Melompat Bikin Tambah Tinggi? Begini Kata Riset dan Batas Usianya

Apakah melompat bisa menambah tinggi badan? Riset: efektif saat masa pertumbuhan, tidak pada dewasa. Ini alasannya dan olahraga yang disarankan.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Melompat Bikin Tambah Tinggi? Begini Kata Riset dan Batas Usianya
Simak beberapa kegiatan seru yang dapat dilakukan untuk melatih keseimbangan anak! (pexels.com/Luna Lovegood)

Klaim bahwa melompat bisa menambah tinggi badan kerap muncul, terutama di kalangan anak dan remaja. Jawabannya: lompatan berpotensi membantu pertumbuhan pada mereka yang lempeng pertumbuhannya masih terbuka, tetapi tidak menambah tinggi pada orang dewasa.

Dilansir dari Healthline, para ilmuwan memperkirakan 60–80 persen perbedaan tinggi badan ditentukan faktor genetik, sedangkan 20–40 persen dipengaruhi lingkungan seperti nutrisi. Artinya, melompat hanyalah faktor pendukung, bukan penentu utama tinggi tubuh.

Bagaimana Lompatan Mempengaruhi Tulang dan Hormon

Tidak Ada Ornamen Tionghoa, Begini Cara Anak Korea Utara Rayakan Hari Imlek
Sejumlah remaja bermain lompat tali saat merayakan hari libur Tahun Baru Imlek di alun-alun Kim Il Sung di Pyongyang, Korea Utara (16/2). (AFP Photo/Kim Won-Jin)

Lompatan termasuk aktivitas berdampak tinggi yang memberi tekanan pada sistem rangka dan otot. Saat melompat dan mendarat, tubuh menerima gaya reaksi dari tanah sehingga kerangka menahan beban beberapa kali lipat berat tubuh. Tekanan mekanis ini sejalan dengan prinsip Wolff: tulang beradaptasi dan membentuk ulang diri sesuai beban yang diterima.

Pada anak dan remaja dengan lempeng pertumbuhan yang masih aktif, rangsangan rutin dari lompatan memicu produksi sel tulang rawan yang kemudian mengeras menjadi tulang. Sejumlah penelitian mengaitkan aktivitas fisik intensif dengan laju pertambahan tinggi pada anak usia 9–15 tahun, serta melaporkan program lompatan 24 minggu pada anak bertubuh pendek yang memengaruhi jalur hormon GH–IGF-1 pendorong pertumbuhan.

Menjelang akhir pubertas, perubahan hormon membuat lempeng pertumbuhan mengeras dan menutup. Umumnya, pada perempuan sekitar usia 16 tahun, sedangkan pada laki-laki antara 14 hingga 19 tahun. Menariknya, hormon estrogen pada laki-laki maupun perempuan berperan menutup lempeng tersebut.

Aktivitas intensitas tinggi seperti lompatan termasuk salah satu perangsang alami hormon pertumbuhan manusia. Namun, setelah lempeng pertumbuhan menutup, lonjakan hormon tidak lagi diterjemahkan menjadi tambahan tinggi karena tulang panjang sudah berhenti memanjang.

Efek pada Anak dan Orang Dewasa: Apa Bedanya

Bagi anak dan remaja, lompatan terstruktur dapat menjadi salah satu cara menyenangkan untuk menunjang pertumbuhan, selama dilakukan dengan porsi yang wajar dan teknik yang benar.

Bagi orang dewasa, berbagai latihan yang diklaim meninggikan badan tidak dapat memanjangkan tulang. Lompatan tidak akan menambah tinggi badan setelah lempeng pertumbuhan menutup.

Bila tubuh terasa sedikit lebih tinggi usai berolahraga atau peregangan, itu biasanya akibat berkurangnya kompresi pada cakram tulang rawan di tulang belakang. Efek ini bersifat sementara dan tidak mengubah tinggi badan secara permanen.

Olahraga Berbasis Lompatan yang Bisa Dicoba

Untuk anak dan remaja, pilihan olahraga berbasis lompatan dapat membantu memberikan rangsangan mekanis pada tulang sekaligus menguatkan otot dan koordinasi. Berikut beberapa opsi yang umum dilakukan.

