Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Begini Dampak Globalnya, Salah Satunya Harga Minyak Dunia Terancam Meledak

Peta Selat Hormuz menjadi sorotan usai ancaman Iran untuk menutupnya. Selat ini vital bagi ekonomi global, memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Begini Dampak Globalnya, Salah Satunya Harga Minyak Dunia Terancam Meledak
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Begini Dampak Globalnya, Salah Satunya Harga Minyak Dunia Terancam Meledak (Merdeka.com)

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara terhadap tiga situs nuklir milik Iran. Sebagai respons keras, parlemen Iran menyatakan dukungannya untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi hampir seperlima pasokan minyak dunia. Ancaman ini bukan sekadar gertakan biasa, melainkan bisa menjadi pukulan telak bagi perekonomian global, terutama dalam sektor energi. 

Dalam pernyataannya, saluran TV pemerintah Iran menyebut bahwa keputusan akhir kini berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran, yang dalam waktu dekat akan menentukan apakah Selat Hormuz benar-benar akan diblokade. 

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, membentang di antara Iran dan Oman. Meski lebarnya hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempit, selat ini adalah urat nadi distribusi energi dunia. Sekitar 17,8 hingga 20,8 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi jalur ini setiap harinya, berdasarkan data firma analitik energi Vortexa.

Sebagian besar ekspor minyak mentah dari negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak melewati selat ini, terutama untuk dikirim ke pasar utama di Asia. Bahkan negara seperti Qatar, eksportir gas alam cair (LNG) terbesar dunia, mengandalkan selat ini sebagai jalur tunggal ekspor gasnya.

Dengan situasi panas ini, para analis memperkirakan lonjakan harga minyak mentah tidak bisa dihindari jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Saat ini, ketakutan akan gangguan suplai sudah cukup untuk mendorong harga minyak naik di pasar berjangka.

“Jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak bisa melonjak hingga USD 150 per barel atau bahkan lebih, mengingat tidak ada jalur alternatif yang mampu menangani volume ekspor sebesar itu secara langsung,” ujar seorang analis energi dari S&P Global.

Meskipun Arab Saudi dan UEA telah membangun jaringan pipa sebagai jalur alternatif, kapasitasnya masih sangat terbatas. Diperkirakan hanya 2,6 juta barel per hari yang bisa dialihkan melalui jalur darat, jauh di bawah total volume ekspor normal.

Ancaman Iran bukan pertama kalinya. Selat Hormuz memiliki sejarah panjang sebagai titik panas konflik:

  1. Perang Iran-Irak (1980–1988): Kedua negara saling menargetkan kapal tanker minyak dalam apa yang disebut "Perang Tanker".
  2. 1988: Kapal perang AS secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat penumpang Iran, menewaskan 290 orang. Kejadian ini memperparah ketegangan bilateral.
  3. 2012: Iran mengancam akan memblokir selat tersebut sebagai respons atas sanksi ekonomi dari AS dan Uni Eropa.
  4. 2019-2024: Iran beberapa kali menyita kapal tanker asing, termasuk insiden pada 2023 dan 2024 yang menyebabkan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan.

Kini, situasi serupa kembali membara, namun dengan dimensi yang lebih rumit karena keterlibatan kekuatan global seperti China dan AS, serta ketegangan seputar program nuklir Iran.

Setelah parlemen Iran menyetujui potensi penutupan Selat Hormuz, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperingatkan bahwa tindakan tersebut akan menjadi “kesalahan besar” dan menyerukan pada China untuk menekan Iran agar tidak menutup selat itu.

"Jika mereka melakukan itu, itu sama saja dengan bunuh diri ekonomi bagi mereka, dan kami punya opsi untuk menangani hal itu," kata Rubio dalam wawancaranya dengan Fox News.

Sementara itu, AS tetap mempertahankan kehadiran militernya melalui Armada Kelima Angkatan Laut yang berbasis di Bahrain, untuk menjaga kelancaran pengiriman komersial di kawasan Teluk.

Lonjakan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada negara-negara pengimpor energi, tapi juga bisa memicu inflasi global. Harga bahan bakar yang tinggi akan mendorong biaya produksi barang dan jasa, yang pada akhirnya membebani masyarakat di seluruh dunia.

Selain itu, beberapa negara berkembang yang sangat bergantung pada impor minyak juga akan menghadapi tekanan fiskal yang berat, memperburuk krisis ekonomi yang sudah ada akibat konflik geopolitik dan perubahan iklim.

Meski ancaman Iran terdengar tegas, banyak pihak mempertanyakan apakah negara tersebut siap menanggung dampak ekonomi yang tak terhindarkan jika benar-benar menutup Selat Hormuz. Sebagian besar pendapatan nasional Iran berasal dari ekspor minyak dan gas, yang juga melewati selat tersebut.

Jika ditutup, Iran sendiri akan kesulitan menjual energinya, dan kemungkinan menghadapi sanksi internasional yang lebih parah, termasuk dari negara-negara non-Barat yang selama ini menjadi pembeli setianya.

Ketegangan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat membawa dunia pada ancaman krisis energi global yang serius. Selat Hormuz bukan hanya jalur laut strategis, tetapi juga simbol dari ketergantungan dunia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Apakah Iran akan benar-benar menutup selat tersebut? Atau ini hanya bagian dari strategi tekanan diplomatik? Dunia menunggu dengan napas tertahan. Satu hal yang pasti—setiap perkembangan dalam krisis ini bisa berdampak besar pada harga minyak, stabilitas ekonomi global, dan keseimbangan kekuatan geopolitik internasional.

Rekomendasi