Blak-blakan BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Keok di Level Rp17.500
Bank Indonesia memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga menembus level Rp17.500 pada perdagangan hari ini. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menyebut tekanan terhadap mata uang rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Meski demikian, Bank Indonesia memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi.
Destry mengatakan meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Konflik yang masih berlangsung dengan intensitas lebih tinggi memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian global.
"Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global," kata Destry dalam keterangannya kepada Media, Selasa (12/5).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan.
Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang meningkat secara musiman.
Pembayaran Utang dan Kebutuhan Haji Dorong Permintaan Dolar
Dari sisi domestik, kebutuhan valas meningkat seiring pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan masyarakat untuk ibadah haji.
Kondisi tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik naik dalam beberapa waktu terakhir.
"Dari domestik, meningkatknya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dollar di pasar domestik," ujarnya.
Meski begitu, BI menilai tekanan tersebut bersifat sementara atau musiman sehingga peluang penguatan rupiah masih terbuka setelah permintaan dolar mulai mereda.
BI Optimalkan Intervensi
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI menegaskan akan terus melakukan intervensi secara optimal di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, bank sentral juga mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam volatilitas nilai tukar.
Destry menambahkan, kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih cukup baik. Hal itu tercermin dari masuknya aliran modal asing atau inflow ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April 2026 yang mencapai Rp61,6 triliun.
Likuiditas
"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun," ujarnya.
Di sisi lain, ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik juga dinilai memadai. BI mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas pada akhir Maret mencapai 10,9% secara year to date (ytd).
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” pungkas Destry.