Kucing dan Anjing Liar Sering Masuk Rumah? Waspadai 4 Risiko Penyakit Ini
Meskipun tingkah mereka terlihat menggemaskan, hewan liar ini juga membawa risiko kesehatan yang harus diperhatikan.
Kehadiran kucing atau anjing liar yang sering datang ke rumah dapat membuat suasana menjadi lebih ceria. Banyak orang merasa kasihan dan memberikan makanan atau membiarkan hewan-hewan tersebut beristirahat di teras atau halaman rumah.
Meskipun tingkah mereka terlihat menggemaskan, hewan liar ini juga membawa risiko kesehatan yang harus diperhatikan, terutama jika mereka sering berinteraksi langsung dengan penghuni rumah. Banyak orang yang belum menyadari bahwa kucing dan anjing liar dapat menjadi pembawa kutu, jamur, bakteri, serta parasit tertentu yang dapat menular kepada manusia dan hewan peliharaan lainnya.
Risiko ini akan meningkat jika kebersihan lingkungan rumah tidak terjaga dengan baik, atau jika hewan liar tersebut bebas masuk ke area dapur, ruang tamu, dan tempat bermain anak.
Bahkan, beberapa penyakit dapat menular tanpa disadari hanya melalui bulu, air liur, atau kotoran hewan yang tertinggal di sekitar rumah. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami berbagai risiko penyakit yang mungkin muncul akibat keberadaan kucing atau anjing liar di sekitar rumah.
Dengan memahami potensi bahayanya sejak awal, penghuni rumah dapat bersikap bijak terhadap hewan liar tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan kebersihan lingkungan. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap dan mendalam dari drh. Winda Hermin Ayulian (30) yang disampaikan secara khusus kepada Liputan6.com.
Penyebaran kutu dan scabies dapat mengakibatkan gatal yang sangat mengganggu
Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, salah satu risiko kesehatan yang sering muncul akibat interaksi dengan kucing atau anjing liar adalah penularan kutu dan scabies, yaitu tungau.
Hewan liar yang berkeliaran di jalanan umumnya memiliki tingkat kebersihan yang rendah, sehingga sangat rentan menjadi tempat berkembang biaknya parasit. Ketika hewan-hewan tersebut sering berada di teras, memasuki rumah, atau berinteraksi langsung dengan manusia, kutu dan tungau dapat berpindah ke pakaian, sofa, karpet, atau bahkan kulit manusia.
"Penyakit dari anjing dan kucing ada beberapa yang bisa menular ke manusia. Jika melalui kontak langsung dengan hewan yang tertular kutu ataupun scabies (tungau) bisa menular ke manusia menyebabkan gatal yang berlebih efek dari gigitan kutu," ujar dokter hewan yang praktik di Sukowati Petshop Sragen.
Gigitan kutu biasanya menyebabkan rasa gatal yang sangat mengganggu, terutama di bagian kaki, tangan, dan area tubuh yang sering bersentuhan langsung dengan hewan. Dalam beberapa kasus, kulit dapat mengalami kemerahan, bentol, hingga iritasi akibat garukan berlebihan.
Sementara itu, scabies atau tungau dapat menimbulkan rasa gatal yang lebih parah, terutama saat malam hari. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat semakin parah karena tungau dapat berkembang biak di permukaan kulit. Risiko penularan akan semakin tinggi jika penghuni rumah sering memegang hewan liar tanpa mencuci tangan setelahnya.
Anak-anak juga termasuk kelompok yang cukup rentan karena sering bermain di lantai atau halaman yang mungkin telah terkontaminasi kutu dan tungau dari hewan liar. Oleh karena itu, menjaga kebersihan rumah, rutin mencuci tangan, serta menghindari kontak terlalu dekat dengan hewan liar adalah langkah-langkah penting untuk mencegah penularan parasit tersebut.
Cacing yang berasal dari kotoran hewan dapat menular ke manusia
Dokter hewan Winda Hermin Ayulian mengungkapkan bahwa kotoran dari kucing atau anjing liar dapat membawa telur dan larva cacing yang berpotensi menular kepada manusia.
Banyak orang sering menganggap bahwa membersihkan kotoran hewan adalah hal yang sepele, padahal risiko penularan ini tidak boleh diabaikan. Ketika seseorang membersihkan kotoran tanpa menggunakan sarung tangan atau berjalan tanpa alas kaki di area yang terkontaminasi, kemungkinan penularan cacing akan meningkat.
"Kemudian bisa adanya cacing di kotoran hewan dan kita tidak sengaja kontak langsung tanpa menggunakan alas kaki atau membersihkan dengan tangan tanpa perlindungan tepat bisa ikut tertular," lanjutnya.
Telur cacing yang terdapat pada tanah atau permukaan lantai dapat masuk ke dalam tubuh melalui tangan yang tidak bersih atau kulit yang mengalami luka kecil. Anak-anak yang bermain di halaman rumah menjadi kelompok yang rentan karena mereka sering menyentuh tanah dan kemudian memegang makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Dalam beberapa kasus, infeksi cacing dapat mengakibatkan gangguan pencernaan, sakit perut, kelelahan, serta penurunan nafsu makan. Selain itu, lingkungan yang lembap dan jarang dibersihkan dapat membuat telur cacing bertahan lebih lama. Oleh karena itu, sangat penting untuk segera membersihkan area yang terkena kotoran hewan dengan menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan disinfektan.
Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah juga merupakan langkah sederhana tetapi efektif untuk mengurangi risiko penularan cacing dari hewan liar.
