Menakar Dampak Perang Timur Tengah ke Lonjakan Harga di Dalam Negeri
Perang di Timur Tengah memiliki implikasi strategis yang berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz.
Konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat dipandang memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Kenaikan harga energi akan diikuti dengan meningkatnya harga berbagai kebutuhan lainnya, seperti pupuk, produk elektronik, dan barang-barang impor yang bergantung pada rantai distribusi global.
Hal ini diungkapkan oleh Muhammad Sholahuddin, Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS). Menurutnya, perang di Timur Tengah memiliki implikasi strategis yang berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan titik krusial dalam perdagangan minyak global.
"Perang di kawasan Timur Tengah, terutama yang mengancam di Selat Hormuz, berdampak besar karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut," jelas Sholahuddin di Jakarta pada Kamis (12/3).
Ia menambahkan bahwa wilayah Selat Hormuz berada di bawah pengaruh Iran. Ketika situasi geopolitik memanas, ada potensi pembatasan jalur pelayaran yang dapat mengganggu distribusi minyak dunia dan menyebabkan lonjakan harga energi secara global. Dampak ini juga bisa dirasakan oleh Indonesia, di mana sekitar separuh kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi di pasar internasional.
"Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak akan naik. Kenaikan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi distribusi barang, transportasi, hingga biaya logistik," ujarnya.
Hal ini juga dibenarkan oleh pimpinan perusahaan pelayanan internasional. Peningkatan biaya transportasi akibat konflik di Iran akan dibebankan kepada konsumen, seperti yang dinyatakan oleh Vincent Clerc, CEO Maersk, perusahaan pelayaran terbesar kedua di dunia. "Jadi artinya, pada akhirnya, dalam kasus ini, kenaikan ini akan diteruskan kepada pelanggan kami dan akan diteruskan kepada konsumen," ujar Clerc kepada BBC.
Sejak dimulainya perang antara AS-Israel dan Iran, harga minyak telah melonjak mendekati USD 120 per barel sebelum akhirnya mereda. Harga minyak mentah saat ini hampir 20% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang pecah.
Bisnis Maersk, yang didominasi oleh divisi pengiriman kontainer, memainkan peran penting dalam memindahkan barang-barang seperti mainan, pakaian, dan elektronik ke seluruh dunia. Perang tersebut telah menghentikan transportasi melalui jalur Selat Hormuz yang sangat vital, di mana sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur tersebut.
Masyarakat menjadi korban dalam konflik antara Iran dan Israel
Menurutnya, kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah adalah pihak yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga tersebut. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya hidup yang akan berpengaruh pada harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. "Gangguan energi global akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi risiko perang. Dampaknya merembet ke pasar keuangan dan harga barang yang pada akhirnya paling terasa bagi masyarakat kelas bawah," ungkapnya.
Meski begitu, Sholahuddin berpendapat bahwa kondisi ini bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Salah satu langkah yang perlu diambil adalah mengurangi ketergantungan pada produk impor dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. Ia menekankan pentingnya pengembangan energi alternatif yang sesuai dengan potensi geografis Indonesia, seperti energi surya.
Dengan kondisi wilayah tropis yang memiliki paparan sinar matahari yang melimpah, pemanfaatan energi matahari dianggap dapat menjadi solusi jangka panjang. "Indonesia seharusnya mulai mengembangkan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga surya. Dengan begitu, ketergantungan terhadap energi berbasis minyak dapat berkurang," jelasnya.
Peluang terjadinya Perang Dunia Ketiga
Sholahuddin juga menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang. Ia berpendapat bahwa para akademisi memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan inovasi melalui penelitian serta mengimplementasikan hasil riset yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan sektor industri. "Perguruan tinggi memiliki banyak hasil penelitian dan inovasi. Jika dihilirisasi dengan baik melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, dan investor, maka hal itu dapat memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia," katanya.
Menanggapi kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya perang dunia ketiga, Sholahuddin menilai bahwa peluang tersebut tergolong kecil selama konflik masih terbatas pada kelompok negara tertentu. Namun, ia mengingatkan bahwa risiko ini tetap perlu diwaspadai jika konflik tersebut berkembang dan melibatkan lebih banyak negara. "Kemungkinan perang dunia ketiga masih kecil selama konflik tidak meluas. Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan," ujarnya.