BMKG Catat Gelombang Kecil Tsunami Mulai Terdeteksi di Sulut dan Maluku, Ketinggiannya 18 Sentimeter
BMKG mendeteksi gelombang tsunami setinggi 9 hingga 18 sentimeter di Sulawesi Utara dan Maluku Utara pascagempa M7,7 di Laut Sulawesi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi gelombang tsunami dengan ketinggian antara 9 hingga 18 sentimeter telah terdeteksi di sejumlah titik pengamatan setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Laut Sulawesi pada Senin (8/6/2026) pagi.
Mengutip Antara, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan gelombang tsunami tersebut tercatat di tiga lokasi pemantauan, yakni Ulu Siau dan Melonguane di Sulawesi Utara, serta satu titik pengamatan di wilayah Maluku Utara.
Meski ketinggian gelombang yang terukur masih tergolong kecil, BMKG meminta masyarakat di kawasan pesisir yang terdampak untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Gelombang Tsunami Sudah Terdeteksi
BMKG mencatat anomali muka air laut mulai terpantau beberapa saat setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi di wilayah Laut Sulawesi.
Hasil pemantauan menunjukkan gelombang tsunami yang masuk ke wilayah pesisir memiliki ketinggian berkisar 9 hingga 18 sentimeter.
Menurut Nelly, temuan tersebut menjadi bagian dari proses pemantauan lanjutan yang terus dilakukan BMKG untuk memastikan perkembangan kondisi laut pascagempa.
"Kami meminta seluruh masyarakat untuk terus memantau atau mengikuti informasi yang diberikan oleh BMKG karena menurut pemodelan, ada beberapa wilayah yang dari sisi pemodelan akan siaga, tinggi tsunaminya berkisar antara Siaga dan juga Awas," ujarnya.
BMKG Terus Pantau Kondisi Laut
BMKG menjelaskan bahwa berdasarkan pemodelan yang telah dilakukan sebelumnya, sejumlah wilayah pesisir masih berpotensi mengalami kenaikan muka air laut dengan kategori Siaga hingga Awas.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan peringatan dini yang masih berlaku dan terus mengikuti informasi resmi yang diperbarui secara berkala.
Saat ini BMKG bersama sejumlah instansi terkait terus memantau kondisi laut melalui jaringan alat pengukur pasang surut (tide gauge) dan sensor pemantau tsunami yang tersebar di berbagai wilayah.
Pemantauan dilakukan secara waktu nyata untuk memastikan perkembangan kondisi pesisir di kawasan utara dan timur Indonesia setelah gempa tektonik magnitudo 7,7 yang terjadi pada pukul 06.37 WIB.
Gempa tersebut berpusat di wilayah Laut Sulawesi pada kedalaman 47 kilometer, sekitar barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, atau dekat sektor Mindanao, Filipina.
BMKG mengingatkan masyarakat agar hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi lembaga tersebut dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.