IHSG Berpotensi Melemah Jelang Akhir Pekan, Ini Pemicunya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpotensi melemah jelang akhir pekan ini. Simak analisis lengkap pemicu koreksi dan sentimen pasar global yang mempengaruhi IHSG.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 23 Januari 2026, diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan. Proyeksi ini muncul seiring dengan adanya aksi jenuh beli yang dilakukan oleh para pelaku pasar, terutama setelah indeks sempat menyentuh level tertingginya. Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi koreksi teknikal di pasar saham domestik.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG telah menunjukkan pelemahan signifikan sebesar 97,47 poin atau 1,08 persen, berada di posisi 8.894,70. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga mencatatkan penurunan sebesar 8,52 poin atau 0,97 persen, menempatkannya pada posisi 866,58. Pelemahan ini menjadi sinyal awal bagi investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, menyatakan bahwa IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dengan menguji level support di kisaran 8.850-8.950. Analisis ini memberikan gambaran mengenai batas bawah pergerakan IHSG yang perlu dicermati oleh para investor. Pergerakan pasar akan sangat dipengaruhi oleh sentimen domestik maupun global.
Analisis Teknikal dan Level Support IHSG
Pelemahan IHSG yang terjadi pada awal perdagangan Jumat ini menunjukkan adanya tekanan jual setelah mencapai titik tertinggi sebelumnya. Fenomena overbought atau jenuh beli seringkali menjadi pemicu koreksi harga saham. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk merealisasikan keuntungan, sehingga menyebabkan indeks bergerak turun.
Menurut Ratna Lim dari Phintraco Sekuritas, level support 8.850-8.950 akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan IHSG selanjutnya. Apabila level ini berhasil dipertahankan, ada kemungkinan IHSG akan menemukan pijakan untuk kembali menguat. Namun, jika level tersebut ditembus, potensi pelemahan lebih lanjut dapat terjadi, sehingga investor perlu mempersiapkan strategi mitigasi risiko.
Pergerakan indeks saham tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknikal, tetapi juga sentimen pasar yang berkembang. Kombinasi antara analisis teknikal dan fundamental menjadi penting untuk memprediksi arah pasar secara lebih akurat. Investor disarankan untuk memantau indikator teknikal lainnya serta berita-berita ekonomi terbaru.
Sentimen Global: Geopolitik dan Kebijakan Moneter
Dari kancah internasional, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa dilaporkan mereda. Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan memberlakukan tarif terhadap Eropa, serta mengklaim telah mencapai kesepakatan kerangka kerja mengenai Greenland. Meskipun detail kerangka kerja tersebut belum diungkapkan, berita ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar global.
Pelaku pasar juga menyoroti pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS The Fed yang akan datang pada pekan depan. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya tetap di kisaran 3,50-3,75 persen. Keputusan ini akan sangat dinantikan karena dapat memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap pasar keuangan global.
Selain itu, dari kawasan Asia, pelaku pasar mencermati data inflasi Jepang bulan Desember 2025 yang diperkirakan melambat ke level 2,7 persen year on year (yoy) dari 2,9 persen (yoy) pada November 2025. Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen. Stabilitas suku bunga di Jepang dapat memberikan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi regional.
Pergerakan Pasar Asia dan Domestik
Bursa saham regional Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada pagi ini. Indeks Nikkei menguat 182,40 poin atau 0,34 persen ke 53.871,30, dan indeks Shanghai menguat 6,02 poin atau 0,15 persen ke 4.128,60. Namun, indeks Hang Seng melemah 111,38 poin atau 0,34 persen ke 26.871,30, sementara indeks Strait Times menguat 50,66 poin atau 1,05 persen ke 4.878,97. Pergerakan yang beragam ini mencerminkan adanya sentimen yang berbeda di masing-masing pasar Asia.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data uang beredar dalam arti luas (M2 Money Supply) untuk bulan Desember 2025. Data ini penting untuk mengukur likuiditas perekonomian dan dapat memberikan gambaran mengenai potensi inflasi serta pertumbuhan ekonomi. Rilis data ini akan menjadi salah satu faktor penentu pergerakan pasar domestik di tengah sentimen global yang dinamis.
Kinerja bursa Eropa dan AS pada perdagangan sebelumnya menunjukkan penguatan yang kompak. Bursa Eropa ditutup menguat, dengan Euro Stoxx 50 naik 1,22 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,12 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,20 persen, dan indeks CAC Prancis menguat 0,99 persen. Sementara itu, bursa AS di Wall Street juga kompak menguat, dengan indeks Dow Jones naik 0,63 persen ke 49.384,01, indeks S&P 500 menguat 0,55 persen ke 6.913,35, serta Nasdaq menguat 0,76 persen ke 25.518,35. Penguatan di pasar global ini dapat memberikan dorongan positif, namun IHSG masih menghadapi tekanan dari faktor domestik.
Sumber: AntaraNews