Konflik Timur Tengah Memanas, BI Siapkan Langkah Jitu Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia menegaskan siap menjaga stabilitas rupiah di tengah konflik Timur Tengah dengan intervensi di pasar valas dan pembelian SBN.
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar keuangan guna menjaga pergerakan nilai tukar rupiah.
Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasar global.
Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan tetap aktif melakukan intervensi agar nilai tukar rupiah tetap stabil.
"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik Timur Tengah," kata Destry Damayanti dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara konsisten untuk menjaga pergerakan rupiah agar tetap sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian nasional.
"Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya.
Intervensi tersebut dilakukan melalui beberapa instrumen, baik di pasar dalam negeri maupun di luar negeri.
Di pasar offshore, BI menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Sementara di pasar domestik dilakukan melalui transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar.
Cadangan Devisa dan Arus Modal Tetap Terjaga
Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih berada dalam tren yang sejalan dengan mata uang di kawasan Asia.
Secara month-to-date (MTD), rupiah tercatat melemah sekitar 0,51 persen. Namun pelemahan tersebut dinilai masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang regional lainnya.
"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD 154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp 25,7 triliun," pungkasnya.
Dari sisi fundamental ekonomi, posisi cadangan devisa Indonesia juga dinilai masih kuat. Hingga akhir Januari 2026, cadangan devisa tercatat mencapai USD 154,6 miliar.
Selain itu, arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik sepanjang tahun 2026 menunjukkan tren positif dengan nilai sekitar Rp25,7 triliun.
Angka tersebut mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah kondisi global yang tidak menentu.