Jor-joran Bantu Israel Serang Iran, Ekonomi AS Ternyata Berpotensi Alami Krisis Parah
Saat ini, daya beli masyarakat AS masih tertekan akibat kenaikan bahan impor akibat perang dagang global yang berlangsung selama berminggu-minggu.
Presiden Donald Trump mengklaim berhasil menghancurkan pusat nuklir di Iran. Namun, serangan sekutu Israel terhadap Iran tersebut tanpa disadari menimbulkan masalah baru bagi ekonomi AS.
Melansir USA Today, Rabu (25/6), masuknya Amerika ke dalam peperangan antara Israel dan Iran kemungkinan besar akan mengerek inflasi seperti kenaikan harga minyak global yang menyebabkan ekonomi domestik tertekan.
Saat ini, daya beli masyarakat AS masih tertekan akibat kenaikan bahan impor akibat perang dagang global yang berlangsung selama berminggu-minggu.
Analis energi Rachel Ziemba memperkirakan bahwa harga minyak global dapat naik drastis apabila terjadi guncangan pasokan yang berkelanjutan. Seperti ancaman Iran untuk memblokir Selat Hormuz yang penting untuk perdagangan global.
"Itu berarti harga energi mungkin tidak stabil hingga kondisi membaik. Terlebih adanya gelombang panas besar melanda bagian tengah dan timur negara itu," ucapnya.
Di sisi lain, perbedaan pandangan antara pemerintah Trump dengan Bank Sentral AS, The Fed terkait arah penurunan suku bunga membuat investor memilih menahan diri utk berinvestasi di pasar keuangan AS.
"Investor saat ini bersiap untuk pemangkasan suku bunga, harga energi yang stabil, dan prospek global yang tertib. Tapi, ekspansi konflik yang tiba-tiba dan serius ini akan memaksa penetapan harga ulang risiko yang drastis di semua kelas aset utama," ujarnya.
Jika situasi ini berlarut-larut, ekonomi AS akan mengalami guncangan untuk bulan-bulan musim panas dalam waktu dekat. Ini karena seluruh indikator ekonomi AS mengalami tren pelemahan dengan cepat.
"Ekonomi dunia tidak dalam posisi yang kuat untuk menyerap guncangan energi lainnya. Amerika Serikat yang terlibat dalam konflik antara Israel dan Iran meningkatkan risiko reaksi global yang tajam," tandasnya.
Bursa saham AS Anjlok Usai Serang Iran
Sebelumnya, Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kompak ditutup anjlok pada perdagangan Jumat, 20 Juni 2025. Indeks S&P 500 turun seiring investor memantau perkembangan terbaru dari Timur Tengah.
Selain itu, pelaku pasar juga mempertimbangkan arah pemotongan suku bunga ke depan oleh bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).
Mengutip CNBC,, indeks S&P 500 turun 0,22 persen hingga ditutup ke posisi 5.967,84. Perdagangan jelang akhir pekan ini menandai sesi penurunan ketiga berturut-turut untuk indeks S&P 500.
Indeks Nasdaq melemah 0,51 persen, dan ditutup ke posisi 19.447,41. Indeks Dow Jones naik 35,16 poin atau 0,08 persen dan ditutup ke posisi 42.206,82.
Selama sepekan, indeks S&P 500 turun 0,2 persen. Indeks Dow Jones menguat tipis 0,02% dan indeks Nasdaq bertambah 0,2 persen.
Saham chip berada di bawah tekanan menyusul laporan oleh the Wall Street Journal kalau AS mungkin mencabut keringanan untuk beberapa produsen semikonduktor.