Perjalanan Inspiratif Ayla Dva Khala Ahisma: Dari Sleman Menuju Premiere Ligue Prancis

Simak kisah inspiratif Ayla Dva Khala Ahisma, pesepak bola muda yang berani meninggalkan keluarga demi mengejar impian bermain di Premiere Ligue Prancis. Perjuangannya penuh tantangan!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perjalanan Inspiratif Ayla Dva Khala Ahisma: Dari Sleman Menuju Premiere Ligue Prancis
Simak kisah inspiratif Ayla Dva Khala Ahisma, pesepak bola muda yang berani meninggalkan keluarga demi mengejar impian bermain di Premiere Ligue Prancis. Perjuangannya penuh tantangan! (AntaraNews)

Kudus, 11 Juli 2026 – Tekad kuat pesepak bola muda Cipta Cendikia Football Academy (FA), Ayla Dva Khala Ahisma, menjadi sorotan. Pemain kelahiran Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22 Juni 2012 ini, menunjukkan bahwa mimpi besar memerlukan pengorbanan yang tidak mudah. Di usianya yang masih sangat belia, Ayla telah berani merantau jauh dari orang tuanya demi mengejar cita-cita menjadi pesepak bola profesional.

Kini, Ayla tengah berlaga di ajang Hydroplus Soccer League (HSL) All-Stars 2025/2026 yang diselenggarakan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Turnamen ini menjadi panggung penting bagi para pemain putri terbaik dari berbagai daerah untuk menunjukkan kualitas. Ajang ini juga membuka peluang menembus jenjang yang lebih tinggi, termasuk dalam pemantauan tim nasional sepak bola kelompok umur Indonesia.

Bagi Ayla Dva Khala Ahisma, tampil di Kudus bukan sekadar mengikuti sebuah turnamen biasa. Setiap pertandingan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa perjuangan meninggalkan kampung halaman, hidup mandiri, dan bangkit dari cedera serius tidaklah sia-sia. Semua pengorbanan ini dijalani dengan satu tujuan, yaitu terus berkembang sebagai pemain dan mendekatkan diri pada impian terbesarnya sejak kecil.

Perjalanan Penuh Pengorbanan Sejak Dini

Kecintaan Ayla Dva Khala Ahisma terhadap sepak bola telah tumbuh sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak. Namun, langkah seriusnya baru dimulai ketika bergabung dengan sekolah sepak bola (SSB) saat kelas lima sekolah dasar. Sejak saat itu, sepak bola bukan lagi sekadar permainan, melainkan jalan hidup yang ingin ia tekuni sepenuhnya.

Keputusan meninggalkan keluarga di usia muda menjadi tantangan terbesar dalam perjalanan Ayla. Setelah berlatih di SSB Matra, Sleman, ia harus beradaptasi dengan kehidupan jauh dari rumah. Pengalaman ini mengajarkannya untuk hidup lebih mandiri sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya sebagai seorang atlet.

Saat ini, Ayla menempuh pendidikan kelas delapan di SMP Cipta Cendikia, Bogor, Jawa Barat. Bersamaan dengan pendidikannya, ia juga memperkuat Cipta Cendikia FA sebagai tempat mengasah kemampuan di lapangan hijau. Perpindahan dari Yogyakarta ke Bogor tidak hanya menghadirkan tantangan akademik, tetapi juga menuntutnya menjaga konsistensi latihan dan performa. Rutinitas sebagai pelajar sekaligus atlet membuat Ayla harus pandai membagi waktu agar keduanya berjalan seimbang.

Di balik perjuangannya, dukungan keluarga menjadi sumber semangat terbesar bagi Ayla. Meski terpisah jarak, kedua orang tuanya tidak pernah berhenti memberi motivasi agar ia terus mengejar cita-citanya. Anak kedua dari dua bersaudara ini memiliki ayah yang bekerja sebagai karyawan swasta, sementara ibunya bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perjuangan kedua orang tuanya semakin memotivasi Ayla untuk membalasnya melalui prestasi di lapangan.

Mental Baja Setelah Gagal Tembus Timnas U17

Kesempatan besar sempat datang ketika Ayla dipanggil mengikuti pemusatan latihan (training camp/TC) sebagai bagian dari persiapan pembentukan tim nasional sepak bola U17 putri Indonesia. Pemanggilan ini berawal dari penampilannya yang memukau di Piala Pertiwi 2025, yang menarik perhatian tim pencari bakat.

Ayla Dva Khala Ahisma mengaku tidak pernah menyangka namanya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengukur kemampuan dirinya bersama pemain-pemain terbaik dari berbagai daerah. Namun, perjuangannya belum berakhir manis, karena cedera membuat langkahnya terhenti sebelum berhasil menembus skuad utama.

