IHSG Bergejolak, Anggota DPR: Bukan Cerminan Rapuhnya Fundamental Ekonomi Nasional
Menurut Marwan, tekanan pasar dipicu oleh respons investor terhadap pengumuman MSCI terkait transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia.
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, menilai gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merupakan koreksi jangka pendek berbasis sentimen, dan bukan cerminan lemahnya fundamental ekonomi nasional.
Menurut Marwan, tekanan pasar dipicu oleh respons investor terhadap pengumuman MSCI terkait transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia. Kebijakan MSCI berupa pembekuan sementara penyesuaian indeks dan penundaan rebalancing bersifat interim serta membuka ruang perbaikan tata kelola pasar.
"Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, melainkan memberikan peringatan untuk pembenahan," ujar Marwan dalam keterangannya, Jumat (30/1).
Marwan menegaskan indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terjaga, defisit transaksi berjalan terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap PDB tetap rendah.
Tidak Ada Guncangan Fundamental
"Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Karena itu, situasi saat ini harus dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya perekonomian,"tegasnya.
Marwan mengapresiasi langkah OJK dan BEI yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam peningkatan transparansi dan penguatan tata kelola. Ia juga mengimbau investor untuk menjaga perspektif jangka menengah dan panjang.
"Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel," pungkasnya.
IHSG Berpotensi Menguat
Pasar saham Indonesia anjlok tajam pada Kamis (29/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun hingga 10 persen dan sempat menyentuh level terendah harian di 7.481. Akibat kejatuhan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa melakukan pembekuan sementara perdagangan saham (trading halt) untuk meredam kepanikan pasar.
Ini menjadi trading halt kedua berturut-turut. Sehari sebelumnya, Rabu (28/1), BEI juga menghentikan sementara perdagangan setelah IHSG anjlok lebih dari 8 persen dan turun ke kisaran 7.600-an.
Melihat pergerakan IHSG yang terjadi, analisis teknikal dari Bloomberg menyebutkan bahwa IHSG mulai mendekati area support yang penting.
"Secara teknikal, IHSG berpotensi bangkit dari support--nya dari area level 7.770," tulis laporan Bloomberg. Jika indeks mampu bertahan dan stabil di atas level tersebut, peluang untuk rebound dianggap cukup besar. Target penguatan terdekat berada di level psikologis 8.000 yang juga berfungsi sebagai resistance awal. Jika momentum positif berlanjut, IHSG memiliki potensi untuk melanjutkan penguatan hingga mencapai area 8.400.