IHSG Melemah Jelang Libur Imlek, Aksi Profit Taking dan Sentimen Global Jadi Pemicu
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Jumat sore, 13 Februari 2026, di tengah aksi profit taking jelang libur Imlek dan sentimen global yang menekan pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore, 13 Februari 2026, ditutup melemah. Pelemahan ini terjadi seiring aksi ambil untung atau profit taking yang dilakukan pelaku pasar menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam menghadapi periode libur.
IHSG tercatat melemah 53,08 poin atau 0,64 persen, sehingga berada di posisi 8.212,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mengalami penurunan, yakni sebesar 9,73 poin atau 1,16 persen, ke posisi 829,67. Tekanan jual yang dominan ini menandai akhir pekan perdagangan yang kurang menggembirakan bagi pasar modal domestik.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG tidak hanya disebabkan oleh tekanan eksternal, tetapi juga oleh antisipasi libur panjang Imlek. Nico menambahkan bahwa potensi aksi profit taking menjadi faktor utama yang mendorong penurunan ini, membuat pelaku pasar cenderung mengambil posisi defensif.
Faktor Pemicu Pelemahan IHSG Jelang Imlek
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, dipicu oleh beberapa faktor signifikan. Salah satunya adalah aksi profit taking yang marak dilakukan investor menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek. Kondisi ini lumrah terjadi saat investor ingin mengamankan keuntungan sebelum pasar tutup.
Selain faktor domestik, tekanan eksternal juga turut membebani pergerakan IHSG. Bursa kawasan Asia bergerak melemah sejalan dengan penurunan bursa Wall Street Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran mengenai dampak Artificial Intelligence (AI) pada sektor-sektor tertentu juga menjadi sentimen negatif yang memengaruhi pasar saham global.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan pekan depan. Perhatian juga tertuju pada independensi BI pasca pelantikan Deputi Gubernur baru pada pekan lalu. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk mengambil posisi yang lebih defensif.
Sentimen Global dan Data Inflasi AS Menjadi Sorotan
Sentimen dari mancanegara memiliki peran penting dalam memengaruhi pergerakan pasar saham global, termasuk IHSG. Pelaku pasar global saat ini fokus menanti rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada hari ini waktu setempat. Data ini sangat krusial untuk membentuk ekspektasi terhadap langkah kebijakan The Fed selanjutnya.
Pelaku pasar memprediksi inflasi AS akan melambat menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,7 persen, dan inflasi inti melambat menjadi 2,5 persen dari 2,6 persen. Jika prediksi ini terwujud, hal tersebut dapat memberikan sinyal positif bagi pasar. Namun, data pekerjaan Januari 2026 yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya telah mengubah ekspektasi penurunan suku bunga pertama The Fed menjadi Juli, bukan Juni 2026.
Maximilianus Nico Demus menyatakan bahwa selama inflasi tetap terkendali, The Fed kemungkinan akan terus mendukung pasar tenaga kerja dengan kebijakan yang lebih longgar. Ini memungkinkan ekonomi untuk berkembang tanpa memicu kembali tekanan harga, terutama karena pertumbuhan pasokan melebihi permintaan. Pernyataan ini memberikan perspektif mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.
Pergerakan Sektor dan Saham di Tengah Pelemahan IHSG
Meskipun IHSG secara keseluruhan melemah, beberapa sektor menunjukkan kinerja yang positif. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor berhasil menguat pada penutupan perdagangan. Sektor transportasi & logistik memimpin penguatan sebesar 1,52 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing naik 1,41 persen dan 1,05 persen.
Di sisi lain, tujuh sektor mengalami penurunan, dengan sektor infrastruktur mencatat pelemahan terdalam sebesar 1,21 persen. Sektor barang baku dan sektor kesehatan juga turut melemah masing-masing 0,91 persen dan 0,87 persen. Ini menunjukkan adanya rotasi sektoral atau seleksi ketat dari investor di tengah kondisi pasar yang bergejolak.
Saham-saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain BELL, INDS, BAIK, DAAZ, dan PSKT. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar meliputi HILL, LAPD, GRPM, SPRE, dan PIPA. Total frekuensi perdagangan mencapai 2.857.381 kali transaksi dengan 49,40 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp24,41 triliun. Sebanyak 267 saham naik, 408 saham menurun, dan 148 saham tidak bergerak nilainya.
Pergerakan bursa regional Asia pada sore hari juga menunjukkan tren pelemahan:
- Indeks Nikkei melemah 697,80 poin atau 1,21 persen ke 56.942,00.
- Indeks Shanghai melemah 51,94 poin atau 1,26 persen ke 4.082,07.
- Indeks Hang Seng melemah 465,41 poin atau 1,72 persen ke 26.567,11.
- Indeks Strait Times melemah 78,97 poin atau 1,57 persen ke 4.937,77.
Sumber: AntaraNews