Meski demikian, pengalaman mengikuti pemusatan latihan tersebut memberikan banyak pelajaran berharga bagi Ayla. Selama mengikuti program tersebut, rasa percaya dirinya meningkat pesat. Begitu pula kemampuan teknik dan pemahamannya terhadap pola permainan menjadi lebih matang. Ia juga belajar bersaing secara sehat dengan pemain-pemain berkualitas lainnya.

Tim pelatih pun berpesan agar dirinya terus bekerja keras, tetap rendah hati, tidak mudah menyerah, serta meningkatkan kerja sama dengan rekan setim. Nasihat tersebut menjadi bekal penting bagi Ayla untuk melanjutkan perjalanan kariernya di dunia sepak bola. Pengalaman ini membentuk mentalnya menjadi lebih kuat dan tangguh.

Ambisi Besar Ayla Dva Khala Ahisma: Premiere Ligue Prancis

Kegagalan menembus skuad utama timnas U17 tidak membuat Ayla Dva Khala Ahisma kehilangan semangat sedikit pun. Sebaliknya, pengalaman itu justru memacunya untuk terus memperbaiki diri agar kembali berkesempatan mengenakan lambang Garuda di dada. Hydroplus Soccer League All-Stars 2025/2026 menjadi salah satu momentum yang ingin dimanfaatkannya sebaik mungkin.

Ayla berharap penampilan konsisten di Kudus dapat membuka kembali jalan menuju timnas, termasuk peluang memperkuat Indonesia dalam Srikandi Merdeka Cup U16 pada pertengahan Agustus 2026. Pemain yang beroperasi di sektor sayap ini menilai konsistensi merupakan modal utama untuk terus berkembang. Ia ingin terus menunjukkan keberanian dalam duel satu lawan satu, menjaga kepercayaan diri saat menguasai bola, dan memberikan kontribusi nyata bagi tim.

Kecepatan menyisir sisi lapangan menjadi salah satu kelebihan yang terus diasah oleh Ayla. Selain itu, ia juga percaya diri melakukan penyelesaian akhir langsung ke gawang ketika memperoleh ruang tembak yang ideal. Namun, Ayla menegaskan bahwa mimpinya tidak sebatas pada level timnas saja. Ia telah menetapkan target yang jauh lebih besar, yakni menembus kompetisi sepak bola putri di Prancis.

Ayla menilai, negara asal ikon pesepak bola putri Eropa, Wendie Renard, itu memiliki atmosfer kompetisi dan pembinaan sepak bola putri yang sangat baik. “Mimpi terbesar saya bermain di Prancis, di Premiere Ligue,” ujar anak bungsu itu dengan penuh semangat. Ambisi tersebut tentu membutuhkan proses panjang yang penuh tantangan. Persaingan menuju kompetisi Eropa menuntut kualitas teknik, fisik, mental, dan disiplin yang sangat tinggi.

Namun bagi Ayla Dva Khala Ahisma, mimpi besar justru menjadi alasan kuat untuk terus bekerja lebih keras setiap hari tanpa henti. Keikutsertaannya dalam Hydroplus Soccer League (HSL) All-Stars menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Turnamen ini mempertemukan para pemain muda potensial dari berbagai akademi, sehingga menghadirkan atmosfer kompetitif yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas permainan. Setiap pertandingan menjadi ruang belajar, tidak hanya dari sisi teknik dan taktik, tetapi juga dalam membangun mental bertanding yang kuat.

Pengalaman menghadapi pemain-pemain terbaik diyakini akan mempercepat perkembangan Ayla sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi. Di usianya yang masih belia, Ayla memahami bahwa jalan menuju sepak bola profesional tidak selalu mulus. Cedera, persaingan ketat, tuntutan tinggi, dan berbagai tantangan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan seorang atlet. Namun, tekad yang telah tumbuh sejak kecil membuatnya terus melangkah dengan optimisme yang tak tergoyahkan.

Dari lapangan-lapangan latihan di Yogyakarta, merantau ke Bogor, merasakan atmosfer pemusatan latihan tim nasional, hingga kini tampil di Kudus, setiap fase menjadi pijakan menuju impian yang lebih besar. Semua proses itu bermuara pada satu tujuan: Ayla ingin suatu hari berdiri di salah satu lapangan sepak bola megah di Prancis sebagai pemain profesional. Ia bertekad membuktikan bahwa keberanian meninggalkan rumah, ketekunan berlatih, dan keyakinan mengejar mimpi mampu mengantarkannya dari Sleman menuju panggung sepak bola putri Eropa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi