Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tajam pada Jumat sore, 13 Maret 2026, mengikuti tren pelemahan bursa saham di kawasan Asia. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi inflasi energi di tingkat global yang semakin meningkat. IHSG anjlok 224,91 poin atau 3,05 persen, berakhir di posisi 7.137,20.
Pelemahan signifikan ini tidak hanya terjadi pada IHSG secara keseluruhan, tetapi juga pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45. Indeks LQ45 turut merosot 22,86 poin atau 3,04 persen, menempatkannya pada posisi 728,83. Kondisi pasar yang bergerak negatif ini mencerminkan respons investor terhadap berbagai sentimen eksternal.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa investor khawatir konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan berkepanjangan. Situasi ini berpotensi menjaga harga minyak mentah tetap tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan inflasi dan melebarkan defisit APBN.
Advertisement
Advertisement
Tekanan Inflasi Energi Global dan Konflik Geopolitik
Kekhawatiran utama yang membebani pasar adalah potensi inflasi energi yang dipicu oleh konflik geopolitik. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan mempertahankan harga minyak mentah pada level tinggi. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level 95,77 dolar AS per barel, sementara jenis Brent mencapai 101,02 dolar AS per barel pada pukul 17.00 WIB hari ini.
Untuk menstabilkan harga minyak mentah, AS sementara waktu mengizinkan pembelian minyak mentah Rusia yang sudah berada di perairan. Diperkirakan sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia sedang dalam perjalanan di laut di 30 lokasi berbeda per 12 Maret 2026. Jumlah ini cukup untuk pasokan sekitar lima hingga enam hari, menunjukkan upaya untuk meredakan gejolak pasar energi.
Namun, dampak jangka panjang dari konflik dan upaya stabilisasi ini masih menjadi perhatian utama investor. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu inflasi di berbagai sektor. Kondisi ini berpotensi menggerus daya beli dan menekan pertumbuhan ekonomi global.
Advertisement
Advertisement
Investigasi Perdagangan AS Menambah Sentimen Negatif
Selain kekhawatiran energi, sentimen negatif pasar juga diperparah oleh langkah Amerika Serikat yang meluncurkan investigasi perdagangan baru. Investigasi ini menargetkan 60 negara untuk menentukan apakah mereka gagal membatasi impor barang yang diproduksi dengan kerja paksa. Pasal 301 AS mengizinkan pemerintah untuk mengenakan tarif pada negara-negara yang terbukti melakukan praktik perdagangan tidak adil tanpa otorisasi Kongres.
Penyelidikan ini menyusul investigasi sebelumnya yang dirilis pada Rabu, 11 Maret 2026. Investigasi tersebut menargetkan kelebihan kapasitas industri di 16 negara, termasuk China, Australia, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, dan Thailand. Langkah-langkah proteksionisme perdagangan dari AS ini menimbulkan ketidakpastian bagi prospek perdagangan global.
Dampak dari investigasi perdagangan ini dapat memengaruhi rantai pasok global dan ekspor negara-negara yang terlibat. Bagi Indonesia, sebagai salah satu negara yang disebut dalam investigasi kelebihan kapasitas industri, hal ini berpotensi menimbulkan tantangan baru bagi sektor ekspor. Ketidakpastian kebijakan perdagangan global semakin menambah tekanan pada pasar keuangan.
Advertisement
Advertisement
Respons Domestik dan Kinerja Sektoral IHSG
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa opsi pemerintah untuk melebarkan batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di atas 3 persen masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah terus menghitung dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN. Apabila pelebaran defisit benar-benar ditempuh, pemerintah akan memperhitungkan konsekuensi fiskalnya secara cermat.
Kinerja IHSG pada Jumat, 13 Maret 2026, menunjukkan pelemahan yang konsisten sepanjang hari. Dibuka melemah, IHSG bertahan di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham, dan terus berada di zona merah hingga penutupan sesi kedua. Ini mencerminkan kuatnya tekanan jual di pasar.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor mengalami penurunan. Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam, minus 3,88 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dengan 3,84 persen, dan sektor barang konsumen non primer yang turun 3,55 persen. Frekuensi perdagangan saham mencapai 1.606.804 kali transaksi, dengan 28,69 miliar lembar saham senilai Rp14,04 triliun diperdagangkan. Sebanyak 104 saham naik, 629 saham menurun, dan 86 saham tidak bergerak nilainya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews