Kisah Gatot Nurmantyo Kenang Ryamizard Ryacudu saat Penanganan Bencana Tsunami Aceh
Hubungan keduanya bahkan sangat dekat, termasuk dalam urusan personal di luar kedinasan militer.
Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo membagikan kisah mendalam mengenai sosok mantan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Hal ini disampaikan Gatot saat melayat ke rumah duka di kawasan Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Minggu (31/5) malam.
Saat itu, Gatot mengenang masa-masa awal ia mengenal nama Ryamizard saat dirinya masih berpangkat Kapten di Baturaja. Hubungan keduanya bahkan sangat dekat, termasuk dalam urusan personal di luar kedinasan militer.
"Ryamizard ini saya waktu kapten baru dengar namanya saja, ketika saya di Baturaja, kalau mau lebaran saya telepon beliau 'kau ambil sendiri saja' di perbatasan antara Baturaja dengan Provinsi Lampung itu, itu ada kebun yang besar. Jadi sapinya beliau itu dilepasin aja dari bapaknya dulu itu, tuh," kata Gatot kepada wartawan.
"Nah, kemudian eh saya kenal, tahu beliau adalah beliau orang yang ya saya dapat katakan, maaf nih, agak-agak miring gitu loh kalau di lapangan itu ya. Enggak ada takutnya gitu (hehe). Dan beberapa kali saya dipakai beliau," sambungnya.
Terobosan Mustahil Saat Tsunami Aceh
Kenangan paling membekas bagi Gatot adalah saat penanganan bencana tsunami di Aceh, di mana Ryamizard mengambil keputusan yang dianggap tidak masuk akal.
Ryamizard dengan berani menentukan sasaran Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) untuk membangun jalur transportasi darat yang saat itu terputus total.
"Kemudian yang lama adalah waktu tsunami. Tsunami yang saya katakan agak-agak bagaimana itu karena, beliaulah yang menentukan di TMMD membuat jalan dari Banda Aceh, Lamno, Calang, sampai ke Teunom. Jadi Banda Aceh sampai ke Teunom itu, dan ini suatu hal yang tidak mungkin," ungkapnya.
"Suatu hal yang tidak mungkin. Karena dari Banda Aceh ke Lamno bisa, Lamno ke Calang enggak bisa karena putus-protes semuanya. Apalagi Calang ke eh Teunom, daerah Meulaboh, itu enggak mungkin, enggak bisa," tambahnya.
Meskipun dinilai mustahil oleh banyak pihak karena kondisi geografis pascabencana yang hancur total, proyek tersebut akhirnya tetap berjalan. Melalui kompromi dan strategi yang tepat, target pembangunan infrastruktur krusial tersebut berhasil diselesaikan tepat waktu.
"Tetapi beliau minta harus dilakukan, dan akhirnya diambil jalan tengah dengan Pak Endriartono Sutarto sasaran tambahan. Tapi akhirnya itu sampai dengan batas waktu yang ditentukan rencana-rencana tanggap darurat, itu tembus dari Banda Aceh sampai ke Teunom," paparnya.
"Sehingga saya katakan beliau itu yang saya katakan enggak masuk akal karena pikiran saya enggak sampai, kan gitu. Jadi beliau mempunyai visi yang benar-benar bisa dibuktikan. Itulah yang terjadi. Jadi bisa dilihat di sejarahnya," sambungnya.
Warisan Satuan Elite TNI AD
Selain aksi heroik di daerah bencana, Gatot juga membeberkan peran besar Ryamizard dalam memperkuat struktur dan profesionalisme satuan tempur di TNI Angkatan Darat.
Salah satu prestasi monumental yang diwariskan adalah pembentukan satuan Pengintai Tempur (Taipur) yang dikenal memiliki rekam jejak luar biasa.
"Nah kemudian eh, kalau dalam pembentukan, beliaulah yang membentuk satuan yang sampai saat ini tidak pernah ada korban gugur di daerah operasi dan selalu berhasil. Yaitu dengan dilahirkan Taipur. Itu sampai dengan saat ini, itu satuan yang tidak pernah ada yang gugur di daerah operasi dan selalu berhasil. Itu kenang-kenangan," kenangnya.
Tidak hanya Taipur, tangan dingin Ryamizard juga menjadi aktor utama di balik modernisasi dan pembentukan satuan pemukul cepat milik TNI Angkatan Darat lainnya. Kehadiran satuan-satuan ini dinilai berhasil mengubah wajah Angkatan Darat menjadi kekuatan yang jauh lebih tangguh.
"Kemudian ya pembentuk Batalyon Raiders. Beliau juga yang bentuk Batalyon Raiders, seluruh Batalyon Raiders itu beliau juga yang bentuk. Jadi, kiprah beliau untuk menjadi Angkatan Darat yang profesional, disegani, itu adalah tangan-tangan beliau yang membuat. Yang mudah-mudahan ini bisa dilanjutkan dengan yang lainnya. Itu kenangan saya," jelasnya.
Posisi Gatot Saat Masa Tanggap Darurat
Ketika ditanya mengenai posisi dan jabatan strukturalnya pada saat momentum krusial penanganan tsunami Aceh tersebut, Gatot menjelaskan posisinya yang berada di bawah komando pimpinan TNI.
"Saya waktu itu Asops Kodam Jaya. Saya diminta untuk membantu Pak Djoko Santoso di sana sebagai Waka KSAD. Ya, di sana selama tanggap darurat sampai selesai saya di sana, saya staf khususnya Pak Alwi Shihab waktu itu," katanya.