Mark Zuckerberg Pertaruhkan Duit Rp230 Triliun Demi Kejar AI
Langkah ini menandai upaya agresif Zuckerberg dalam memperkuat tim riset AI Meta.
Raksasa teknologi Meta resmi membeli 49% saham perusahaan rintisan AI, Scale AI, senilai $14,3 miliar atau sekitar Rp230 triliun.
Tak hanya itu, Meta juga langsung merekrut sang CEO, Alexandr Wang, untuk memimpin laboratorium AI baru yang akan difokuskan pada pengembangan teknologi "superintelligence".
Dikutip TheVerge, Jumat (13/6), Wang akan langsung bertanggung jawab kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg, sebagaimana diumumkan kedua perusahaan pada Kamis waktu setempat.
Ia akan tetap menjabat sebagai anggota dewan direksi Scale, sementara jabatan CEO diisi oleh Jason Droege, mantan Chief Strategy Officer perusahaan tersebut.
“Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan membagikan lebih banyak detail soal tim hebat yang akan bergabung dalam upaya ini,” ujar juru bicara Meta, Ashley Zandy.
Meta Berburu Talenta AI
Langkah ini menandai upaya agresif Zuckerberg dalam memperkuat tim riset AI Meta setelah kemunduran dalam pengembangan Llama 4.
Menurut sumber internal dan laporan media, Zuckerberg secara pribadi menghubungi para peneliti dari perusahaan pesaing — termasuk Google — melalui email atau pesan WhatsApp, dan menawarkan paket kompensasi tujuh hingga delapan digit.
Langkah ini bertujuan mendongkrak reputasi dan performa unit AI Meta yang selama ini tertinggal dari kompetitor seperti OpenAI, Anthropic, DeepSeek, dan Google DeepMind.
Scale sendiri selama ini dikenal sebagai mitra penting bagi perusahaan AI besar. Mereka menyediakan layanan anotasi data — pekerjaan penting dalam pelatihan model AI — yang sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja berbiaya rendah di luar AS.
Dalam memo internal kepada karyawan, Wang menulis bahwa Scale kini telah berkembang menjadi perusahaan dengan lebih dari 1.500 karyawan dan menjadi mitra terpercaya bagi pengembang model, pelaku industri, hingga pemerintah.
“Scale kini menjadi salah satu perusahaan paling berdampak di dunia, mempercepat pengembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia,” tulis Wang.
Wang Pindah ke Meta, Pemegang Saham Scale Panen Cuan
Ia juga menegaskan bahwa dana segar dari investasi Meta akan dibagikan kepada para pemegang saham dan pemilik saham terikat, sembari tetap memberi peluang bagi mereka untuk tetap ikut dalam pertumbuhan Scale di masa mendatang.
Akuisisi ini dianggap sebagai validasi kuat atas visi dan misi Scale, serta menjadi tonggak penting dalam evolusi ekosistem AI global.
Namun, di sisi Meta, akuisisi ini juga menjadi bentuk perombakan besar setelah peluncuran Llama 4 yang mengecewakan. Model ini sempat tertunda beberapa kali, dan bahkan sempat tersandung skandal setelah ketahuan "memanipulasi" peringkat publik untuk tampil lebih baik dari kenyataan.
Versi terbesarnya, Llama 4 Behemoth, yang sempat diumumkan pada April lalu, hingga kini belum juga dirilis.
Target 2025: “Personal AI” dan General Intelligence
Zuckerberg secara terbuka telah menyatakan bahwa dua prioritas Meta untuk 2025 adalah menjadikan asisten virtual Meta AI sebagai "personal AI terdepan" dan membangun kecerdasan umum buatan (AGI atau general intelligence).
Meski Meta AI telah diklaim memiliki satu miliar pengguna aktif bulanan, angka ini dipengaruhi oleh keberadaan asisten tersebut di seluruh lini produk Meta — dari Instagram, WhatsApp, hingga Facebook.
Pada April lalu, Meta juga meluncurkan aplikasi khusus untuk Meta AI, menampilkan feed sosial berisi cara pengguna memakai teknologi tersebut. Aplikasi ini sempat meroket ke puncak App Store, namun kemudian kehilangan momentum popularitas.