Ini Dampak Langsung Dirasakan Indonesia Jika Iran Tutup Selat Hormuz
Menlu menjelaskan, rencana penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu 20 persen pasokan minyak dunia yang melintasi wilayah tersebut.
Rencana penutupan Selat Hormuz yang akan dilakukan oleh pemerintah Iran berpotensi mempengaruhi pasokan minyak dunia termasuk Indonesia. Hal ini dikatakan Menteri Luar Negeri, Sugiono.
"Penutupan Selat Hormuz apabila dilakukan oleh pemerintah Iran akan berpengaruh terhadap pasokan minyak kita di Indonesia karena impor minyak Pertamina juga melintasi Selat Hormuz. Sekitar 20,4 persen," kata Sugiono saat rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta seperti ditulis Antara, Senin (30/6).
Menlu menjelaskan, rencana penutupan Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu 20 persen pasokan minyak dunia yang melintasi wilayah tersebut.
Menurut Sugiono, pemerintah Indonesia terus mengamati konflik di kawasan Timur Tengah. "Kita juga terus mencermati gencatan senjata dan perdamaian yang saat ini sedang berlangsung di kawasan," katanya.
Sugiono berharap gencatan senjata dan perdamaian tersebut dapat berlangsung lebih lama.
Parlemen Iran sebelumnya menyetujui rancangan undang-undang (RUU) untuk menutup Selat Hormuz bagi lalu lintas angkatan laut, menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran, menurut pernyataan seorang anggota parlemen senior pada Minggu (23/6).
Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab dan terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Selat ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia.
Respons China
Pemerintah China merespons rencana parlemen Iran untuk menutup satu titik penyeberangan strategis pasokan minyak dan gas dunia, Selat Hormuz.
"Teluk Persia dan perairan di sekitarnya merupakan rute penting untuk perdagangan barang dan energi internasional. Menjaga keamanan dan kestabilan kawasan ini merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing.
Parlemen Iran pada Minggu (22/6) sepakat bahwa Selat Hormuz harus ditutup, menurut anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran. Langkah tersebut merupakan pertama kali dilakukan Iran sepanjang konflik Iran-Israel berlangsung sejak 1979.
Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara besar regional harus melewati Selat Hormuz mulai dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Qatar, Iran hingga Kuwait.
"China menyerukan kepada masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya guna mendorong deeskalasi konflik, dan mencegah kekacauan regional berdampak lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global," ungkap Guo Jiakun.
Upaya untuk memblokir Selat Hormuz dinilai dapat menimbulkan konsekuensi besar bagi ekonomi global mengingat sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari atau 20 persen dari konsumsi global didistribusikan melalui selat tersebut pada 2024 berdasarkan data Badan Informasi Energi.
"Komunikasi antara China dan Iran, terus berlangsung. Baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Wang Yi telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi melalui telepon dan menyatakan bahwa China siap untuk meningkatkan komunikasi dengan Iran dan pihak-pihak terkait lainnya untuk terus memainkan peran konstruktif dalam upaya deeskalasi," ungkap Guo Jiakun.