Ucapan 'Terima Kasih' ke ChatGPT Bisa Habiskan Jutaan Dolar
Beban berat yang harus ditanggung OpenAI ketika ada pengguna memberikan reaksi sekadar ucapan "terima kasih" menghabiskan jutaan dolar.
Ucapan sopan seperti "tolong" dan "terima kasih" yang dilontarkan pengguna saat berinteraksi dengan ChatGPT mungkin terdengar sepele.
Namun menurut CEO OpenAI, Sam Altman, kesopanan digital ini memiliki konsekuensi nyata dalam hal konsumsi energi dan biaya operasional.
Dalam pernyataan terbarunya, Altman mengungkap bahwa kebiasaan ini turut menyumbang lonjakan beban komputasi hingga menelan biaya listrik jutaan dolar.
“Setiap kata tambahan yang diproses oleh ChatGPT menambah beban sistem. Artinya, energi lebih banyak terpakai, dan tagihan listrik naik secara signifikan,” ujar Altman dikutip dari Jerusalem Post, Rabu (23/4).
Berdasarkan estimasi terbaru, satu permintaan ke ChatGPT dapat menggunakan sekitar 2,9 watt-jam listrik, hampir sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan permintaan pencarian Google.
Dengan volume permintaan harian yang menembus angka satu miliar, beban energi dari chatbot ini menjadi isu serius.
Selain listrik, penggunaan air juga menjadi perhatian. Menurut studi dari University of California Riverside, menghasilkan satu email 100 kata menggunakan ChatGPT dapat menyedot sekitar 1.400 mililiter air. Air digunakan untuk proses pendinginan server di pusat data yang menjalankan model AI.
Meski begitu, banyak pengguna tetap memilih untuk bersikap sopan. Sebuah survei mencatat bahwa lebih dari 67% pengguna di Amerika Serikat menggunakan kata-kata seperti "tolong" atau "terima kasih" dalam interaksi dengan AI.
Sekitar 55% mengatakan bahwa itu adalah kebiasaan moral, sementara 12% menyebutnya sebagai bentuk antisipasi jika suatu saat AI menjadi sadar.
Altman mengakui bahwa meski ada dampak terhadap biaya dan lingkungan, interaksi sopan antara manusia dan AI tetap membawa nilai sosial.
“Interaksi yang alami dan sopan adalah bagian penting dari cara kita membentuk hubungan yang sehat antara manusia dan teknologi,” ujarnya.
Namun dengan semakin meningkatnya kesadaran akan emisi karbon dan efisiensi digital, para pakar mulai menyerukan perlunya edukasi publik tentang dampak tak terlihat dari percakapan sehari-hari dengan AI.
Beberapa menyarankan agar pengguna mempertimbangkan efisiensi kata dalam permintaan mereka, terutama dalam penggunaan skala besar oleh institusi atau organisasi.
Isu ini memperlihatkan dilema baru dalam era kecerdasan buatan: bagaimana menjaga sisi humanis dalam interaksi digital, tanpa mengabaikan dampak ekologis yang ditimbulkannya.