BI Komitmen Penuh Optimasi Operasi Moneter Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Global
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen penuh dalam optimasi operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, merespons depresiasi akibat ketidakpastian global dan konflik geopolitik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyatakan komitmen penuh BI untuk mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. Pernyataan ini disampaikan dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta pada Senin (13/4). Upaya ini bertujuan menjaga pergerakan nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global.
Langkah strategis ini diambil menyusul depresiasi mata uang beberapa negara, termasuk Indonesia, pasca eskalasi konflik antara AS-Zionis Israel dengan Iran. Rupiah sendiri telah melemah sekitar 1,91 persen year to date. Pelemahan ini dipicu oleh aliran modal keluar yang signifikan serta meningkatnya ketidakpastian global.
BI akan terus melakukan tindakan secara terukur, berkelanjutan, dan tepat waktu untuk mengatasi tekanan tersebut. Intervensi aktif di berbagai pasar finansial menjadi salah satu fokus utama. Tujuannya adalah untuk memastikan stabilitas keuangan dan kepercayaan investor tetap terjaga.
Intervensi Pasar dan Pengawasan 24 Jam untuk Stabilitas Rupiah
Dalam menghadapi situasi ini, Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Kehadiran di pasar NDF sangat krusial karena pergerakan kurs di sana seringkali bersifat spekulatif. Spekulasi ini bahkan terjadi sebelum adanya transaksi riil di domestik.
Untuk mengendalikan volatilitas, BI kini beroperasi 24 jam penuh dengan mengoptimalkan kantor perwakilan di London dan New York. Pengawasan pasar finansial dilakukan secara berkesinambungan. Pemantauan meliputi pasar di Singapura, Tiongkok, hingga Amerika Serikat.
Destry Damayanti menekankan pentingnya kepercayaan di tengah kondisi pasar yang wait and see. "Sebenarnya transaksi spot kita total valasnya itu sekarang sudah sekitar 9 miliar sampai 10 miliar (dolar AS) per hari..(Namun) dalam kondisi seperti ini, memang semua wait and see. Jadi yang dibutuhkan adalah confidence," ungkap Destry.
BI menargetkan pertumbuhan uang inti (base money) tetap terjaga di atas 10 persen. Ini menunjukkan bank sentral tetap menempuh kebijakan ekspansif. Kebijakan ini bertujuan mendukung penyaluran kredit perbankan.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Tata Kelola Transaksi Valuta Asing
Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan pemangku kepentingan terkait terus dilakukan. Kolaborasi ini mencakup pembelian atau penjualan surat berharga pada momentum yang tepat. Tujuannya adalah menjaga daya tarik instrumen domestik.
Pihak BI juga meningkatkan tata kelola transaksi valuta asing di dalam negeri. Setiap transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS kini wajib menyertakan dokumen pendukung (underlying transaction) yang jelas. Aturan ini diterapkan untuk memastikan transparansi dan mengurangi potensi spekulasi.
Deputi Gubernur Senior BI menegaskan komitmen regulator. "Tentunya dari kami regulator, kami akan terus mengawal. Kita tak mungkin melepas begitu saja. Kita akan terus bersama-sama mengawal pada kondisi ekonomi kita karena keuangan ini adalah yang langsung terekspos, sehingga dari BI kita akan terus all out untuk menjaga stabilitas," katanya.
Perluasan Skema Local Currency Transaction (LCT) untuk Ketahanan Rupiah
Bank Indonesia turut memperluas skema Local Currency Transaction (LCT). Skema ini merupakan kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan. Negara-negara yang terlibat antara lain Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand.
Penerapan LCT diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah secara berkelanjutan. Ini membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi internasional. Strategi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang BI untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Destry Damayanti mengungkapkan bahwa pada akhir tahun 2025, transaksi LCT mencapai 25,7 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan kenaikan dua kali lipat dibanding tahun 2025. "Upaya ini akan terus kita lakukan bersama dan tentunya bukan hanya dengan Bank Indonesia, tapi kita juga tentu akan kerjasama dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya," ujar Deputi Gubernur Senior BI.
Sumber: AntaraNews