Israel memberikan bocoran intelijen untuk Amerika Serikat. Isinya rencana Iran yang diduga hendak membunuh Presiden AS, Donald Trump.
Informasi yang disampaikan tersebut dianggap memiliki tingkat ancaman yang lebih jelas dibandingkan dengan laporan intelijen yang ada sebelumnya.
Seperti yang dilaporkan oleh Channel News Asia pada hari Jumat (10/7/2026), berita ini pertama kali muncul dari CNN dan The Wall Street Journal pada hari Kamis waktu setempat. Dalam laporan tersebut, Israel memberikan peringatan terkait dugaan plot baru yang ditujukan kepada Trump.
Kedua media tersebut mengutip sumber yang mengetahui informasi itu eskipun identitasnya tidak diungkapkan. Berdasarkan informasi dari CNN, pemerintah Amerika Serikat telah lama memantau berbagai informasi mengenai potensi ancaman terhadap Trump. Namun, peringatan yang diberikan oleh Israel kali ini dianggap berbeda karena merujuk pada rencana yang lebih terperinci dan spesifik.
The Wall Street Journal juga menginformasikan, intelijen Israel membocorkan adanya dugaan plot baru yang mengincar pemimpin Amerika Serikat tersebut.
Selama bertahun-tahun, Iran diketahui telah menyatakan niatnya untuk membalas kematian Jenderal Qassem Soleimani, yang tewas akibat serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat atas perintah Trump pada Januari 2020, saat Trump menjabat sebagai presiden untuk pertama kalinya.
Menanggapi berita tersebut, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi. Seorang pejabat hanya merujuk pada pernyataan yang disampaikan oleh Trump kepada wartawan saat ia berada di dalam pesawat Air Force One, setelah menghadiri KTT NATO.
"Mereka ingin menyingkirkan pemimpin Amerika Serikat, yaitu saya. Saya ada di daftar mereka. Pagi ini saya melihat saya ada di setiap daftar mereka," ungkap Trump.
Advertisement
Ketegangan antara AS dan Iran semakin tinggi.
Laporan ini muncul di tengah situasi yang semakin tegang antara Amerika Serikat dan Iran, setelah kedua negara kembali terlibat dalam serangan yang menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya konflik yang lebih besar. Selain itu, perhatian publik juga tertuju pada keputusan Trump untuk menggunakan pesawat Air Force One yang lebih tua saat meninggalkan Turki setelah menghadiri KTT NATO.
Pesawat baru yang merupakan hadiah dari Qatar justru diterbangkan lebih awal ke Inggris sebelum akhirnya digunakan Trump untuk melanjutkan perjalanannya ke Washington. Pergantian pesawat ini menimbulkan berbagai spekulasi mengenai faktor keamanan, terutama mengingat adanya peningkatan ancaman terhadap keselamatan Trump.
“The New York Times melaporkan bahwa keputusan itu diambil atas permintaan Dinas Rahasia Amerika Serikat (Secret Service) sebagai langkah pencegahan keamanan.”
Saat ditanya mengenai alasan di balik pergantian pesawat tersebut, Trump tidak memberikan jawaban yang jelas. Namun, ia kembali menyebutkan tentang adanya dugaan ancaman pembunuhan terhadap dirinya yang diduga berkaitan dengan Iran.