Jangan Pernah Minta Dibuatkan Puisi ke ChatGPT, Dampaknya Mengerikan
Ada dampak dari setiap permintaan pengguna ChatGPT terhadap iklim.
Sebuah studi dari Jerman mengungkap bahwa interaksi pengguna dengan kecerdasan buatan seperti ChatGPT dapat menghasilkan emisi karbon yang signifikan, terutama jika permintaan (prompt) yang diberikan panjang dan kompleks.
Penelitian dilakukan dengan menguji 14 model AI sumber terbuka dari berbagai ukuran parameter untuk menjawab 1.000 pertanyaan.
Hasilnya, model yang menggunakan proses penalaran menghasilkan emisi CO₂ hingga 50 kali lebih banyak dibandingkan yang hanya memberikan jawaban langsung.
Penulis utama studi, Maximilian Dauner dari Hochschule München, menjelaskan bahwa faktor besar lain justru datang dari pengguna.
“Karena orang menulis ‘tolong’ dan ‘terima kasih’, model memberikan jawaban lebih panjang. Itu berarti eksekusinya lebih lama dan konsumsi energinya lebih besar,” ujarnya dikutip dari BBC Science Focus, Sabtu (21/6).
Studi menyarankan agar pengguna mulai memberi perintah yang lebih ringkas dan langsung ke inti, seperti meminta jawaban dalam poin-poin ketimbang paragraf panjang, serta menghindari permintaan konten tak perlu seperti gambar lucu atau puisi.
“Kalau tidak benar-benar dibutuhkan, hindari permintaan iseng. Semua punya dampak karbon,” ujar Dauner.
Ia juga menemukan bahwa jenis pertanyaan turut menentukan besarnya emisi. Topik matematika dan filsafat, misalnya, jauh lebih boros energi dibanding pertanyaan umum.
Meski studi ini memakai model yang lebih kecil, Dauner meyakini bahwa model raksasa seperti ChatGPT atau Copilot menghasilkan emisi jauh lebih besar karena jumlah parameternya berkali lipat.
Ia menyarankan agar perusahaan teknologi juga mengambil peran aktif dengan membangun sistem yang bisa memilih model paling efisien untuk menjawab permintaan, bukan langsung menjalankan model terbesar.
“Saya penggemar berat teknologi ini, tapi kita harus sadar akan dampaknya. Gunakan AI secara bijak dan efisien,” katanya.