Pulau Nusakambangan, yang selama puluhan tahun identik dengan citra penjara berkeamanan tinggi, kini mengalami transformasi signifikan. Di balik tembok-tembok lapas, hamparan lahan produktif untuk pertanian, peternakan, dan perikanan mulai berkembang pesat. Perubahan ini bukan sekadar upaya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga menjadi program pembinaan vital bagi warga binaan.
Melalui berbagai kegiatan seperti budi daya udang vaname, jamur tiram, kebun anggur, hingga peternakan domba, warga binaan memperoleh keterampilan praktis. Program ini bertujuan membekali mereka dengan keahlian yang dapat dimanfaatkan setelah bebas, membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Inisiatif ini menunjukkan bahwa Nusakambangan bukan lagi sekadar tempat hukuman, melainkan juga pusat pembelajaran.
Transformasi ini juga menarik perhatian Komisi IV DPR RI yang mengapresiasi pemanfaatan lahan tidur menjadi area produktif. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan juga menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari gerakan nasional untuk mengoptimalkan lahan di berbagai lapas dan rutan di Indonesia. Ini adalah langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan harapan baru bagi warga binaan.
Advertisement
Advertisement
Belajar Keterampilan dari Tambak Udang Vaname
Di kawasan Bantar Panjang, Nusakambangan, program budi daya udang vaname menjadi salah satu andalan pembinaan. Di atas lahan seluas 7,5 hektare, terhampar 20 kolam budi daya dengan masing-masing berukuran 3.000 meter persegi. Setiap kolam ditebar sekitar 11 hingga 11,5 juta ekor benur udang vaname yang dipelihara selama kurang lebih 120 hari hingga siap panen.
Warga binaan seperti Suratman dari Riau, yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman, kini terampil dalam mengelola tambak. Mereka terlibat dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari pemberian pakan lima kali sehari, pemantauan kesehatan udang, hingga pengelolaan kualitas air. Pelatihan dasar yang komprehensif memastikan setiap warga binaan memahami tugasnya dengan baik.
Ahmad Khofi Asalafi, pendamping kegiatan, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membekali warga binaan dengan keterampilan bernilai ekonomi. Selain itu, mereka juga mendapatkan bonus dari hasil produksi yang ditabung sebagai modal setelah bebas. Kegiatan ini tidak hanya produktif, tetapi juga menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi para peserta.
Advertisement
Advertisement
Program Ketahanan Pangan Inovatif di Lapas Kembangkuning
Lapas Kelas IIA Kembangkuning juga aktif dalam mengembangkan program ketahanan pangan yang beragam. Sekitar 100 warga binaan terlibat dalam berbagai sektor produktif, mulai dari pengelolaan sampah, budi daya ikan nila, kebun semangka golden, hingga budi daya jamur tiram. Ada pula kebun anggur dan peternakan domba yang populasinya terus berkembang.
Kepala Lapas Kembangkuning, Winarso, menjelaskan bahwa penempatan warga binaan didasarkan pada asesmen minat dan kemampuan masing-masing. Pendekatan ini memastikan mereka dapat beradaptasi dan mengembangkan potensi secara maksimal. Fauzi Rahman, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, menambahkan bahwa proses seleksi dan pelatihan intensif diberikan sebelum warga binaan terjun ke lapangan.
Ismail, warga binaan asal Madura yang menjalani pidana 20 tahun, adalah salah satu contoh keberhasilan program ini. Meskipun baru belajar mengelola kebun anggur, ia berharap keterampilan ini menjadi bekal berharga untuk membuka usaha di kampung halamannya. Program ini membuktikan bahwa pembinaan di lapas dapat menghasilkan individu yang terampil dan mandiri.
Advertisement
Advertisement
Masa Depan Cerah dari Budi Daya Sidat Nusakambangan
Di belakang Lapas Batu, Nusakambangan, ratusan kolam sidat sedang dikembangkan dengan ambisi menjadi sentra budi daya sidat terbesar di Indonesia. Pembangunan kolam dimulai sejak Desember, dengan target 840 kolam pada tahun 2026, dan saat ini telah mencapai sekitar 740 kolam. Lebih dari 60 warga binaan terlibat aktif dalam proyek ini, didampingi tenaga ahli dari masyarakat.
Budi daya sidat dipilih karena nilai ekonominya yang tinggi dan permintaan ekspor yang besar, berpotensi meningkatkan devisa negara. Pengelola menargetkan produksi lebih dari 80 ton sidat per bulan pada pertengahan 2027. Keterlibatan warga binaan tidak hanya membantu operasional, tetapi juga memberikan pengalaman kerja yang sangat berharga.
Selain keterampilan, warga binaan juga menerima premi hingga Rp800 ribu per bulan, yang dapat digunakan untuk keluarga atau ditabung sebagai modal setelah bebas. Aktivitas produktif ini tidak hanya mengisi waktu mereka, tetapi juga menumbuhkan semangat dan mempersiapkan mereka untuk reintegrasi sosial yang sukses.
Advertisement
Advertisement
Transformasi dan Apresiasi dari Komisi IV DPR RI
Transformasi Nusakambangan menarik perhatian serius, termasuk dari Komisi IV DPR RI. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, meninjau langsung lokasi kegiatan ketahanan pangan pada Sabtu (20/6). Beliau mengapresiasi bagaimana lahan tidur diubah menjadi tambak udang, peternakan ayam, kebun anggur, dan budi daya sidat oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Legislator tersebut terkesan dengan perubahan citra Nusakambangan yang sebelumnya menyeramkan menjadi produktif. Siti Hediati Hariyadi berharap program ini dapat direplikasi di daerah lain, mengingat manfaat langsungnya bagi warga binaan. Mereka mendapatkan keterampilan, pengalaman kerja, dan premi sebagai modal kembali ke masyarakat.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menjelaskan bahwa program ini adalah bagian dari gerakan nasional pemanfaatan lahan tidak produktif di seluruh lapas dan rutan. Tujuannya adalah mendukung ketahanan pangan, menstabilkan harga, dan mengendalikan inflasi. Lebih dari itu, program ini memberikan kesempatan berharga bagi warga binaan untuk belajar, bekerja, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan pasca-pemasyarakatan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews