Mark Zuckerberg saat ini memang dikabarkan sedang memburu talenta AI terbaik di dunia. Tujuannya agar bisa bersaing dengan rivalnya seperti Googel DeepMind dan OpenAI. Karena itulah, ia rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menggaji para ahli itu dengan nominal yang fantastis.
Kata Deedy Das, seorang pemodal ventura di Menlo Ventures, ada yang ditawari lebih dari USD10 juta per tahun atau setara Rp160 miliar dalam bentuk uang tunai.
Meski begitu, recruitment ini masih menyisakan kesulitan bagi Mark. Mengapa? Karena tak semua ahli AI mau dengan tawarannya – selain gaji mereka sudah besar dan privilege.
“Banyak orang bisa dibeli, asal harganya tepat. Namun, ada juga yang sudah terlalu kaya untuk bisa dibeli lagi,” kata dia.
Mengutip Fortune, Kamis (19/6), salah satu faktor penghambat besar adalah reputasi Meta sendiri. Rangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK) massal awal tahun ini jadi momok bagi banyak calon talenta.
Sekitar 3.600 karyawan—sekitar 5 persen dari total pekerja Meta—dirumahkan, termasuk dari divisi yang sebelumnya dianggap menjanjikan.
Dalam memo internal, Zuckerberg mengaku ingin “menaikkan standar kinerja” dan segera memecat “karyawan berkinerja rendah”. Langkah ini—meski dianggap tegas oleh sebagian pihak—menimbulkan ketakutan di kalangan calon karyawan.
Seorang peneliti AI menyebut bahwa tawaran gaji besar dari Zuckerberg memang menggiurkan, tapi kepercayaan terhadap Meta sudah goyah.
“Orang-orang masih trauma dengan ‘pembantaian’ PHK sebelumnya,” ujarnya.
Ironisnya, tim riset AI andalan Meta sendiri, yaitu FAIR (Fundamental AI Research), justru semakin tersisih dari proyek besar seperti pengembangan model bahasa Llama. Banyak peneliti utama di balik Llama sudah hengkang, termasuk dua cofounder startup AI asal Prancis, Mistral.
Joelle Pineau, kepala FAIR, juga mengundurkan diri pada April lalu. Bahkan, tiga peneliti top Meta keluar dan mendirikan startup AI agent bernama Yutori. Semua ini membuat Meta tampak seperti kapal besar tanpa arah yang ditinggal para nakhodanya.