Mencari Penyebab Anjloknya IHSG, Terparah Sejak 2011
Investor global kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana.
Pada Selasa, 18 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam hingga 5,02% ke level 6.146, memicu penghentian sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 11:19:31 WIB. Penghentian ini diambil untuk mencegah kepanikan lebih lanjut di pasar.
Hendra Wardana, analis pasar modal dan Founder Stocknow.id, menjelaskan bahwa penurunan IHSG ini dipengaruhi oleh faktor internal, termasuk spekulasi mengenai mundurnya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. "Ada rumor yang beredar mengenai pengunduran diri Sri Mulyani," kata Hendra saat dikonfirmasi merdeka.com di Jakarta, Selasa (18/3).
Selain itu, defisit anggaran negara yang mencapai Rp31,2 triliun per Februari 2025 dan pembayaran bunga utang sebesar Rp79,3 triliun pada dua bulan pertama 2025 semakin menambah tekanan. Investor khawatir bahwa kenaikan beban utang ini dapat menghambat belanja produktif pemerintah, yang pada gilirannya dapat menghambat perekonomian domestik.
Aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing juga turut memberi dampak negatif terhadap IHSG. Sejak awal 2025, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp26,04 triliun, dengan Rp1,77 triliun di antaranya terjadi dalam seminggu terakhir.
"Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia sedang menurun," ungkap Hendra.
Di sisi eksternal, ketidakpastian ekonomi global juga memberikan dampak pada pasar saham Indonesia. Kebijakan The Fed mengenai suku bunga menjadi faktor utama yang mempengaruhi sentimen pasar. Jika inflasi AS masih tinggi, pemangkasan suku bunga dapat tertunda, menjadikan aset berisiko seperti saham kurang menarik bagi investor.
Selain itu, pasar saham AS kehilangan nilai hingga USD5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, yang menambah tekanan pada pasar Asia, termasuk Indonesia. Investor global kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana, menyebabkan aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, terhambat.
Meski demikian, Hendra melihat peluang pemulihan IHSG jika faktor-faktor utama membaik, seperti stabilitas kebijakan ekonomi pemerintah, kepastian arah suku bunga global, serta masuknya kembali dana asing ke pasar saham Indonesia.
"Namun, saat ini pasar masih berada dalam fase penyesuaian dan menunggu kepastian lebih lanjut terkait kondisi makroekonomi," tutup Hendra.
Sebelumnya, BEI mengumumkan penghentian sementara perdagangan pada pukul 11:19 WIB, Selasa (18/3), setelah IHSG mengalami penurunan lebih dari 5%. Menurut Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, langkah ini sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 mengenai penanganan perdagangan dalam kondisi darurat. Perdagangan akan dilanjutkan pada pukul 11:49:31 WIB tanpa perubahan jadwal.