan.
Integrasi sistem keselamatan otomatis ini dinilai esensial untuk meningkatkan stabilitas, kontrol pengereman, dan perlindungan bagi pengguna jalan bermotor. Penerapan ABS pada sepeda motor diharapkan menjadi solusi efektif dalam mengurangi fatalitas di jalan raya.
Pentingnya Rem ABS untuk Keselamatan Pengendara
Anti-lock Braking System (ABS) merupakan inovasi pengereman mutakhir yang dirancang khusus untuk mencegah roda sepeda motor terkunci saat pengereman mendadak. Sistem ini memungkinkan pengendara untuk mempertahankan kendali penuh atas kendaraannya. Dengan demikian, stabilitas meningkat dan jarak pengereman dapat dipersingkat secara signifikan di berbagai kondisi jalan.
Manfaat ABS tidak hanya terbatas pada kemampuan menjaga kendali, tetapi juga terbukti secara ilmiah mampu mengurangi risiko kecelakaan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Universitas Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan ABS berpotensi menurunkan angka kecelakaan sepeda motor hingga 24 persen. Data ini menggarisbawahi efektivitas ABS sebagai fitur keselamatan vital.
Mengingat target nasional untuk menurunkan fatalitas kecelakaan hingga 50 persen pada tahun 2030, implementasi rem ABS menjadi salah satu solusi teknologi yang sangat penting. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam strategi keselamatan jalan. Dengan adopsi yang lebih luas, potensi penyelamatan nyawa di jalan raya akan semakin besar.
Tantangan dan Opini Pakar di Indonesia
Meskipun penjualan sepeda motor terus menunjukkan peningkatan, seperti data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang mencatat pertumbuhan 2,1 persen pada November 2025, standar keselamatan kendaraan di Indonesia dinilai belum seimbang. Lonjakan jumlah kendaraan ini tidak diimbangi dengan strategi keselamatan yang memadai. Oleh karena itu, edukasi pengendara saja tidak cukup untuk menekan angka fatalitas kecelakaan.
Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, menyoroti bahwa isu keselamatan jalan belum sepenuhnya terintegrasi sebagai agenda lintas sektor dalam kebijakan pemerintah. Upaya yang ada seringkali berjalan secara parsial, hanya fokus pada perilaku pengguna jalan atau penguatan standar kendaraan. Rio menekankan pentingnya kerangka kerja yang seimbang dan saling menguatkan untuk mencapai hasil optimal.
Kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi non-pemerintah, menjadi kunci dalam mengatasi tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Rio mencontohkan India, di mana organisasi non-pemerintah berperan aktif dalam menyuarakan aspirasi keselamatan jalan yang didengar dan ditindaklanjuti serius oleh pemerintah. Data Korlantas Polri juga menunjukkan bahwa sekitar 44 persen kecelakaan sepeda motor sepanjang tahun 2024 dipicu oleh kegagalan fungsi pengereman, menunjukkan urgensi solusi teknologi seperti ABS.
Di Indonesia, penerapan teknologi pengereman ABS masih terbatas pada sepeda motor berkapasitas mesin besar. Padahal, mayoritas pengendara di Indonesia menggunakan sepeda motor dengan kapasitas di bawah 150 cc. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam akses terhadap fitur keselamatan penting bagi sebagian besar pengguna jalan.
Belajar dari India dan Rekomendasi Global
Founder TRAX (Traffic Accident Research & Prevention Society), NGO Road Safety India, Rajni Gandhi, menjelaskan bahwa perencanaan penerapan ABS pada seluruh sepeda motor sangat penting. Sistem ini dapat membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik, meningkatkan stabilitas, dan memperpendek jarak pengereman dalam berbagai kondisi. Ini adalah langkah proaktif untuk keselamatan.
India telah menjadi contoh sukses dalam penerapan ABS secara luas. Pemerintah India, melalui Kementerian Transportasi Jalan dan Jalan Raya (MoRTH), akan mewajibkan penggunaan ABS pada seluruh sepeda motor dan skuter baru mulai Januari 2026. Kewajiban ini berlaku tanpa memandang kapasitas mesin, menunjukkan komitmen serius terhadap keselamatan pengendara.
Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Keselamatan di Jalan Raya, Jean Todt, menyoroti kondisi di Indonesia. Ia mencatat bahwa 80 persen kecelakaan fatal di Indonesia melibatkan kendaraan roda dua. Lebih lanjut, dua pertiga korban meninggal dunia tidak memiliki lisensi berkendara yang sah. Data ini memperkuat urgensi tindakan komprehensif.
Menurut Jean Todt, kombinasi antara edukasi pengendara yang efektif dan standar keselamatan berbasis teknologi adalah kunci utama untuk menurunkan risiko fatalitas di jalan raya. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman. Dengan demikian, jumlah korban kecelakaan dapat diminimalisir secara signifikan.
Sumber: AntaraNews