Sam Altman ungkap Ahli AI di Open AI tak Tergoda Diguyur Duit Miliaran dari Mark Zuckerberg
Sam Altman mengkritisi cara Mark Zuckerberg melampiaskan ambisinya untuk membangun super intelligence dengan bajak ahli AI.
Persaingan di dunia kecerdasan buatan (AI) kian memanas. Kali ini, bos OpenAI, Sam Altman, mengungkap bahwa Meta—perusahaan milik Mark Zuckerberg—tengah gencar membujuk para pakar AI top OpenAI dengan tawaran gila yakni bonus penandatanganan senilai USD100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun per orang.
Pernyataan tersebut disampaikan Altman dalam podcast Uncapped yang dipandu saudaranya, Jack Altman.
“Mereka mulai menawarkan angka luar biasa ke banyak orang di tim kami—bonus tanda tangan USD100 juta, dan kompensasi tahunan yang lebih besar dari itu,” ungkap Altman dikutip dari TheGuardian, Kamis (19/6).
“Itu benar-benar gila,” tambah dia.
Namun, sejauh ini, Altman mengklaim belum ada dari talenta terbaik OpenAI yang tergoda untuk pindah. Menurutnya, strategi Meta yang mengandalkan uang besar sebagai daya tarik utama justru menjadi kelemahan.
Kendati begitu, kata Altman Meta terlalu fokus pada kompensasi besar ketimbang misi dan pekerjaan itu sendiri.
“Strategi memberi banyak uang di awal—itu bukan cara membangun budaya yang sehat,” katanya.
Ia menambahkan, semangat kerja tim seharusnya lahir dari keyakinan terhadap visi dan dampak teknologi, bukan karena diguyur uang.
Pernyataan Altman ini belum mendapat respons langsung dari Meta. Namun, OpenAI menegaskan tak ada komentar tambahan selain yang sudah disampaikan oleh sang CEO.
Ambisi Meta Bangun Superintelligence
Latar belakang dari perebutan talenta ini adalah ambisi Meta untuk membangun AI superintelligence—sistem kecerdasan buatan yang melampaui kemampuan manusia dalam seluruh aspek kognitif.
Untuk itu, pekan lalu Meta meluncurkan investasi sebesar USD15 miliar dan membeli sebagian besar saham perusahaan rintisan Scale AI, yang bernilai USD29 miliar.
Scale AI didirikan oleh Alexandr Wang, programmer muda berusia 28 tahun yang kini bergabung ke dalam proyek besar Meta.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Meta siap membakar uang demi mempercepat dominasinya dalam dunia AI, mengejar ketertinggalannya dari para pemain utama seperti OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic.
Meski optimistis dengan masa depan AI, Altman juga memberi peringatan. Ia mengatakan, meski manusia berhasil menciptakan superintelligence, belum tentu itu akan mengubah hidup secara signifikan.
“Fakta bahwa teknologi ini bisa melakukan hal luar biasa, tapi Anda masih menjalani hidup yang sama seperti dua tahun lalu, itu aneh,” ujarnya.
Namun ia percaya, dampak sejati dari AI akan terasa dalam penemuan ilmiah. “Saya pikir dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, AI akan menemukan ilmu pengetahuan baru. Klaim ini memang terdengar gila, tapi saya yakin itu akan terjadi. Dan jika benar, maka dampaknya akan melampaui semua pencapaian AI sejauh ini.”