Respons Istana Soal IHSG Rontok 8 Persen: Kita Berdoa Bisa Reborn Lagi
Menkeu Purbaya menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu oleh reaksi pasar terhadap laporan awal Morgan Stanley Capital International.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi turut merespons soal rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar delapan persen. Dia berdoa agar IHSG kembali naik lagi.
"Kita berdoa bisa reborn lagi," kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1).
Saat ditanya apakah rontoknya IHSG akibat dampak Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Prasetyo enggan menjawab. Prasetyo hanya meminta bisa menanyakan itu kepada ahlinya.
"Secara teknis mungkin ditanyakan kepada yang lebih ahli," ujar Prasetyo.
Pengumuman MSCI
Pada Selasa (28/1), waktu Amerika Serikat (AS), MSCI mengumumkan rencana pembekuan sementara proses review indeks dan rebalancing indeks untuk saham-saham di Indonesia, dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review (termasuk indeks review Februari 2026).
Rencana pembekuan mencakup, di antaranya pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menjelaskan perlakuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi Otoritas Indonesia untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
Minta Masukan Pelaku Pasar
Sebelumnya, pada Oktober 2025, MSCI meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
Berdasarkan hasil konsultasi dengan pelaku pasar, MSCI menyebut para investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia masih dapat berlanjut akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
MSCI menyebut akan terus memantau perkembangan pasar Indonesia dan berinteraksi dengan pelaku pasar serta otoritas terkait, termasuk OJK dan BEI. MSCI akan mengomunikasikan langkah lanjutan jika diperlukan.
Data perdagangan pada sesi satu hari ini di BEI ditutup melemah 659 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.321. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 59,35 poin atau 6,77 persen ke posisi 816,78.