Kunjungan Trump ke Beijing Berbuah Kesepakatan Minyak dan Gencatan Perang Dagang
Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas isu strategis terkait perdagangan dan hubungan bilateral antara kedua negara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meninggalkan Beijing pada hari Jumat setelah mengadakan dua hari pembicaraan dengan Presiden China, Xi Jinping. Pertemuan ini membahas berbagai isu strategis, termasuk Iran, Taiwan, perdagangan, minyak, dan industri penerbangan Boeing. Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping berlangsung dengan meriah, ditandai dengan upacara kenegaraan, jamuan makan malam resmi, serta penyambutan yang melibatkan barisan anak muda pengibar bendera.
Dikutip dari CNBC pada Jumat (15/5/2026), Xi Jinping menyatakan bahwa Amerika Serikat dan China sepakat untuk membangun "stabilitas strategis" sebagai kerangka hubungan kedua negara selama tiga tahun ke depan. Dalam kesempatan tersebut, Trump mengklaim bahwa China telah setuju untuk membeli minyak dari Amerika Serikat dan akan memesan 200 pesawat dari Boeing. Namun, sejumlah analis menilai masih banyak kesepakatan yang memerlukan proses lanjutan sebelum dapat terwujud.
Ryan Fedasiuk, peneliti dari American Enterprise Institute, menegaskan bahwa hasil utama dari pertemuan ini akan bergantung pada kesiapan masing-masing pihak untuk mewujudkan kesepakatan tersebut.
"Sejujurnya, masih banyak kesepakatan yang akan dibiarkan matang lebih lanjut sebelum benar-benar terealisasi," ungkap Ryan Fedasiuk. Selain itu, Trump juga mengundang Xi Jinping untuk berkunjung ke Gedung Putih pada 24 September mendatang, yang diumumkan saat jamuan makan malam kenegaraan pada malam Kamis.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa pembicaraan perdagangan antara kedua negara akan berlanjut setelah pertemuan di Beijing. Direktur studi politik internasional di Chinese Academy of Social Sciences, Hai Zhao, mengatakan bahwa perhatian kini tertuju pada rencana kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat pada bulan September. "Ini pasti akan menjadi kunjungan kenegaraan karena itu adalah hal yang setara. Ini merupakan kunjungan balasan atas lawatan resmi Presiden Trump ke China," jelas Zhao. Ia juga menyebut kemungkinan Xi Jinping akan mengunjungi New York terlebih dahulu sebelum menuju Washington DC.
Berikut ini adalah rangkuman kesepakatan antara Trump dan Xi Jinping:
China akan Beli Minyak dari Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa China telah sepakat untuk membeli minyak dari Amerika Serikat. Kesepakatan ini terjadi di tengah upaya kedua negara untuk mencapai kesepakatan bisnis yang lebih konkret. Proses ini akan melibatkan pengiriman kapal-kapal China ke wilayah Texas, Louisiana, dan Alaska untuk memulai ekspor komoditas energi tersebut. Langkah ini sangat penting, terutama mengingat bahwa ekspor minyak mentah AS ke China pernah mengalami penurunan drastis hingga 95 persen pada tahun 2025.
China, yang merupakan pembeli terbesar minyak Iran, diharapkan dapat memperbaiki neraca perdagangan energi dengan beralih ke pasokan dari AS. Hal ini menjadi harapan baru bagi kedua negara yang hubungan perdagangan energinya sempat menurun dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, China juga sepakat untuk berperan dalam negosiasi terkait konflik di Iran dan berkomitmen untuk tidak memasok peralatan militer ke Teheran. Pemimpin China, Xi Jinping, menyatakan dukungannya agar Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas dari hambatan perdagangan, yang penting untuk menjaga stabilitas jalur pelayaran global.
Kementerian Luar Negeri China telah mengonfirmasi adanya konsensus baru ini sebagai bagian dari upaya untuk membangun stabilitas strategis dalam hubungan bilateral selama tiga tahun ke depan. Beijing juga mendesak perlunya gencatan senjata yang langgeng di Timur Tengah untuk menjamin keamanan pasokan energi dan kelancaran logistik di kawasan Teluk. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan hubungan antara AS dan China dapat semakin membaik dan memberikan manfaat bagi kedua negara.
China akan Pesan 200 Pesawat Boeing
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa China telah sepakat untuk memesan 200 unit pesawat Boeing. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kenegaraannya ke China pada pertengahan Mei 2026, yang dianggap sebagai langkah signifikan bagi industri penerbangan Amerika di pasar Asia.
Meskipun Trump telah mengonfirmasi jumlah pesanan tersebut, sejumlah analis sebelumnya memperkirakan bahwa angka yang sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Lembaga riset Jefferies bahkan memprediksi potensi pesanan dari China dapat mencapai hingga 500 unit pesawat untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara yang terus berkembang di negara tersebut.
Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi Boeing, yang telah hampir satu dekade tidak menerima pesanan besar dari China, setelah pasar tersebut didominasi oleh pesaing utamanya, Airbus. CEO Boeing, Kelly Ortberg, yang hadir mendampingi Trump, menyebut pertemuan puncak ini sebagai peluang strategis yang sangat berarti bagi pemulihan bisnis perusahaan.
Walaupun rincian mengenai jenis pesawat yang dipesan belum diumumkan secara resmi, para analis memperkirakan bahwa pesanan tersebut akan mencakup ratusan unit model 737 Max, yang merupakan produk terlaris Boeing. Hingga saat ini, baik pihak Boeing maupun Gedung Putih masih menahan komentar lebih lanjut terkait detail teknis dan nilai kontrak dari kesepakatan besar tersebut.
Gencatan Dagang
Kedua pemimpin telah sepakat untuk melanjutkan gencatan dagang yang telah ada serta membangun hubungan bilateral yang "stabil secara strategis dan konstruktif" untuk tiga tahun ke depan. Meskipun demikian, China memberikan peringatan tegas agar isu sensitif seperti Taiwan ditangani dengan hati-hati untuk menghindari bentrokan yang tidak diinginkan.
Presiden Xi Jinping mengingatkan Presiden Donald Trump bahwa isu Taiwan adalah persoalan paling sensitif dalam hubungan antara kedua negara. Ia menekankan bahwa stabilitas hubungan antara China dan AS sangat bergantung pada cara menangani masalah ini, karena penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan bentrokan yang berpotensi menjadi konflik besar yang membahayakan kedua belah pihak.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Great Hall of the People, Xi mengibaratkan perdamaian di Selat Taiwan dan kemerdekaan Taiwan sebagai dua elemen yang tidak mungkin bersatu, seperti api dan air. Ia menegaskan bahwa menjaga perdamaian di wilayah tersebut adalah kepentingan bersama yang paling besar, tetapi hal itu memerlukan penolakan tegas terhadap segala bentuk upaya kemerdekaan Taiwan.
Xi juga menyoroti dinamika perubahan global yang sangat cepat dan penuh gejolak, yang belum pernah terjadi dalam satu abad terakhir. Ia menantang kedua negara besar ini untuk menciptakan paradigma hubungan baru yang dapat menghindari konflik klasik, sekaligus bekerja sama dalam menghadapi tantangan global demi kesejahteraan umat manusia.