IHSG Melemah Ikuti Bursa Asia dan Global di Tengah Sentimen Ekonomi Nasional
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada Jumat, 13 Februari 2026, mengikuti tren negatif bursa regional dan global, di tengah antisipasi sarasehan ekonomi oleh Presiden Prabowo Subianto dan data inflasi AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 13 Februari 2026, bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia dan global. Pelemahan ini menandai respons pasar terhadap berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor tampak mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan domestik yang akan datang.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 25,34 poin atau 0,31 persen, menempatkan posisinya di level 8.240,01. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 3,18 poin atau 0,38 persen, mencapai posisi 836,22. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup signifikan di pasar modal Indonesia.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memprediksi bahwa IHSG akan cenderung bergerak melemah lebih lanjut. Ia memperkirakan indeks akan menguji level 8.150-8.200 sepanjang perdagangan Jumat, menjelang libur panjang akhir pekan. Proyeksi ini mengindikasikan kehati-hatian investor dalam menghadapi volatilitas pasar.
Kondisi IHSG dan Proyeksi Pasar
Pelemahan IHSG pada Jumat ini sejalan dengan tren negatif yang melanda bursa-bursa utama di kawasan Asia. Sentimen global turut memberikan tekanan signifikan terhadap kinerja pasar saham domestik. Investor perlu mencermati pergerakan indeks secara seksama dalam beberapa waktu ke depan.
Indeks LQ45, yang merepresentasikan saham-saham unggulan dengan kapitalisasi pasar besar, juga tidak luput dari koreksi. Penurunan pada LQ45 seringkali menjadi indikator sentimen pasar secara keseluruhan. Kondisi ini menuntut strategi investasi yang lebih cermat dari para pelaku pasar.
Menurut analisis Ratna Lim, pasar sedang berada dalam fase pengujian level support penting. Jika level 8.150-8.200 tidak mampu bertahan, potensi penurunan lebih lanjut bisa terjadi. Hal ini menjadi perhatian utama bagi investor yang berencana melakukan transaksi menjelang libur panjang.
Respons Pemerintah dan Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan menyelenggarakan sarasehan ekonomi. Pertemuan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan komprehensif mengenai kondisi perekonomian nasional. Diharapkan, sarasehan ini dapat menenangkan pasar dan memberikan kejelasan arah kebijakan ekonomi.
Pemerintah berharap sarasehan tersebut dapat menjawab keresahan terkait keputusan Moody's Ratings. Lembaga pemeringkat kredit tersebut sebelumnya menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Penjelasan pemerintah diharapkan dapat meredakan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Langkah proaktif pemerintah ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan investor. Transparansi dan komunikasi yang baik mengenai kondisi nasional sangat dibutuhkan. Hal ini penting untuk memitigasi dampak negatif dari sentimen eksternal dan keputusan lembaga pemeringkat.
Pengaruh Data Global dan Bursa Internasional
Di kancah internasional, pelaku pasar global akan mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) bulan Januari 2026. Konsensus memperkirakan inflasi mencapai 2,5 persen year on year (yoy), melambat dari 2,7 persen (yoy) pada Desember 2025. Data ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ratna Lim menyoroti bahwa data inflasi AS ini sangat penting, terutama setelah data nonfarm payrolls AS menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan. Angka inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memicu kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve, yang dapat berdampak negatif pada pasar global.
Bursa saham Eropa pada perdagangan Kamis (12/2) mayoritas ditutup melemah, diantaranya indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,27 persen, indeks FTSE 100 Inggris turun 0,67 persen, dan indeks DAX Jerman turun 0,01 persen. Hanya indeks CAC Prancis yang berhasil menguat 0,33 persen. Tren negatif ini berlanjut ke bursa AS.
Wall Street juga ditutup kompak melemah pada perdagangan Kamis (13/2). Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 1,24 persen, indeks S&P 500 melemah 1,57 persen, dan indeks Nasdaq Composite melemah 2,04 persen. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bursa saham regional Asia pada pagi hari Jumat juga menunjukkan pelemahan signifikan. Indeks Nikkei melemah 413,19 poin atau 0,72 persen ke 27.226,60, indeks Hang Seng melemah 397,84 poin atau 1,47 persen ke 26.634,68, indeks Shanghai melemah 13,76 poin atau 0,33 persen ke 4.120,25, serta indeks Strait Times melemah 57,14 poin atau 1,14 persen ke 4.959,60. Kondisi ini menegaskan bahwa IHSG melemah mengikuti sentimen pasar global yang dominan.
Sumber: AntaraNews