Jangan Kaget! Ini Faktor yang Bikin Harga Mobil Bekas Anjlok
Banyak perusahaan terus menggunakan kendaraan operasional selama mobil tersebut masih dalam kondisi baik.
Banyak perusahaan cenderung mempertahankan kendaraan operasional selama mobil tersebut masih dianggap layak jalan. Meskipun mesin berfungsi dengan baik, AC berfungsi optimal, dan tidak ada kerusakan besar yang terlihat, sebenarnya nilai aset kendaraan tersebut terus menyusut setiap bulan. Hal ini sering kali diabaikan karena kendaraan masih dapat digunakan untuk mendukung aktivitas operasional sehari-hari. Namun, memasuki usia empat hingga lima tahun, biaya kepemilikan kendaraan mulai meningkat secara signifikan.
Servis berkala menjadi lebih rutin, dan komponen fast moving mulai banyak yang perlu diganti, sehingga risiko downtime dan kerusakan besar pun meningkat.
Jika sebelumnya biaya perawatan tahunan hanya berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, pada kendaraan yang lebih tua pengeluaran dapat melonjak hingga Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per tahun. Bahkan, biaya tersebut bisa jauh lebih tinggi jika terjadi kerusakan pada transmisi, sistem pendingin, atau sektor kaki-kaki kendaraan. Di sisi lain, perusahaan juga harus menghadapi penurunan nilai jual kendaraan yang signifikan.
Contohnya, mobil operasional yang dibeli seharga Rp 250 juta mungkin masih memiliki nilai pasar sekitar Rp 140 juta hingga Rp 150 juta ketika dijual di tahun keempat. Pada usia tersebut, kondisi kendaraan biasanya masih cukup baik dan menarik bagi showroom maupun pengguna akhir.
Namun, jika penjualan baru dilakukan pada tahun keenam atau ketujuh, nilai pasar mobil bisa turun drastis menjadi hanya sekitar Rp 90 juta hingga Rp 110 juta. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan waktu dan biaya yang terkait dengan kepemilikan kendaraan operasional.
Tidak Punya Data
Kenaikan kilometer yang semakin tinggi serta risiko kerusakan yang besar menyebabkan showroom mulai menekan harga dengan lebih agresif. Hal ini berarti, keterlambatan dalam menjual kendaraan selama satu hingga dua tahun saja dapat mengakibatkan perusahaan kehilangan nilai antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per unit.
"Banyak perusahaan sebenarnya tidak mengalami kerugian karena kondisi mobil yang buruk, tetapi karena mereka tidak memiliki data yang dapat membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akibatnya, harga terus ditekan saat proses negosiasi," jelas Ardy Alam, CEO Garasi.id.
Dengan demikian, Ardy menambahkan bahwa inspeksi kendaraan tidak hanya berguna untuk mengetahui kondisi mobil, tetapi juga untuk menjaga nilai aset tetap kompetitif sebelum berubah menjadi beban operasional bagi perusahaan. Setelah memutuskan untuk menjual kendaraan, perusahaan umumnya dihadapkan pada dua pilihan: menjual ke showroom atau langsung kepada end user.
Meskipun jalur showroom lebih praktis karena proses transaksi yang cepat dan administrasi yang lebih sederhana, terutama untuk penjualan armada dalam jumlah besar, showroom tetap memerlukan margin keuntungan, biaya refurbish, dan biaya penyimpanan unit. Hal ini mengakibatkan kendaraan dengan market value Rp 145 juta, misalnya, dapat ditawar hanya sekitar Rp 120 juta hingga Rp 130 juta.