1. Lompat Tali (Skipping)

Rangkaian lompatan berkesinambungan memberi tekanan sedang pada tulang panjang dan mendukung proses pemanjangan tulang. Alatnya sederhana dan mudah dilakukan di rumah.

2. Basket

Lompatan berulang untuk menembak dan rebound memacu peregangan tubuh serta merangsang tulang panjang di kaki, sekaligus melatih kekuatan dan koordinasi.

3. Voli

Gerak melompat, memukul, dan meraih bola melatih lompatan serta peregangan lengan dan bahu, yang baik untuk fleksibilitas tubuh bagian atas dan tulang belakang.

4. Jump Squat

Variasi squat dengan lompatan melatih kekuatan otot kaki dan membantu memperbaiki postur, dua aspek yang menunjang tampilan lebih jenjang.

5. Box Jump

Melompat ke atas permukaan yang lebih tinggi meningkatkan daya ledak, kekuatan inti, serta keseimbangan.

6. Tuck Jump dan Plyometric

Lompatan cepat berintensitas tinggi memberi rangsangan kuat pada otot dan tulang serta memperkuat sendi lutut dan pergelangan kaki.

Perhatikan porsi latihan. Aktivitas berdampak sangat tinggi, terutama di trampolin, berisiko mencederai lempeng pertumbuhan pada anak. Kombinasikan dengan olahraga berdampak rendah seperti renang untuk menyeimbangkan beban pada sendi.

Untuk anak dan remaja, latihan lompat umumnya cukup sekitar 20–30 menit per hari, tiga hingga lima kali seminggu. Sertakan pemanasan, teknik mendarat yang benar, variasi olahraga lain, pola makan seimbang, dan istirahat yang cukup.

Lebih dari Sekadar Tinggi: Manfaat dan Faktor Penentu

Sekalipun tidak lagi menambah tinggi setelah lempeng pertumbuhan menutup, lompatan tetap membawa banyak manfaat kebugaran. Latihan yang menguatkan otot inti dan punggung membantu memperbaiki postur sehingga seseorang bisa berdiri lebih tegak.

1. Memperbaiki Postur Tubuh

Lompatan dalam posisi tegak membantu menstabilkan tulang belakang. Postur yang lebih baik memberi kesan tubuh lebih jenjang.

2. Meningkatkan Kepadatan Tulang

Aktivitas berdampak tinggi terbukti meningkatkan kepadatan mineral tulang, penting untuk mencegah osteoporosis.

3. Membakar Kalori

Lompat tali efektif membakar kalori, mendukung komposisi tubuh yang lebih proporsional.

4. Menyehatkan Jantung

Gerakan melompat memacu detak jantung dan melatih stamina kardiovaskular.

5. Melatih Koordinasi

Latihan lompat tali secara rutin meningkatkan keseimbangan dan koordinasi antara otak, kaki, dan gerak tubuh.

6. Meningkatkan Kepercayaan Diri

Mencapai target latihan fisik yang menantang dapat mengangkat rasa percaya diri.

Tinggi badan tidak ditentukan oleh satu aktivitas saja. Berdasarkan laporan Vinmec, survei terhadap 500 pakar kedokteran olahraga menunjukkan 85 persen menyatakan latihan angkat beban tidak perlu dihindari, sehingga membantah mitos bahwa olahraga menghambat pertumbuhan.

Faktor penting lain yang perlu diperhatikan meliputi:

1. Genetik

Keturunan adalah prediktor tunggal terbesar tinggi badan; tinggi orang tua memberi petunjuk kuat bagi anak.

2. Nutrisi

Pola makan seimbang kaya kalsium dan vitamin D mendukung pertumbuhan dan kepadatan tulang.

3. Tidur Berkualitas

Tidur dalam dan cukup membantu produksi hormon pertumbuhan; anak dan remaja disarankan tidur 8–11 jam per malam.

4. Hormon

Hormon tiroid dan hormon pertumbuhan menjadi penggerak utama proses pertumbuhan.

5. Aktivitas Fisik Teratur

Gerak aktif memperkuat otot dan tulang serta dapat meningkatkan produksi hormon pertumbuhan.

6. Usia dan Jenis Kelamin

Laki-laki cenderung memiliki periode pertumbuhan lebih panjang, berkontribusi pada tinggi akhir yang umumnya lebih tinggi dibanding perempuan.

Rekomendasi