IHSG Melemah: Konflik AS-Iran dan The Fed Hawkish Picu Tekanan Pasar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan hari ini, dipicu oleh konflik AS-Iran yang memicu kekhawatiran inflasi energi global dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat, membuat investor khawatir.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi menunjukkan pelemahan signifikan. Kondisi ini terjadi seiring dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap sikap The Fed yang cenderung hawkish. Pasar bereaksi terhadap risiko inflasi energi global yang timbul akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pelemahan IHSG tercatat sebesar 23,30 poin atau 0,32 persen, membawa indeks ke posisi 7.338,82. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami penurunan. Indeks LQ45 turun 2,74 poin atau 0,36 persen, berada pada posisi 748,45.
Situasi ini diperparah oleh sentimen global yang memanas dan menjelang libur panjang Idul Fitri. Banyak investor memilih untuk mengurangi posisi portofolio mereka. Hal ini dilakukan guna menghindari gejolak pasar yang mungkin terjadi selama periode liburan yang panjang.
Dampak Konflik AS-Iran terhadap Pasar Energi Global
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah menimbulkan kekhawatiran serius di pasar energi global. International Energy Agency (IEA) bahkan memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi menjadi gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah. Hal ini mengindikasikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap stabilitas harga minyak dunia.
Aliran minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan turun drastis, dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik menjadi hampir berhenti. Situasi ini memaksa negara-negara produsen Teluk untuk memangkas produksi mereka sekitar 10 juta barel per hari. Penurunan pasokan ini secara langsung mempengaruhi ketersediaan minyak di pasar internasional.
Secara global, pasokan minyak diperkirakan akan turun sekitar 8 juta barel per hari pada Maret 2026. Untuk merespons kondisi darurat ini, IEA telah melepas cadangan strategis sekitar 400 juta barel. Amerika Serikat juga berencana melepas sekitar 172 juta barel dari cadangan daruratnya demi menstabilkan pasokan.
Iran sendiri telah memperingatkan bahwa harga minyak bisa mencapai 200 dolar AS per barel jika konflik terus meningkat. Meskipun demikian, Iran masih berhasil mengirimkan sekitar 11,7–12 juta barel minyak melalui Selat Hormuz ke China sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level 95,54 dolar AS per barel dan Brent di level 100,41 dolar AS per barel pada perdagangan hari ini pukul 09.07 WIB.
Ekspektasi Kebijakan The Fed dan Sentimen Pasar Global
Lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran diperkirakan akan memicu efek domino yang signifikan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko stagflasi global dan menekan ekspektasi pelonggaran moneter di tingkat global. Investor kini semakin khawatir akan prospek ekonomi dunia yang tidak menentu.
Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan adanya 2-3 pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini. Namun, dengan perkembangan terbaru, ekspektasi tersebut berubah drastis. Saat ini, pasar hanya memperhitungkan sekitar 20 basis poin (bps) pelonggaran hingga akhir tahun. Ini menunjukkan pergeseran pandangan pasar yang signifikan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus mendesak Ketua The Fed Jerome Powell untuk segera menurunkan suku bunga. Namun, pasar justru menilai bahwa lonjakan harga energi akan memperpanjang tekanan inflasi. Pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pada 17-18 Maret 2026 akan menjadi penentu kebijakan suku bunga acuan The Fed.
Sentimen negatif ini juga tercermin di bursa saham global. Pada perdagangan Kamis (12/03) kemarin, bursa saham Eropa kompak ditutup melemah, termasuk Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC 40 Prancis. Bursa AS Wall Street juga mengalami pelemahan signifikan, dengan indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite terkoreksi tajam.
Kebijakan Domestik dan Kekhawatiran Investor
Dari dalam negeri, pemerintah mulai mengambil langkah untuk menarik sebagian surplus Bank Indonesia (BI) ke kas negara. Kebijakan ini bertujuan untuk membantu pembiayaan APBN di tengah kebutuhan anggaran yang meningkat. Sekitar Rp16 triliun disebut telah ditarik berdasarkan kewenangan dalam PMK No.115/2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penarikan dana tidak dilakukan seluruhnya. Langkah ini tetap melalui koordinasi erat antara pemerintah dan BI. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter serta stabilitas sistem keuangan nasional.
Meskipun demikian, langkah penarikan surplus BI ini dinilai dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Hal ini berpotensi dipersepsikan sebagai intervensi terhadap bank sentral. Selain itu, kebijakan ini juga mencerminkan tekanan fiskal yang semakin besar yang dihadapi oleh pemerintah.
Sumber: AntaraNews