Opini: Perang Iran-Israel dan Urgensi Swasembada Nasional
Dunia pun cemas. Bukan hanya karena skala militernya. Tapi karena dampaknya. Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz.
Dunia kembali berguncang. Belum selesai perang Rusia-Ukraina hingga Israel-Palestina, kini diperparah dengan meletusnya perang Iran Vs Amerika Serikat-Israel dan sekutunya. Akhir pekan kemarin, langit Teheran memerah. Ledakan terdengar di berbagai sudut kota.
Tak butuh waktu lama. Iran membalas. Rudal menghujani Tel Aviv. Ketegangan yang lama terpendam berubah menjadi perang terbuka. Bukan sekadar saling ancam. Bukan lagi perang bayangan.
Iran kemudian mengumumkan serangan besar-besaran. Rudal dan drone diluncurkan ke pangkalan militer Israel. Juga ke 27 pangkalan militer AS di kawasan Arab. Dari Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Bahrain. Kawasan Timur Tengah kembali menjadi bara.
Dunia pun cemas. Bukan hanya karena skala militernya. Tapi karena dampaknya. Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz. Jalur sempit itu bukan jalur biasa. Di sanalah sebagian besar distribusi minyak dunia melintas.
Bayangkan jika nadi energi global itu tersumbat. Harga minyak melonjak. Biaya logistik naik. Distribusi barang tersendat. Industri terpukul. Negara-negara importir energi akan merasakan efek domino. Krisis bisa menjalar cepat.
Perang ini bukan lagi soal dua atau tiga negara. Ini soal ekosistem ekonomi global. Rantai pasok dunia yang rapuh sejak pandemi belum benar-benar pulih. Kini ancaman baru datang dari konflik bersenjata.
Di tengah situasi ini, peringatan pernah disampaikan oleh Prabowo Subianto. Presiden Republik Indonesia itu menyebut bahwa serangan terhadap Iran berpotensi memicu perang dunia ketiga. Pernyataan itu dulu mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun hari ini, dunia melihat betapa eskalasi bisa terjadi dalam hitungan jam.
Bagi Indonesia, perang ini adalah alarm keras. Ketahanan dalam negeri bukan lagi slogan. Ia menjadi kebutuhan mendesak. Ketika dunia tidak stabil, negara harus berdiri di atas kaki sendiri.
Program kemandirian bangsa yang tengah didorong pemerintah menjadi relevan. Swasembada pangan, swasembada energi, hingga kemandirian industri bukan sekadar janji politik. Ia adalah strategi bertahan.
Pangan Saja Tidak Cukup
Dalam hal pangan, Indonesia mencatat capaian penting. Pada 2025, cadangan beras nasional disebut menembus 4 juta ton. Tertinggi sepanjang sejarah. Indonesia tak lagi impor beras. Ini bukan angka kecil. Ini simbol kedaulatan.
Ketika jalur logistik global terganggu, ketika kapal-kapal tertahan akibat konflik, rakyat tetap harus makan. Kemandirian pangan menjadi benteng pertama. Program Makan Bergizi Gratis juga memainkan peran penting. Ia menjamin kebutuhan dasar masyarakat. Sekaligus menciptakan lapangan kerja. Ekonomi domestik bergerak dan daya beli terjaga.
Namun pangan saja tidak cukup. Energi adalah urat nadi kedua. Penutupan Selat Hormuz memberi pelajaran mahal. Ketergantungan pada impor energi adalah risiko besar. Kilang-kilang milik Pertamina tengah didorong untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi. Lifting minyak ditambah. Targetnya jelas. Mengurangi impor.
Kemandirian industri juga menjadi kunci. Ketika bahan baku sulit masuk, ketika harga melonjak, industri dalam negeri harus mampu bertahan. Produksi lokal harus diperkuat. Hilirisasi harus konsisten.
Namun ada satu catatan penting. Semua program ini tidak boleh rapuh dari dalam. Pengawasan berjenjang mutlak diperlukan. Tanpa tata kelola yang baik, swasembada hanya menjadi angka di atas kertas. Korupsi bisa menggerogoti fondasi.
Perang Iran dengan AS dan Israel menunjukkan satu hal sederhana. Dunia tidak pernah benar-benar aman. Stabilitas global bisa runtuh sewaktu-waktu.
Karena itu, ketahanan nasional bukan pilihan. Ia keharusan. Indonesia harus menyiapkan diri menghadapi guncangan apa pun. Pangan yang cukup. Energi yang mandiri. Industri yang kuat.
Di tengah dunia yang berisik oleh dentuman rudal, kekuatan sejati sebuah bangsa justru diuji dalam senyap. Dalam gudang-gudang beras yang penuh. Dalam kilang-kilang yang beroperasi. Dalam kebijakan yang bersih dan terawasi.
Perang mungkin terjadi jauh dari batas wilayah kita. Namun dampaknya bisa sampai ke dapur rumah tangga. Maka membangun ketahanan dalam negeri yang dicanangkan pemerintah adalah cara paling rasional untuk menjaga masa depan.
Oleh: Agung Baskoro I Direktur Eksekutif Triaspols