Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat menyerukan Iran, Amerika Serikat, dan seluruh pihak terkait untuk melanjutkan perundingan. Seruan ini bertujuan mencapai penyelesaian menyeluruh dan berkelanjutan atas isu nuklir Iran. Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian, Rosemary DiCarlo, menyampaikan pesan ini dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Washington DC.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak ditempuh. Hal ini disampaikan meskipun masih terdapat perbedaan pandangan signifikan mengenai program nuklir Teheran. PBB mendorong keterlibatan konstruktif dari semua pihak.
Tujuan utama adalah mencapai penyelesaian damai, menyeluruh, dan berkelanjutan sesuai Resolusi 2231. Resolusi ini mendukung Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran tahun 2015. PBB siap memberikan dukungan penuh terhadap upaya-upaya diplomatik ini.
Advertisement
Advertisement
Seruan PBB untuk Dialog Konstruktif
Rosemary DiCarlo menegaskan pentingnya semua pihak untuk terlibat secara konstruktif dan dengan itikad baik. Tujuannya adalah mencapai penyelesaian damai dan berkelanjutan atas isu nuklir Iran. Ini sejalan dengan sasaran yang lebih luas untuk memperkuat perdamaian dan keamanan internasional.
DiCarlo menambahkan bahwa kerangka bagi perundingan lanjutan merupakan langkah penting. Kerangka ini krusial menuju penyelesaian damai atas isu nuklir Iran yang telah berlarut-larut. Meskipun ada perbedaan, semua pihak menyatakan kesiapan untuk melanjutkan dialog.
Nota Kesepahaman Islamabad yang disepakati Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni menjadi bukti. Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa upaya diplomatik masih terus berlangsung. Nota kesepahaman ini mencakup penyelesaian pengelolaan persediaan material nuklir Iran yang telah diperkaya.
Advertisement
Kesepakatan tersebut juga membahas pelaksanaan pengenceran tingkat pengayaan material nuklir. Proses ini akan dilakukan langsung di lokasi di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Selain itu, kelanjutan pembahasan soal pengayaan uranium dan isu terkait program nuklir sipil Iran juga menjadi bagian dari nota kesepahaman.
Advertisement
Tantangan Implementasi dan Kekhawatiran IAEA
DiCarlo mengungkapkan kekhawatiran yang meningkat terhadap kemampuan IAEA. Badan tersebut kesulitan memantau aktivitas nuklir Iran secara efektif. Hal ini menjadi kendala serius dalam upaya verifikasi internasional.
Mengutip laporan terbaru Sekretaris Jenderal mengenai implementasi Resolusi 2231, IAEA belum dapat melaksanakan kegiatan verifikasi langsung di lapangan. Mekanisme pengamanan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) Iran tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Situasi ini menghambat pengawasan yang transparan.
Laporan tersebut juga mencatat penurunan signifikan dalam pengetahuan mengenai program nuklir Iran. Penurunan ini terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Serangan tersebut berdampak besar pada kapasitas pemantauan.
Advertisement
IAEA kini telah kehilangan kesinambungan informasi mengenai seluruh fasilitas nuklir Iran yang telah dideklarasikan. Kehilangan ini mencakup produksi dan inventaris terkini sentrifugal, rotor, bellows, air berat, serta konsentrat bijih uranium. Badan tersebut menilai pengetahuan ini tidak dapat dipulihkan.
Sumber: AntaraNews