Bukan Hanya Media Sosial, Ini Deretan Bisnis Besar Milik Meta
Di luar platform Facebook, Meta berupaya bertahan dengan mengandalkan lima pilar akuisisi utama yang telah membentuk lanskap dunia digital saat ini.
Sejak awal berdirinya, Meta tidak pernah ragu untuk mengeluarkan dana besar dalam upaya mengakuisisi perusahaan lain.
Di balik kesuksesan bisnisnya yang luas saat ini, terdapat lebih dari 100 akuisisi yang telah dilakukan, sebuah strategi agresif yang CEO Mark Zuckerberg sebut sebagai cara untuk mencari talenta berbakat, bukan hanya untuk menghalau pesaing.
Namun, tindakan yang agresif ini membawa dampak yang signifikan. Pada Mei 2026, perusahaan teknologi raksasa ini menghadapi tantangan besar berupa restrukturisasi, dengan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 8.000 karyawan.
Langkah efisiensi ini muncul di tengah peningkatan anggaran belanja yang mencapai USD 145 miliar, seiring dengan ambisi besar Meta untuk mendominasi persaingan di bidang teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pada 2025 telah menghabiskan dana sebesar USD 72,2 miliar.
Saat ini, dengan total 80.000 karyawan di seluruh dunia, Meta berusaha bertahan melalui lima akuisisi terbesarnya yang telah membentuk wajah dunia digital saat ini.
1. Instagram diakuisisi pada tahun 2012 dengan nilai USD 1 miliar—jumlah yang dianggap sangat besar pada masa itu—dan kini Instagram telah menjadi salah satu investasi paling sukses bagi Meta. Aplikasi berbasis foto ini saat ini memiliki 3 miliar pengguna dan terus berkembang dengan fitur Reels untuk bersaing dengan TikTok, serta Threads yang memanfaatkan momentum perubahan di Twitter (X). Menariknya, pasar terbesar Instagram bukanlah Amerika Serikat dengan 172 juta pengguna, melainkan India yang mencatat 414 juta pengguna pada tahun 2025. Hal ini sebagaimana yang dilaporkan oleh BGR pada Selasa, 26 Mei 2026.
WhatsApp, yang diakuisisi dengan nilai USD 19 miliar pada tahun 2014, terus menjadi kekuatan utama bagi Meta di saat berbagai divisi lainnya mengalami kesulitan.
Meskipun aplikasi ini diblokir di negara-negara seperti Rusia dan Tiongkok, WhatsApp, yang menawarkan enkripsi end-to-end, berhasil menarik lebih dari 3 miliar pengguna di wilayah Eropa, India, dan Inggris.
Untuk memperluas sumber pendapatannya, WhatsApp meluncurkan layanan langganan baru bernama WhatsApp Plus pada Mei 2026, yang memberikan pengguna lebih banyak opsi untuk kustomisasi.
3. Reality Labs
Ini adalah divisi yang sebelumnya dikenal sebagai Oculus VR, yang diakuisisi dengan harga USD 2 miliar pada tahun 2014. Sayangnya, divisi ini menjadi salah satu yang paling merugikan bagi Meta, dengan kerugian yang mencapai USD 80 miliar sejak tahun 2020.
Sebagai langkah untuk mengatasi masalah ini, Meta terpaksa mengurangi 10 persen dari jumlah staf di divisi ini dan menutup beberapa studio game internal. Saat ini, fokus Mark Zuckerberg dilaporkan mulai beralih dari pengembangan metaverse ke kecerdasan buatan (AI).
Beluga
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa Meta tidak menciptakan fitur obrolan Facebook dari awal. Pada tahun 2011, mereka mengakuisisi Beluga, sebuah aplikasi pesan grup yang tersedia di iOS dan Android.
Dengan menggunakan cetak biru yang ada pada Beluga, Meta berhasil mengembangkan Facebook Messenger, yang sekarang beroperasi secara mandiri. Messenger telah mencapai jumlah pengguna aktif sekitar 1 miliar pada tahun 2026.
Proses pengembangan ini menunjukkan bagaimana Meta memanfaatkan teknologi yang sudah ada untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar dan lebih fungsional.
Dengan langkah tersebut, Meta tidak hanya mempercepat pengembangan fitur obrolan tetapi juga memperluas jangkauan dan fungsionalitas aplikasi Messenger. Hal ini membuktikan bahwa akuisisi strategis dapat menjadi kunci dalam inovasi dan pertumbuhan dalam industri teknologi.
Moltbook
Moltbook kini menjadi investasi terbaru dari Meta dalam bidang platform sosial yang didukung oleh agen AI. Diluncurkan di tengah popularitas asisten AI seperti OpenClaw, platform ini mengklaim memiliki 3 juta agen AI yang terdaftar.
Namun, meskipun Meta menyatakan bahwa akuisisi ini bertujuan untuk "membuka jalan baru bagi agen AI", platform ini malah menghadapi banyak skeptisisme.
Laporan investigasi yang diterbitkan oleh CNBC, The Verge, dan Wired mengungkapkan adanya celah manipulasi konten dalam Moltbook, sehingga keaslian interaksi yang diklaim sepenuhnya digerakkan oleh AI patut dipertanyakan.