Jika Selat Hormuz Ditutup: Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dunia, dan penutupannya dapat memicu dampak ekonomi yang luas. Siapa saja yang akan diuntungkan dan dirugikan jika Selat Hormuz ditutup?
Negara-negara yang mengekspor minyak melalui jalur alternatif berpotensi meraih keuntungan dari penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak global akan mendorong permintaan terhadap produk mereka.
Sementara itu, negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, akan merasakan dampak negatif yang signifikan.
Pihak yang Diuntungkan
Beberapa pihak akan meraih keuntungan dari penutupan Selat Hormuz, di antaranya:
- Negara Pengekspor Minyak: Negara-negara yang memiliki jalur ekspor minyak alternatif akan mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan dan harga minyak global.
- Produsen Komoditas: Negara seperti Indonesia yang mengekspor komoditas akan diuntungkan, karena kenaikan harga minyak biasanya berbanding lurus dengan harga komoditas.
- Perusahaan Penyewaan Tanker dan LNG Carrier: Permintaan untuk mengangkut minyak melalui jalur alternatif akan meningkat, sehingga perusahaan-perusahaan ini akan mengalami peningkatan pendapatan.
- Investor di Sektor Tertentu: Investor dapat meraih keuntungan dengan berinvestasi pada aset yang diprediksi akan meningkat nilainya akibat penutupan Selat Hormuz.
Pihak yang Dirugikan
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz juga akan merugikan banyak pihak, antara lain:
- Negara Importir Minyak: Negara-negara yang bergantung pada impor minyak dari Teluk Persia akan mengalami kerugian besar akibat lonjakan harga minyak.
- Konsumen: Kenaikan harga minyak akan berdampak pada harga barang dan jasa, menurunkan daya beli masyarakat.
- Maskapai Penerbangan: Kenaikan harga bahan bakar pesawat akan meningkatkan biaya operasional, berpotensi menyebabkan kenaikan harga tiket.
- Industri Logistik dan Distribusi: Kenaikan biaya bahan bakar akan berdampak pada rantai pasok dan inflasi, meningkatkan biaya pengiriman barang.
Ancaman Iran
Iran sebelumnya telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz pascaserangan AS. Jika itu terjadi, tentu mendatangkan dampak serius pada jalur perdagangan dan harga minyak dunia. Namun, hingga saat ini, ancaman tersebut belum pernah direalisasikan. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.
Media lain, termasuk TRT, juga mengungkapkan pada masa lalu, Iran pernah mengancam untuk menutup Selat Hormuz. Tetapi, sejauh ini ancaman itu tak benar-benar terjadi.
Ancaman penutupan Selat Hormuz pernah disampaikan Hassan Rouhani pada tahun 2018. Rouhani, sebagai presiden Iran saat itu, menyatakan, seperti yang dilansir oleh The New Arab, bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz jika AS menghalangi ekspor minyaknya.
"Jika suatu hari nanti AS memutuskan untuk memblokir ekspor minyak Iran, maka tidak akan ada satu tetes pun minyak yang diekspor dari Teluk Persia," ungkap Rouhani dalam pernyataannya yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.