AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran
Militer Amerika Serikat membela tindakan yang diambilnya dengan alasan bahwa itu merupakan langkah untuk melindungi diri sendiri.
Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan pada Senin (25/5/2026) di bagian selatan Iran, menargetkan beberapa lokasi, termasuk kapal-kapal yang berusaha menyebarkan ranjau dan tempat peluncuran rudal.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) mengungkapkan bahwa serangan ini bertujuan untuk melindungi pasukan mereka dari ancaman yang ditimbulkan oleh Iran.
"Komando Pusat AS terus melindungi pasukan kami sambil tetap menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," ungkap Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS.
Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama menyatakan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran harus mencakup syarat agar beberapa negara lain, seperti Arab Saudi dan Pakistan, bergabung dalam Abraham Accords.
Abraham Accords adalah serangkaian perjanjian diplomatik, ekonomi, dan keamanan yang diprakarsai oleh AS pada masa jabatan pertama Trump untuk menormalkan hubungan dengan Israel.
Trump mengklaim bahwa negosiasi berjalan dengan baik, tetapi ia mengaitkan setiap kemungkinan kesepakatan dengan perluasan partisipasi dalam kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2020 tersebut.
Trump menyebutkan beberapa negara, termasuk Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania, sebagai negara-negara yang harus segera bergabung dalam Abraham Accords.
Ia menegaskan bahwa setelah semua upaya yang dilakukan AS untuk menyatukan teka-teki yang sangat kompleks ini, negara-negara tersebut seharusnya diwajibkan untuk menandatangani Abraham Accords secara bersamaan.
Meskipun Trump berharap Arab Saudi akan bergabung dengan Abraham Accords, negara tersebut menyatakan bahwa setiap kesepakatan normalisasi harus terlebih dahulu mencakup jalur yang jelas menuju pembentukan negara Palestina.
Hal ini juga menjadi perhatian bagi Pakistan, yang merupakan salah satu negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Analis yang berbasis di Islamabad, Syed Mohammad Ali, menyatakan bahwa posisi Pakistan terhadap Israel tetap tidak berubah meskipun ada proposal terbaru dari Trump.
Dimensi Baru
Trump mengungkapkan bahwa dia telah membahas rencana Abraham Accords dengan para pemimpin negara selama negosiasi yang berlangsung pada hari Sabtu. Dia menyatakan bahwa dia akan menerima jika "satu atau dua" negara menolak untuk menandatangani kesepakatan, tetapi dia percaya bahwa sebagian besar negara seharusnya bersedia untuk berpartisipasi.
Mesir dan Yordania, sebagai contoh, telah secara resmi mengakui Israel dan memiliki perjanjian damai yang sudah berlangsung lama. Selain itu, Turki juga menjadi salah satu negara yang mengakui Israel sejak tahun 1949.
Mantan duta besar Pakistan untuk AS, Masood Khan, menekankan bahwa masih perlu dilihat sejauh mana proposal tersebut dapat diterapkan bagi negara-negara yang termasuk dalam daftar yang diusulkan oleh Trump.
Dia mengatakan, "Penyebutan Abraham Accords pada tahap ini memberikan dimensi baru sepenuhnya terhadap proses diplomatik dan mediasi karena isu ini sebelumnya tidak ada dalam agenda." Khan juga menunjukkan adanya tekanan domestik yang dihadapi Trump untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan.
Meskipun begitu, dia menambahkan, "Jalur diplomatik masih terus berjalan dan saya yakin Pakistan berada tepat di pusat proses tersebut, dengan dukungan negara-negara kawasan."
Hingga saat ini, masih belum jelas kapan atau bagaimana kesepakatan dengan Iran dapat diselesaikan. Trump mengisyaratkan bahwa bahkan Iran pada akhirnya bisa ikut menandatangani kesepakatan tersebut jika suatu perjanjian tercapai.
Abraham Accords sendiri awalnya melibatkan Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, kemudian diikuti oleh Sudan, Maroko, dan yang terbaru, Kazakhstan. Kesepakatan ini dipandang sebagai upaya untuk mendorong kerja sama antarnegara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan pemerintah Trump melihatnya sebagai langkah menuju terjalinnya hubungan penuh dengan Israel.