Perjalanan IHSG di Era Presiden Prabowo, dari Pecah Rekor Hingga Trading Halt
Peristiwa tersebut terjadi di tengah beragam sentimen, baik dari dalam negeri maupun faktor global, yang silih berganti memengaruhi pergerakan pasar.
Sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dimulai pada Oktober 2024, dinamika pasar saham domestik berjalan penuh gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya mencatatkan sejumlah capaian tertinggi sepanjang sejarah, tetapi juga beberapa kali mengalami tekanan tajam yang memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
Catatan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, dalam rentang Oktober 2024 hingga Januari 2026, aktivitas perdagangan IHSG setidaknya tiga kali dihentikan sementara atau trading halt.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah beragam sentimen, baik dari dalam negeri maupun faktor global, yang silih berganti memengaruhi pergerakan pasar.
Tekanan terbaru terjadi pada perdagangan Rabu (28/1). Setelah sepanjang 2025 berhasil membukukan 23 rekor tertinggi baru, laju IHSG justru tersandung pada awal 2026. Pelemahan tajam ini dipicu oleh pembekuan proses rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Rabu, 28 Januari 2026, telah dilakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 14:13:13 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen," kata Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dikutip dari laman BEI, Kamis (29/1).
BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
Diketahui, sebelumnya pada 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks.
MSCI menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko investability serta memberikan ruang bagi otoritas pasar Indonesia dalam melakukan penguatan pada sejumlah aspek yang dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.
Kondisi Trading Halt Sebelumnya
Gejolak tajam di pasar saham sebenarnya bukan hal baru bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Selasa, 8 April 2025 pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), BEI telah melakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt).
Pada pebukaan perdagangan Selasa (8/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 9,19% ke level 5.912,06 usai libur panjang Lebaran Idulfitri 1446 H.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan, perdagangan dilanjutkan pada pukul 09:30:00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8%.
Tekanan tersebut tidak lepas dari sentimen global. Empat hari sebelum kejadian, Amerika Serikat mengumumkan kebijakan tarif impor baru. Seluruh negara dikenakan tarif dasar sebesar 10 persen, sementara sejumlah negara tertentu dibebani tarif resiprokal yang lebih tinggi sesuai hambatan dagang dengan AS.
Dampak kebijakan itu langsung mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia, hingga BEI memutuskan melakukan trading halt pada pukul 09.00–09.30 WIB.
Trading Halt Lainnya
Kondisi serupa juga sempat terjadi sebulan sebelumnya. Pada Maret 2025, IHSG kembali mengalami penurunan tajam. Pada perdagangan BEI sesi pertama Selasa, 18 Maret 2025, indeks anjlok 395,87 poin atau 6,12 persen ke posisi 6.076,08.
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan lebih dari 14 persen dibandingkan level penutupan akhir 2024 yang berada di 7.079,9. Penurunan drastis itu membuat BEI kembali mengaktifkan mekanisme penghentian perdagangan sementara.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa sistem perdagangan Bursa dihentikan sementara pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) seiring dengan penurunan IHSG yang melampaui batas ketentuan.