China Bantah Klaim Trump Sebut Xi Jinping Telepon Dirinya Soal Tarif
Kementerian Luar Negeri China bantah klaim Trump mengenai telepon dari Xi Jinping, menegaskan tidak ada negosiasi tarif antara kedua negara.
Kementerian Luar Negeri China secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan telah menerima panggilan telepon dari Presiden Xi Jinping untuk membahas negosiasi tarif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa tidak ada komunikasi atau negosiasi antara kedua kepala negara terkait masalah tarif. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap klaim Trump yang disampaikan dalam wawancara dengan majalah Time dan kepada wartawan.
Meskipun demikian, laporan menunjukkan bahwa China secara diam-diam telah menghapus beberapa tarif impor untuk produk-produk AS tertentu, seperti semikonduktor dan suku cadang pesawat terbang, meskipun hal ini belum diumumkan secara resmi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai dinamika hubungan dagang antara kedua negara di tengah perang tarif yang sedang berlangsung.
Dalam wawancara tersebut, Trump mengklaim bahwa ia telah menerima telepon dari Xi Jinping dan menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah tanda kelemahan dari pihak China. Ia juga menyatakan optimis bahwa kesepakatan dagang akan tercapai dalam waktu tiga hingga empat minggu. Namun, Trump tidak memberikan detail mengenai waktu dan isi pembicaraan tersebut.
Bantahan China Terhadap Klaim Trump
China secara konsisten membantah klaim Trump, menekankan tidak adanya komunikasi atau negosiasi terkait tarif antara kedua negara. Guo Jiakun menyatakan, "Sejauh yang saya tahu, tidak ada percakapan telepon baru-baru ini antara kedua kepala negara." Pernyataan ini menegaskan bahwa saat ini tidak ada dialog atau perundingan yang sedang berlangsung antara kedua negara terkait upaya penyelesaian perang tarif yang sedang berlangsung.
Dalam konteks ini, China menekankan bahwa untuk mencapai solusi, Amerika Serikat harus menghentikan ancaman dan tekanan terhadap China. Mereka juga menambahkan bahwa kesediaan untuk bernegosiasi ada, namun dengan syarat AS menunjukkan rasa hormat, konsistensi dalam kebijakannya, dan mengatasi kekhawatiran China terkait sanksi dan Taiwan.
Perang Tarif dan Dampaknya
Konflik ini terjadi dalam konteks perang tarif yang sedang berlangsung antara AS dan China. AS telah menjatuhkan tarif impor yang tinggi terhadap produk-produk China, dan China membalas dengan menaikkan tarif impor untuk produk-produk AS. Meskipun terjadi perang tarif, China dilaporkan telah secara diam-diam menghapus beberapa tarif untuk produk-produk AS tertentu.
Perang dagang antara AS dan China berdampak signifikan terhadap ekonomi global dan pasar keuangan. Keberhasilan kedua negara dalam mencapai kesepakatan akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi dunia. China menyatakan bahwa mereka menginginkan negosiator penting dari pihak AS yang didukung penuh oleh Presiden Trump untuk memfasilitasi proses negosiasi yang lebih konstruktif.
Dalam pernyataan terpisah, Trump juga mulai melunakkan pernyataannya mengenai tarif, dengan menyatakan bahwa tarif tinggi yang diberlakukan AS terhadap barang-barang asal China akan turun secara signifikan. Ia berjanji akan bersikap sangat ramah di meja perundingan dalam upayanya mendorong Presiden Xi Jinping untuk memulai dialog.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan dagang antara kedua negara dan pentingnya komunikasi yang jelas untuk menghindari kesalahpahaman. Sebagai catatan, informasi ini valid per tanggal 29 April 2025, dan situasi dapat berubah sewaktu-waktu.