Hadapi El Nino 2026, Bandung Barat Siapkan Strategi Budi Daya Adaptif untuk Ketahanan Pangan

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyusun strategi budi daya adaptif guna mengantisipasi dampak El Nino 2026 terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Hadapi El Nino 2026, Bandung Barat Siapkan Strategi Budi Daya Adaptif untuk Ketahanan Pangan
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyusun strategi budi daya adaptif guna mengantisipasi dampak El Nino 2026 terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, Jawa Barat, tengah mempersiapkan strategi budi daya adaptif secara komprehensif. Langkah ini diambil untuk menghadapi potensi ancaman kekeringan yang diperkirakan terjadi akibat fenomena El Nino pada tahun 2026 mendatang. Ketergantungan lahan pertanian yang tinggi terhadap curah hujan menjadi fokus utama dalam upaya mitigasi ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat, Lukmanul Hakim, menjelaskan bahwa penyesuaian teknis budi daya menjadi kunci. Strategi ini mencakup penggantian komoditas padi dengan palawija di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan parah. Tujuannya adalah untuk memastikan produksi pangan tetap terjaga di tengah tantangan iklim ekstrem.

Ancaman terbesar dari dampak El Nino ini berasal dari dominasi lahan tadah hujan di Kabupaten Bandung Barat. Hanya sekitar 20 persen dari total lahan baku sawah yang memiliki sistem irigasi, membuat mayoritas area pertanian sangat rentan terhadap perubahan pola curah hujan. Kondisi ini menuntut pendekatan yang inovatif dan terencana dari pemerintah daerah.

Dalam menghadapi potensi kekeringan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat secara aktif mendorong penyesuaian pola tanam di wilayah pertaniannya. Petani dianjurkan untuk mengganti komoditas padi dengan palawija yang lebih hemat air, terutama di area yang teridentifikasi rawan kekeringan. Strategi ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Pemerintah daerah juga gencar mengampanyekan penggunaan varietas tanaman yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap kondisi kering. Contoh varietas yang direkomendasikan adalah padi Inpago 8, jagung Bisi 18, dan cabai Dewata 43. Pemilihan varietas ini merupakan bagian integral dari strategi budi daya adaptif untuk El Nino.

Selain itu, petani diarahkan untuk mengimplementasikan berbagai teknik hemat air dalam praktik budi daya mereka. Penggunaan mulsa untuk mempertahankan kelembaban tanah menjadi salah satu teknik yang diutamakan. Pengaturan ulang jadwal tanam juga dilakukan agar fase kritis tanaman tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau, meminimalkan risiko gagal panen.

Upaya mitigasi dampak El Nino diperkuat melalui pendampingan intensif kepada para petani di lapangan. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) memainkan peran krusial dalam memberikan bimbingan teknis. Mereka juga terlibat dalam pemetaan wilayah yang rentan terhadap kekeringan serta sosialisasi prediksi cuaca dari BMKG.

Pemerintah daerah turut mendorong petani untuk mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan finansial. Program ini bertujuan untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen yang disebabkan oleh bencana alam. Dengan demikian, risiko ekonomi petani dapat diminimalisir secara signifikan.

Pengembangan infrastruktur pertanian juga menjadi prioritas, terutama melalui program pompanisasi atau brigade pompa. Sebanyak 393 unit pompa telah disebar sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Pemerintah menargetkan penambahan 125 unit pompa lagi pada tahun 2026, yang didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, 65 unit irigasi perpompaan dan dua unit jaringan air tanah telah dibangun pada tahun 2026, dengan 19 unit tambahan direncanakan pada periode yang sama.

Lukmanul Hakim menegaskan, “Sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah menjadi kunci. Dengan penyesuaian budi daya dan mitigasi yang tepat, kami optimistis produksi pangan tetap terjaga meski dihadapkan pada ancaman El Nino.” Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi daerah yang sejak 2014 telah mencapai swasembada pangan dan terus menyumbang produksi beras nasional. Pada 2025, produksi padi Kabupaten Bandung Barat tercatat mencapai 274.221 ton atau setara 147.424 ton beras.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi