Waspada, Serangan AS ke Iran Berpotensi Picu Krisis Keuangan Global Lebih Parah dari 2008
Kelompok Houthi di Yaman, misalnya, telah mengancam untuk menyerang kapal perang AS yang berada di Laut Merah.
Ekonom dan Ahli Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengungkapkan bahwa keterlibatan langsung militer Amerika Serikat melalui serangan udara terhadap Iran telah memicu reaksi berantai dari kelompok-kelompok militan yang beraliansi dengan Iran.
Kelompok Houthi di Yaman, misalnya, telah mengancam untuk menyerang kapal perang AS yang berada di Laut Merah.
Di sisi lain, Hizbullah di Lebanon diperkirakan akan meningkatkan intensitas serangan mereka ke wilayah utara Israel. Selain itu, milisi Syiah yang berada di Irak, Suriah, dan Afghanistan juga berpotensi melakukan serangan balasan terhadap kepentingan AS dan Israel.
Achmad menilai bahwa meningkatnya ketegangan di kawasan ini akan berdampak negatif pada pasar modal global. Investor cenderung akan mengalihkan investasinya ke aset-aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan dolar AS, yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan di pasar global.
"Dan kita tahu, saat kawasan itu terbakar, dunia ikut panas. Pasar modal global akan terguncang, investor akan mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS, yang pada akhirnya menciptakan ketidakseimbangan baru di pasar global," ujar Achmad dalam wawancaranya dengan Liputan6.com pada Selasa (24/6).
Selain itu, jalur logistik yang vital seperti Terusan Suez dan jalur pelayaran Asia--Timur Tengah--Afrika juga terancam mengalami gangguan, yang akan memperburuk krisis rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi.
Jika situasi ini tidak segera ditangani, dunia berpotensi menghadapi krisis keuangan global yang baru dengan dampak yang bisa lebih parah dibandingkan krisis tahun 2007--2008. Lonjakan harga pangan dan energi dapat memperburuk kelaparan di Afrika serta meningkatkan ketegangan sosial di negara-negara berkembang.
"Situasi ini akan mengulang krisis keuangan 2007/2008, tetapi dalam skala yang jauh lebih parah," tegasnya.
Keterlibatan Amerika Serikat Dalam Serangan Terhadap Iran
Pada hari Minggu (22/6), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa militer AS telah melakukan serangan udara terhadap tiga lokasi penting nuklir Iran, yaitu Fordow, Natanz, dan Esfahan.
Serangan ini menandai dimulainya fase baru dalam ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, setelah Israel melancarkan serangan terhadap Iran selama seminggu melalui Operasi Rising Lion.
"Langkah ini menjadi babak baru dalam agresi militer terhadap Republik Islam Iran, yang sebelumnya sudah diserang Israel selama sepekan penuh dalam Operasi Rising Lion," kata Achmad.
Dia berpendapat bahwa keterlibatan langsung AS dalam konflik ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam ketegangan, yang kini tidak hanya terbatas pada perang proksi, tetapi juga melibatkan aksi militer langsung antara kekuatan global dan negara-negara di kawasan tersebut.
Amerika Seraing Iran, Israel Segera Tutup Ruang Udara
Pada hari Minggu, 22 Juni 2025, Israel mengambil langkah untuk menutup wilayah udaranya secara sementara. Penutupan ini merupakan respons terhadap serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yaitu Fordow, Isfahan, dan Natanz.
Otoritas Bandara Israel mengumumkan bahwa keputusan ini diambil sebagai langkah untuk menjaga keamanan nasional, guna mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Teheran. Dalam laporan yang dikutip dari laman Times of Israel pada hari yang sama, disebutkan bahwa penutupan ini mencakup seluruh penerbangan sipil dan komersial yang berangkat maupun tiba di Israel.
Sejumlah maskapai penerbangan telah melakukan penyesuaian terhadap jadwal penerbangan mereka akibat kebijakan ini. Beberapa rute internasional juga dialihkan untuk menghindari wilayah udara Israel sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Dengan langkah ini, Israel berupaya mengurangi risiko dan memastikan keselamatan penerbangan di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut. Keputusan ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi, dan mencerminkan ketidakpastian yang melanda hubungan internasional saat ini.