Tutup Selat Hormuz, Ancaman Iran Tak Pernah Jadi Kenyataan
Isu penutupan Selat Hormuz beberapa kali sempat dikemukakn Iran jauh sebelum konflik dengan Israel.
Keikutsertaan Amerika Serikat menyerang tiga lokasi nuklir di Iran pada Minggu (22/6) dikhawatirkan membuat konflik di kawasan Timur Tengah kian meluas. Keputusan Presiden Donald Trump ada di barisan Israel membuat kondisi Iran tak ubahnya operasi miiliter pada tahun 1979.
Sampai saat ini, Iran memang belum menunjukkan sikapnya atas serangan AS. Namun, sejumlah analisis berpendapat bahwa salah satu langkah balasan yang mungkin diambil oleh Iran adalah dengan menutup Selat Hormuz, jalur perdagangan yang sangat penting bagi dunia.
Di selat itu, lebih dari 20 juta barel minyak, yang merupakan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia, serta sebagian besar gas cair global, melewati selat tersebut.
Akahkah Ancaman Iran Menutup Selat Hormuz jadi Kenyataan?
Iran sebelumnya telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz pascaserangan AS. Jika itu terjadi, tentu mendatangkan dampak serius pada jalur perdagangan dan harga minyak dunia. Namun, hingga saat ini, ancaman tersebut belum pernah direalisasikan. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh The Guardian.
Media lain, termasuk TRT, juga mengungkapkan pada masa lalu, Iran pernah mengancam untuk menutup Selat Hormuz. Tetapi, sejauh ini ancaman itu tak benar-benar terjadi.
Ancaman penutupan Selat Hormuz pernah disampaikan Hassan Rouhani pada tahun 2018. Rouhani, sebagai presiden Iran saat itu, menyatakan, seperti yang dilansir oleh The New Arab, bahwa Iran akan menutup Selat Hormuz jika AS menghalangi ekspor minyaknya.
"Jika suatu hari nanti AS memutuskan untuk memblokir ekspor minyak Iran, maka tidak akan ada satu tetes pun minyak yang diekspor dari Teluk Persia," ungkap Rouhani dalam pernyataannya yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.
Namun, menurut Hitesh Jain, seorang analis strategi di Divisi Riset Ekuitas Institusional Yes Securities, meskipun Iran sering mengeluarkan ancaman, mereka tidak pernah benar-benar menutup Selat Hormuz. Justru dia melihat ancaman itu disampaikan Iran sebagai alat dalam diplomasi.
"Karena dampak strategis dan biaya ekonominya yang sangat besar."
Para ahli menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz tidak mungkin terjadi
Esmaeil Kowsari, anggota senior parlemen Iran, juga mengungkapkan bahwa parlemen Iran sepakat menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan oleh AS dan sikap diam dari komunitas internasional. Kowsari, yang juga merupakan anggota komite parlemen yang membahas urusan keamanan nasional dan kebijakan luar negeri, menyatakan,
"Parlemen telah sampai pada kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup, namun keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi," seperti yang dikutip oleh kantor berita Iran, Press TV.
Sementara analisis yang dilakukan oleh Eurasia Group pada Minggu pagi, upaya Iran untuk menutup Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur energi di Teluk Persia dinilai sangat tidak mungkin. Eurasia juga menilai kecil kemungkinan Iran akan menyerang target-target tertentu selama ekspor mereka tetap berjalan. Namun, mereka memperkirakan bahwa gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker oleh Iran mungkin akan meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Gregory Brew, seorang analis senior dari Eurasia Group, menjelaskan kepada Axios bahwa jika Iran mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz, hal itu akan menjadi deklarasi perang yang nyata terhadap negara-negara Teluk dan AS.
"Dalam kondisi lemah seperti sekarang, Iran kecil kemungkinan akan memilih eskalasi sebesar itu untuk saat ini," tuturnya.
Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance juga memberikan komentarnya pada hari Minggu, menyatakan bahwa menutup Selat Hormuz akan menjadi tindakan yang secara ekonomi "bunuh diri" bagi Iran.
"Seluruh ekonomi mereka bergantung pada Selat Hormuz. Jika mereka ingin menghancurkan ekonomi mereka sendiri dan menyebabkan gangguan di dunia, saya rasa itu akan menjadi keputusan mereka sendiri," ujarnya dalam program Meet the Press di NBC.
Kenapa Selat Hormuz sangat penting?
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak yang sangat penting secara geo-strategis, baik bagi Amerika Serikat maupun negara-negara lainnya. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan ekonomi global yang tinggi terhadap kelancaran distribusi minyak melalui selat tersebut.
Selat ini terletak di antara Oman dan Iran, dan menghubungkan Teluk Persia di utara dengan Teluk Oman di selatan, yang kemudian mengarah ke Laut Arab. Di titik tersempitnya, lebar selat ini hanya 33 kilometer, sementara jalur pelayarannya sendiri hanya sekitar 3 kilometer.
Menurut data dari perusahaan analitik Vortexa, antara awal tahun 2022 hingga bulan lalu, diperkirakan sekitar 17,8 juta hingga 20,8 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar lainnya melewati selat ini setiap harinya.
Negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, mengandalkan selat ini untuk mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka, terutama ke kawasan Asia.
Penutupan Selat Hormuz bisa memberikan keuntungan strategis, misalnya untuk menekan pemerintahan Trump. Namun, langkah tersebut juga dapat menyebabkan lonjakan harga minyak yang berdampak langsung pada inflasi, tidak hanya di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Di sisi lain, tindakan ini akan merugikan Iran secara ekonomi, karena negara tersebut sangat bergantung pada jalur ekspor yang sama.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz bisa memicu keterlibatan negara-negara Teluk Arab yang, meskipun mengkritik serangan Israel, mungkin terdorong untuk terlibat dalam konflik demi melindungi kepentingan ekonomi mereka. Khususnya, penutupan selat ini akan sangat merugikan China, sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia yang membeli hampir 90 persen ekspor minyak Iran yang kini berada di bawah sanksi internasional.