Bayang-bayang Perang Iran-Israel dan Ancaman Ekonomi bagi Indonesia
Skenario terburuk ini bisa terjadi hingga sepanjang tahun 2025.
Indonesia dibayang-bayangi penderitaan ekonomi dari perang yang terjadi antara Iran Vs Israel. Meski tidak ada kaitan langsung dengan dua negara yang berseteru, dampak perang bukan soal gertak sambal.
Mimpi buruk itu hampir mendekati kenyataan saat Iran berencana menutup rute paling vital di dunia, Selat Hormuz. Jalur Utama untuk mengirim minyak ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Banyak faktor yang membuat ekonomi Indonesia bisa terpukul dari perang ini menurut Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita. Pertama, kenaikan Harga minyak global yang akan berdampak terhadap APBN.
"Ini akan membuka opsi kalau terlalu mahal tanggungan pemerintah ketika harga minyak dunia jauh melebihi Indonesian Crude Oil Price (ICP) yang ditetapkan di dalam APBN. Maka pemerintah harus menutupnya lebih besar," kata Ronny kepada merdeka.com, Senin (23/6).
Dia menuturkan bahwa saat ini saja pemerintah sudah mengeluhkan besarnya subsidi BBM. Jika harga minyak dunia naik, beban tersebut bisa meningkat drastis.
Dampak kedua, menurutnya, adalah naiknya harga barang-barang impor akibat meningkatnya biaya transportasi. Akibatnya, harga barang impor akan melonjak, termasuk produk manufaktur di dalam negeri yang bergantung pada bahan baku impor.
Tak hanya itu komoditas impor, khususnya bahan pembantu dan barang setengah jadi yang digunakan oleh industri manufaktur dalam negeri, juga akan terdampak. Jika harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi memicu inflasi.
"Ini akan menyebabkan inflasi juga pada ujungnya jika harga minyak dunia bertahan lama di harga tinggi," jelas Ronny.
Daya Beli Masyarakat Makin Berat
Ronny memperingatkan lonjakan harga tersebut akan berdampak serius pada daya beli masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, sehingga menurunkan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di mana hal itu akan menekankan daya beli masyarakat akan menurunkan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, laju pertumbuhan ekonomi nasional berpeluang turun ke kisaran 4,6 hingga 4,7 persen, lebih rendah dibanding capaian sebelumnya sebesar 4,8 persen.
"Ini imbasnya dan itu akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan, karena akan menekan daya beli masyarakat terutama kelas menengah dan kelas menengah ke bawah," terangnya.
Ronny menilai pemerintah harus segera mengambil langkah diplomatik untuk mencegah terjadinya penutupan Selat Hormuz. Dia bilang hal ini bisa sangat merugikan perekonomian Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun finansial, khususnya terhadap aset-aset keuangan nasional.
Dia melanjutkan kenaikan harga minyak dunia akan mendorong inflasi, yang pada akhirnya dapat membuat Bank Indonesia mempertimbangkan untuk kembali menaikkan suku bunga.
"Kalau harga minyak naik otomatis inflasi ikut naik, maka Bank Indonesia akan memikirkan untuk menaikkan kembali suku bunga," ujar Ronny.
Padahal, menurutnya, harapan saat ini adalah penurunan suku bunga demi menjaga daya saing aset-aset keuangan nasional.
"Sementara kita berharap itu suku bunga diturunkan gitu untuk menjaga daya saing aset-aset finansial Indonesia," lanjutnya.
Nasib Rupiah
Tak hanya itu, dia juga memperingatkan harga minyak yang terlalu tinggi dapat memicu penguatan dolar AS, yang berimbas pada pelemahan rupiah. Nantinya investor cenderung mencari aset aman atau safe haven, salah satunya adalah dolar AS. Hal ini berpotensi mendorong penguatan nilai dolar yang secara tidak langsung menyebabkan pelemahan rupiah, bukan karena fundamental rupiah yang melemah, tetapi karena penguatan dolar itu sendiri.
"Kalau itu harga minyak dunia terlalu tinggi kemungkinan dolar juga akan semakin menguat karena ekonomi dunia semakin tidak pasti. Investor akan mencari safe haven. Salah satu safe havennya adalah dolar dan akan meningkatkan nilai dolar yang membuat rupiah semakin melemah. Mungkin rupiah bukan karena rupiahnya tapi karena dolarnya yang menguat," paparnya.
Situasi ini, lanjutnya, bisa memaksa Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga untuk mencegah arus keluar modal.
"Dan ini akan membuat capital outflow, akan ada capital yang keluar dari Indonesia dan itu akan menekan rupiah, dan akan menekan perekonomian Indonesia secara keseluruhan terutama secara moneter," jelasnya.
Lebih lanjut, dia memperingatkan bahwa semua skenario ini akan berdampak buruk terhadap kinerja ekonomi nasional sepanjang tahun 2025.
"Dan ini semuanya akan buruk terhadap perekonomian Indonesia untuk tahun ini, untuk kuartal kedua, kuartal ketiga. Dan kemungkinan pertumbuhan ekonomi kita akan semakin tertekan," tutup Ronny.