Bahaya toksoplasma dapat berasal dari kotoran kucing liar
Kucing liar dapat menjadi pembawa parasit toksoplasma yang berasal dari kotorannya. Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, meskipun penularan Toksoplasma ke manusia tergolong rendah, tetap saja perlu diwaspadai, terutama jika kebersihan lingkungan rumah tidak terjaga dengan baik. Kotoran kucing yang dibiarkan terlalu lama di area terbuka bisa menjadi sumber penyebaran parasit jika tidak dibersihkan dengan benar.
"Ataupun kotoran yang sudah lama terpapar udara dari kucing liar pembawa toksoplasma juga bisa tertular ke manusia akan tetapi minim penularan karena toxoplasma paling banyak dari makanan mentah atau tidak diolah dengan maksimal seperti sayuran maupun daging," ungkap drh. Winda saat dihubungi Liputan6.com melalui pesan teks pada Kamis (7/5/2026).
Toksoplasma sering dikaitkan dengan risiko kesehatan bagi ibu hamil, karena infeksi serius dapat memengaruhi kondisi janin. Meskipun demikian, drh. Winda menjelaskan bahwa sumber penularan toksoplasma yang paling umum sebenarnya berasal dari makanan mentah atau kurang matang, seperti sayuran yang tidak dicuci bersih atau daging yang tidak dimasak dengan baik.
Di samping itu, kontak dengan kotoran kucing liar tetap bisa menjadi salah satu jalur penularan jika seseorang tidak menjaga kebersihan tangan setelah membersihkannya. Oleh karena itu, menjaga kebersihan area rumah yang sering dikunjungi kucing liar, terutama taman, halaman, atau sudut tertentu yang sering menjadi tempat buang kotoran, sangatlah penting.
Penting untuk menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotoran hewan guna mengurangi risiko paparan. Selain itu, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan maupun setelah beraktivitas di luar rumah adalah langkah penting untuk mencegah penularan parasit. Dengan menjaga kebersihan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan ini, kita dapat melindungi diri dari potensi bahaya yang ditimbulkan oleh toksoplasma dan menjaga kesehatan keluarga.
Rabies merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang dapat ditularkan oleh hewan liar
Rabies merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya dan harus diwaspadai, baik pada anjing maupun kucing liar. Menurut dokter hewan Winda Hermin Ayulian, penularan rabies dapat terjadi melalui gigitan hewan terinfeksi atau air liur yang mengenai luka terbuka di tubuh manusia.
Penyakit ini sangat serius karena menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapatkan penanganan medis.
"Kemudian yang berbahaya adalah penularan penyakit rabies pada hewan liar pembawa dan gigitan ke manusia atau air liur yang mengenai luka terbuka bisa menyebabkan penularan," tutupnya.
Hewan liar yang terinfeksi rabies seringkali menunjukkan perilaku yang tidak biasa, seperti menjadi lebih agresif, mudah menyerang, takut pada cahaya, atau mengeluarkan air liur berlebihan. Namun, dalam beberapa kasus, gejala pada hewan tidak selalu terlihat dengan jelas.
Oleh karena itu, masyarakat perlu tetap berhati-hati saat berinteraksi dengan hewan liar yang tidak dikenal. Risiko penularan menjadi lebih tinggi jika seseorang mencoba untuk memegang, mengusir, atau memberi makan hewan liar tanpa perlindungan yang memadai.
Apabila seseorang terkena gigitan atau cakaran dari hewan liar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka dengan air mengalir dan sabun selama beberapa menit.
Setelah itu, sangat dianjurkan untuk segera mencari pertolongan medis guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut atau vaksin antirabies jika diperlukan. Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik, salah satunya dengan menghindari kontak langsung dengan hewan liar dan menjaga jarak yang aman ketika hewan menunjukkan perilaku agresif.
Penyakit
Apakah kucing atau anjing liar dapat menularkan penyakit kepada manusia? Jawabannya adalah ya, beberapa penyakit dari kucing dan anjing liar memang dapat menular ke manusia. Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, risiko penularan tersebut bisa berasal dari kutu, scabies, cacing, toxoplasma, hingga rabies yang dibawa oleh hewan liar.
Penyakit apa yang paling sering ditularkan dari kucing atau anjing liar? Jawabannya adalah penyakit yang paling umum adalah gangguan kulit akibat kutu dan scabies. Gigitan kutu dapat menyebabkan gatal yang berlebihan, bentol, hingga iritasi pada kulit manusia, sehingga penting untuk menjaga kebersihan dan menghindari kontak langsung dengan hewan liar.
Apakah scabies yang berasal dari hewan bisa menular ke manusia? Jawabannya adalah bisa. Scabies, atau tungau, dapat berpindah melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau melalui benda yang sudah terkontaminasi, seperti karpet, sofa, atau alas tidur hewan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan lingkungan dan hewan peliharaan agar terhindar dari infeksi ini.
Bagaimana cara mengetahui apakah rumah sudah terkena kutu dari hewan liar? Jawabannya adalah biasanya akan muncul tanda-tanda seperti rasa gatal mendadak, bentol kecil pada kulit, atau adanya kutu kecil yang melompat di lantai, sofa, maupun kasur. Jika gejala ini muncul, segera lakukan pemeriksaan dan pembersihan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Apakah kotoran kucing atau anjing liar berbahaya? Jawabannya adalah ya, kotoran hewan liar dapat membawa telur cacing dan parasit tertentu yang berpotensi menular ke manusia jika terkena tangan atau kulit tanpa perlindungan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mencuci tangan setelah berinteraksi dengan hewan liar atau membersihkan area yang terkontaminasi.