Karir Moncer Sutiyoso, Bukan Orang Sembarangan di Kopassus yang ‘Dihina’ Hercules
Sutiyoso, mantan Panglima Kodam Jaya, memiliki karir militer yang cemerlang dan berlanjut ke dunia politik.
Ketua Umum Grib Hercules Rosario de Marshall secara terbuka 'menghina' Sutiyoso. Hercules menyebut mantan Gubernur DKI Jakarta itu dengan sebutan 'mulut bau tanah'.
"Mulutnya sudah bau tanah berdoa meminta Allah mau dipanggil sama Allah," sentilnya karena Sutiyoso menyinggung masalah ormas.
Padahal, Sutiyoso bukan orang sembarang. Ia Purnawirawan TNI dari Kopassus. Salah satu tokoh militer yang cukup disegani.
Dikutip dari berbagai sumber, Sutiyoso merupakan lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) pada tahun 1968.
Sejak saat itu, Sutiyoso bergabung dengan Kopassus, di mana ia meniti karir dari berbagai posisi penting yang membawanya ke puncak kepemimpinan di TNI AD.
Selama bertugas di Kopassus, Sutiyoso menjabat sebagai Wakil Komandan Grup 3 Kopassus tahun 1986-1987, Asisten Personil Danjen Kopassu tahun 1987-1989, Asisten Operasi Danjen Kopassus tahun 1989-1991, Asisten Operasi Kaskostrad 1991-1992, Wadanjen Kopassus tahun 1992-1993, Danrem 061/Surya Kencana tahun 1993-1994, Kepala Staf Kodam Jaya tahun 1994-1996, Panglima Kodam Jaya 1996-1997.
Pengalamannya yang luas di unit elit ini mempersiapkannya untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar di kemudian hari. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Grup 3 Kopassus, posisi yang menuntut kepemimpinan dan kemampuan strategis yang tinggi.
Karir militer Sutiyoso terus bersinar, terutama saat ia menjabat sebagai Danrem 061/Surya Kencana dan kemudian sebagai Kepala Staf Kodam Jaya. Pada tahun 1996, ia mencapai puncak karirnya sebagai Panglima Kodam Jaya.
Saat menjabat sebagai Kepala Staf Kodam Jaya pada tahun 1994, Sutiyoso terpilih sebagai komandan resimen terbaik se-Indonesia, sebuah prestasi yang menegaskan kualitas kepemimpinannya.
Prestasi dan Kepemimpinan di Kodam Jaya
Selama masa jabatannya di Kodam Jaya, Sutiyoso dikenal luas berkat program-program inovatif yang ia luncurkan, salah satunya adalah 'Coffee Morning'. Program ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara TNI dan masyarakat, serta menciptakan komunikasi yang lebih baik antara aparat militer dan sipil. Inisiatif ini menunjukkan dedikasinya untuk membangun citra positif TNI di mata publik.
Pengalaman Sutiyoso di medan operasi, termasuk Operasi Seroja dan penumpasan pemberontakan di Aceh, turut membentuk karakter dan kepemimpinannya. Keberaniannya dalam menghadapi tantangan dan kemampuannya dalam merumuskan strategi yang efektif membuatnya dihormati di kalangan rekan-rekannya. Ia dikenal sebagai sosok yang tegas namun tetap humanis, sebuah kombinasi yang langka dalam dunia militer.
Karir Sutiyoso di dunia militer berakhir pada tahun 1997 setelah menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya. Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti di situ. Setelah purnatugas, ia beralih ke dunia politik dan pemerintahan, di mana ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta selama dua periode dari tahun 1997 hingga 2007. Di bawah kepemimpinannya, Jakarta mengalami berbagai perubahan signifikan dalam infrastruktur dan pelayanan publik.
Peralihan ke Dunia Politik
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Gubernur, Sutiyoso melanjutkan karirnya di dunia intelijen dengan menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) pada tahun 2015 hingga 2016. Pengalamannya di militer memberikan perspektif yang berharga dalam menjalankan tugasnya di lembaga intelijen, di mana ia harus menghadapi berbagai tantangan keamanan nasional.
Sutiyoso lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 6 Desember 1944. Sejak awal karirnya di TNI, ia telah menunjukkan dedikasi dan komitmen yang tinggi terhadap negara. Pangkat terakhirnya sebagai Letnan Jenderal atau jenderal bintang tiga adalah bukti dari perjalanan panjangnya yang penuh prestasi.