Indonesia Perkuat Keamanan Pasokan Energi di Tengah Konflik Timur Tengah
Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, mendorong Indonesia memperkuat keamanan pasokan energi melalui diversifikasi sumber dan peningkatan cadangan.
Konflik yang memanas di Timur Tengah, dipicu oleh serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, telah meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dan gas global. Serangan gabungan yang mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Selat ini terletak antara Oman dan Iran, berfungsi sebagai rute utama perdagangan energi dunia.
Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau hampir 20 juta barel, melewati koridor ini, yang berarti setiap gangguan dapat berdampak signifikan pada pasar energi internasional. Sekitar seperlima ekspor minyak global melewati selat ini, termasuk pengiriman dari produsen Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum mencapai pasar internasional. Negara-negara ini, bersama Qatar, Bahrain, dan Oman, juga merupakan produsen gas terkemuka dunia.
Sementara itu, sebagai importir energi bersih yang rentan terhadap gejolak harga bahan bakar internasional, Indonesia memantau ketat dan menyiapkan langkah mitigasi untuk membatasi risiko yang mungkin ditimbulkan konflik ini. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pada Rabu (4 Maret) bahwa konflik Timur Tengah belum mengganggu pasokan energi nasional Indonesia, termasuk bahan bakar domestik. Meskipun pasokan energi negara diperkirakan akan tetap aman untuk satu hingga dua bulan ke depan, Lahadalia mengakui bahwa konflik berkepanjangan pasti akan memengaruhi rantai pasok global.
Diversifikasi Sumber Impor Minyak Mentah
Pemerintah Indonesia mengidentifikasi bahwa sekitar 25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz yang strategis. Selat ini saat ini berada di bawah penjagaan ketat Korps Garda Revolusi Islam Iran. Sebagai bagian dari mitigasi, pemerintah telah mulai mengalihkan beberapa sumber impor minyak mentah ke Amerika Serikat dan negara-negara lain yang tidak menggunakan rute Selat Hormuz.
Indonesia telah mulai secara bertahap mengimpor minyak mentah dari AS, sebuah langkah yang diyakini tetap menguntungkan bagi Indonesia, meskipun harga global melonjak akibat konflik Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent di ICE naik menjadi US$83 per barel, dibandingkan dengan rata-rata US$64 pada Januari 2026, menunjukkan kenaikan tajam di pasar minyak global. Lahadalia mengatakan pembelian minyak mentah dari pemasok AS akan mengikuti negosiasi untuk mengamankan persyaratan yang menguntungkan.
Pembicaraan tersebut memastikan Indonesia masih dapat memperoleh keuntungan dari transaksi meskipun harga minyak internasional naik di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Menurut menteri, perusahaan energi milik negara Pertamina memiliki pengalaman luas dalam negosiasi kontrak minyak mentah dan mampu mengamankan harga yang kompetitif di pasar global. Perusahaan tersebut baru-baru ini mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah Indonesia dari Timur Tengah ke AS sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pasokan.
Strategi ini diharapkan dapat memperkuat keamanan pasokan minyak mentah domestik Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada satu wilayah saja. Untuk bahan bakar olahan, Indonesia terus sangat bergantung pada impor bensin dan diesel dari Singapura, salah satu pusat penyulingan dan perdagangan minyak terbesar di Asia. Lahadalia menjelaskan bahwa Singapura mendapatkan minyak mentah dari berbagai negara, memungkinkan negara itu mempertahankan ekspor bahan bakar yang stabil ke Indonesia bahkan jika pengiriman Timur Tengah menghadapi gangguan.
Peningkatan Kapasitas Penyimpanan dan Cadangan Energi
Selain AS dan Singapura, pasokan minyak mentah dapat bersumber dari produsen yang beragam, termasuk Angola di Afrika, Brasil di Amerika Selatan, serta Malaysia di Asia Tenggara. Diversifikasi ini menyoroti bahwa pasokan minyak global tidak hanya bergantung pada produsen Timur Tengah. Untuk memperkuat keamanan energi, menurut Lahadalia, Indonesia berencana memperluas kapasitas penyimpanan minyak mentah dari cadangan saat ini 25-26 hari menjadi 90 hari, sesuai dengan standar internasional.
Pemerintah telah mengamankan investor untuk fasilitas penyimpanan minyak mentah yang direncanakan di Sumatera. Proyek ini saat ini sedang menjalani studi kelayakan, dengan target konstruksi dimulai tahun ini. Dia mencatat bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan fasilitas ini terdiri dari entitas asing dan domestik, menjelaskan bahwa investor asing tersebut bukan dari AS.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan swasta akan memainkan peran penting dalam mengembangkan infrastruktur minyak mentah Indonesia. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim bahwa Indonesia jauh lebih siap menghadapi ketidakpastian global, setelah belajar dari lonjakan harga energi yang disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina.
Menurutnya, situasi ini dapat dilihat dari dua perspektif. Di satu sisi, pemerintah perlu mempertahankan subsidi energi untuk menghindari membebani masyarakat. Namun, di sisi lain, kenaikan harga komoditas juga dapat meningkatkan pendapatan negara.
Kebijakan Subsidi dan Antisipasi Dampak Ekonomi
Menanggapi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pemerintah telah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar bersubsidi meskipun terjadi lonjakan harga minyak global. Dengan memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga untuk meredam fluktuasi harga, pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik dan dampaknya terhadap harga minyak mentah global sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.
Airlangga juga percaya masih terlalu dini untuk memperkirakan dampak penuh konflik Timur Tengah terhadap ekonomi. Meskipun demikian, pemerintah sedang menyiapkan beberapa skenario untuk mengantisipasi potensi dampak berkepanjangan dari konflik tersebut. Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak global bisa melonjak hingga US$100 per barel dari sekitar US$72 per barel jika Selat Hormuz ditutup.
Dia menambahkan bahwa lonjakan harga bahan bakar dapat memengaruhi Indonesia, yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz, konflik yang sedang berlangsung masih dapat mendorong harga minyak global naik sekitar 10-25 persen. Baik dalam keadaan konflik maupun damai, setiap negara, termasuk Indonesia, harus memastikan keamanan energinya dengan mendiversifikasi sumber energi, memitigasi risiko impor, dan mengoptimalkan energi domestik. Keamanan energi adalah fondasi stabilitas ekonomi, pasokan yang aman dan terkontrol akan membantu mengendalikan inflasi dan melindungi daya beli masyarakat.
Sumber: AntaraNews