IHSG Anjlok, Menko Airlangga Hartarto Bakal Rapat dengan OJK Hari Ini
Bursa Efek Indonesia atau BEI perlu untuk melakukan evaluasi mengenai apa yang diminta oleh MSCI.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bakal menggelar rapat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8 persen pada perdagangan kemarin, Rabu (28/1).
Hal ini disampaikan berbarengan dengan pelantikan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) oleh Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1).
"IHSG nanti kami monitor dan akan dirapatkan mungkin dengan OJK dan yang lain, besok (Kamis) lah kita jadwalkan," kata Airlangga Rabu malam.
Selain itu, menurut mantan Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar) ini, Bursa Efek Indonesia atau BEI perlu untuk melakukan evaluasi mengenai apa yang diminta oleh MSCI.
"Pertama ada teknikal MSCI, kedua tentu dari BEI itu perlu untuk melakukan evaluasi. Evaluasi mengenai apa yang diminta MSCI," ujarnya.
Kemudian, saat disinggung terkait dengan transparansi. Airlangga menegaskan hal itu tentu menjadi persyaratan bagi penyelenggara pasar modal.
"Iya tentu kalau transparansi itu persyaratan bagi seluruh penyelenggara pasar modal, jadi itu bisa dilakukan improvement dengan mekanisme yang sudah banyak dipraktikkan banyak negara," tegasnya.
Investor Diminta Tidak Panik
Meski IHSG merosot, dia mengingatkan agar para investor tidak perlu panik. Bahkan Airlangga menyakini tidak atau belum ada investor asing yang kabur.
"Ya enggak perlu panik, kalau saham kan risikonya tiap hari ada yang naik, ada yang turun," katanya.
Pengumuman MSCI
Pada Selasa (28/1), waktu Amerika Serikat (AS), MSCI mengumumkan rencana pembekuan sementara proses review indeks dan rebalancing untuk saham-saham di Indonesia, dengan membekukan sejumlah perubahan terkait indeks review (termasuk indeks review Februari 2026).
Rencana pembekuan mencakup, di antaranya pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antar–indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menjelaskan perlakuan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability), sembari memberi waktu bagi Otoritas Indonesia untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
Minta Masukan Pelaku Pasar
Pada Oktober 2025, MSCI meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
Berdasarkan hasil konsultasi dengan pelaku pasar, MSCI menyebut para investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia masih dapat berlanjut akibat kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
MSCI menyebut akan terus memantau perkembangan pasar Indonesia dan berinteraksi dengan pelaku pasar serta otoritas terkait, termasuk OJK dan BEI. MSCI akan mengkomunikasikan langkah lanjutan jika diperlukan.
Data perdagangan pada sesi satu hari ini di BEI ditutup melemah 659 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.321. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 59,35 poin atau 6,77 persen ke posisi 816,78.