Derita Aktivis Sumud Disorot, Gus Salam Desak Sanksi Internasional untuk Israel
Dalam hukum humaniter Internasional, misi kemanusiaan Sumud Flotilla adalah sipil yang harus dilindungi.
Sejumlah aktivis yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dilaporkan ditangkap oleh pasukan Israel di perairan menuju Gaza. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah jurnalis, hingga Warga Negara Indonesia (WNI) turut menjadi bagian dari rombongan yang diamankan, menambah perhatian internasional terhadap insiden penahanan tersebut.
Salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam mengatakan, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir dengan sengaja mengunggah video yang memperlihatkan aparat keamanan Israel memaksa anggota Flotilla yang ditahan untuk berlutut menghadap ke bawah dengan tangan terikat.
"Ia sendiri terlihat dalam rekaman tersebut sambil mengibarkan bendera Israel dan melontarkan pernyataan provokatif kepada para aktivis," kata Gus Salam dalam keterangannya, Senin (25/5).
Harus Dilindungi
Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur ini menyebut, para aktivis mengaku ditawan, disiksa hingga dilecehkan, dan saat ini mereka telah dibebaskan, termasuk 9 WNI. Dalam hukum humaniter Internasional, misi kemanusiaan Sumud Flotilla adalah sipil yang harus dilindungi.
Ia menegaskan, dilarang keras para aktivis tersebut diserang, diintimidasi, atau dijadikan tawanan. Bahkan dalam konvensi Jenewa, misi kemanusiaan harus diizinkan.
"Aspek kemanusiaan harus diutamakan dari ketentuan dan batasan yang wajib dilakukan seseorang,” tegasnya.
"Ketika sedang menjalankan sholat wajib saja boleh dibatalkan, bahkan wajib dibatalkan bila kondisi darurat untuk menyelamatkan manusia,” tambahnya.
Merusak Tatanan Internasional
Dengan tindakan tersebut, Gus Salam meragukan zionis Israel mau mengubah diri untuk tunduk dan patuh pada hukum Internasional. Baginya, kepribadian bangsa yahudi dan karakter zionis Israel dibentuk untuk merusak tatanan Internasional.
"Mereka tidak mengenal nilai dan norma kemanusiaan. Yang mereka kenal hanya berkuasa dan menguasai yang lain. Susahnya mengubah watak yahudi, terlebih dengan politik zionis membentuk Israel Raya. Itu kalau tidak dihentikan, krisis kemanusian akan terus terjadi di Asia Barat atau Timur Tengah,” ungkapnya.
"Jaman Mesir kuno, keturunan Yahuda, disebut Yahudi, rata‐rata berotak cerdas, tapi sebagian besar berwatak buruk; kikir, sombong, keduniaan, berkeinginan menguasai bangsa lain, ashabiyah (fanatis), kejam, dan sebagainya,” tambahnya.
Apalagi, menurut Gus Salam, Asia Barat atau Timur Tengah yang dikenal kaya sumber daya alam, terutama minyak dan gas bumi, diperebutkan oleh para kapitalis di benua Amerika dan Eropa.
Boneka
Maka, Israel disebutnya digunakan sebagai boneka (proxy) sekaligus diuntungkan oleh kapitalis dua benua yang untuk mengontrol Timur Tengah agar tetap menjadi mitra tidak setara.
Bagi Gus Salam, sosok seperti Benyamin Netanyahu dan Itamar Ben-Gvir adalah gambaran pemimpin yang menyadari keuntungan Israel menjadi proxy AS dan Eropa.
Keduanya, dianggap seperti pemimpin Israel lainnya yang menjadi angkuh dan tidak mau diajak bicara kecuali menguntungkan atau menjadi jalan untuk melancarkan kepentingan zionis.
"Kalau seperti itu, korban manusia dan krisis kemanusiaan di Gaza, Yerusalem, Tepi Barat, Lebanon, Suriah dan negara lain di Timur Tengah, tidak pernah berhenti,” paparnya.
"Di saat yang sama, aktivis kemanusiaan dunia dengan misi memberikan bantuan untuk para korban konflik bersenjata akan terus dihadang, diusir dan diperlakukan tidak manusiawi,” tambahnya.
Dunia Harus Beri Tekanan dan Sanksi kepada Israel
Untuk itu, menurut Gus Salam, dunia harus terus memberi tekanan dan sanksi kepada Israel. Bila melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak bisa karena veto AS, Prancis, Inggris atau negara pemilik hak veto, maka setiap negara yang peduli terhadap kemanusiaan dapat memberi tekanan dan sanksi melalui kebijakan politik negara masing-masing.
"Bila negara tidak bisa, maka kelompok atau organisasi masyarakat sipil di dunia bisa secara mandiri atau berjejaring melakukan seruan moral untuk menekan dan memberi sanksi terhadap zionis Israel,” tegasnya.
"Bentuknya macam-macam, termasuk boikot terhadap segala produk dari atau terafiliasi dengan kepentingan ekonomi dan politik zionis Israel,” sambungnya.
Lebih lanjut, Gus Salam ingin agar dunia harus memberi pelajaran kepada Israel agar menghormati keteraturan dan ketertiban untuk hidup dalam pengaturan bersama. Terutama dalam menjaga dan melindungi perdamaian serta aspek kemanusiaan.
"Terlalu naif mengandalkan dialog dengan zionis Israel. Sebaliknya, sikap dan tindakan nyata diperlukan untuk menghentikan kekejaman Israel,” katanya.