Apa Jadinya Jika Perang Dunia ke-3 Meletus, Indonesia Aman?
Aksi militer ini memicu kekhawatiran banyak pihak, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ketegangan global melonjak tajam setelah Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6), memperkeruh konflik yang sudah panas antara Iran dan Israel. Aksi militer ini memicu kekhawatiran banyak pihak, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dua hari sebelum serangan udara itu, Putin telah menyuarakan kekhawatirannya dalam Forum Ekonomi Internasional di St. Petersburg. Saat ditanya soal kemungkinan pecahnya Perang Dunia 3, dia tak menampik.
"Ini amat mengganggu. Saya bicara tanpa ironi, tanpa lelucon," ujar Putin, menekankan bahwa potensi konflik besar tak hanya nyata, tetapi juga tumbuh subur di banyak belahan dunia.
Di tengah eskalasi perang antara Israel dan Iran meningkat, bayang-bayang Perang Dunia 3 memang tak bisa diabaikan. Lalu, jika benar terjadi, apakah Indonesia akan tetap aman?
Indonesia Bisa Kena Imbas
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menegaskan, Indonesia tak akan kebal dari dampaknya. Dampak yang akan dirasakan, yakni dari segi pasokan pangan dan pasokan energi.
“Kalau terjadi Perang Dunia 3, Indonesia pasti kena. Karena perang besar akan menghentikan pasokan pangan dan energi,” ujar Faisal kepada merdeka.com, Selasa (24/6).
Dampak itu, lanjut dia, bisa dari langkanya bahan makanan, lonjakan harga, hingga gangguan pasokan energi. Terlebih jika konflik melibatkan senjata nuklir.
“Kalau sampai terjadi perang nuklir, Indonesia juga pasti kena,” tegasnya.
Karena itu, Faisal mendorong pemerintah memperkuat dua sektor vital, yakni ketahanan pangan dan sistem pertahanan.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya kalau misalnya perang Iran-Israel meluas," tegas Faisal.
Soal potensi Perang Dunia 3, Faisal menilai kuncinya ada di sikap Amerika Serikat. Jika menyerang Iran secara membabi buta, risiko eskalasi tak bisa dihindari. Namun, dia ragu AS akan bergerak sejauh itu.
"Tapi kelihatannya Presiden Donald Trump tidak akan melakukan itu karena tekanan politik domestik pasti akan kuat melengserkan Trump," ujar dia.
Faisal optimistis dunia masih bisa menghindari kehancuran total. Apalagi, dunia sudah pernah memiliki pengalaman dua perang dunia yang berakibat fatal terhadap manusia dan pandemi Covid-19.
“Kalau Perang Dunia 3 sampai benar terjadi, artinya manusia sedang menciptakan kiamatnya sendiri,” tutupnya.
Iran Gempur Pangkalan Militer AS
Sehari setelah Amerika Serikat menggempur tiga fasilitas nuklir Iran, perang justru semakin panas. Iran memborbardir Pangkalan Udara Amerika Serikat Al Udeid di Qatar.
Di waktu yang sama, Iran juga terus menyerang Israel. Al Jazeera melaporkan bahwa Iran meluncurkan serangan terpanjang sejak perang meletus pada 13 Juni.
“Tidak ada korban luka, tapi ada kerusakan. Yang mengejutkan, serangannya di siang hari, ini sangat langka,” ujar Jossi Beilin, mantan Menteri Kehakiman Israel.
Meski banyak rudal berhasil dicegat, Beilin menegaskan Iran masih punya kekuatan tembak signifikan. “Mereka masih bisa meluncurkan serangan setiap hari. Jumlahnya tak sedikit,” katanya.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim mereka mengubah taktik serangan. Dengan drone dan rudal, mereka menggempur wilayah dari utara hingga selatan Israel—termasuk Tel Aviv dan Haifa.
Militer Israel melaporkan delapan rudal ditembakkan dalam empat gelombang serangan dalam waktu satu jam. Sebagian besar berhasil dicegat, namun satu rudal menghantam dekat fasilitas strategis milik Perusahaan Listrik Israel (IEC) di wilayah selatan, menyebabkan gangguan listrik sementara.
Tak tinggal diam, Israel membalas dengan serangan besar-besaran ke Teheran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan target utama mereka adalah pusat komando IRGC. Rekaman dari Al Jazeera menunjukkan gumpalan asap besar membumbung di jantung ibu kota Iran—tanda bahwa konflik ini belum akan mereda.
Dengan serangan balasan yang kian masif dan terang-terangan, dunia menyaksikan babak paling berbahaya dalam konflik Timur Tengah. Dan kini, semua mata tertuju pada kemungkinan eskalasi berikutnya.