Menhub Targetkan Pelabuhan Celukan Bawang Beroperasi Akhir Tahun, Solusi Kepadatan Ketapang-Gilimanuk

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menargetkan Pelabuhan Celukan Bawang beroperasi akhir tahun 2026 untuk mengurai kepadatan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, sekaligus menjadi alternatif konektivitas Jawa-Bali.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menhub Targetkan Pelabuhan Celukan Bawang Beroperasi Akhir Tahun, Solusi Kepadatan Ketapang-Gilimanuk
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menargetkan Pelabuhan Celukan Bawang beroperasi akhir tahun 2026 untuk mengurai kepadatan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, sekaligus menjadi alternatif konektivitas Jawa-Bali. (AntaraNews)

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menargetkan Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng, Bali, dapat mulai melayani penyeberangan pada akhir tahun 2026. Langkah strategis ini diambil untuk membantu memecah arus kendaraan yang selama ini memadati lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Target operasional ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi penyelenggaraan angkutan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.

Pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang merupakan upaya penting untuk mengurangi beban jalur utama penghubung Jawa dan Bali tersebut. Menhub Dudy menegaskan bahwa kepadatan harus dipecah melalui pelabuhan alternatif, belajar dari pengalaman di lintas Merak-Bakauheni. Peninjauan langsung telah dilakukan oleh Menhub pada Kamis (9/7) di lokasi pelabuhan tersebut.

Kesiapan Pelabuhan Celukan Bawang diharapkan dapat tuntas pada Desember 2026, sehingga dapat segera mendistribusikan arus penyeberangan. Hal ini juga termasuk persiapan untuk angkutan Lebaran 2027 yang berdekatan dengan Hari Raya Suci Nyepi. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT ASDP Indonesia Ferry diinstruksikan untuk mempercepat penyelesaian kajian teknis serta pengembangan fasilitas sesuai target yang telah ditetapkan.

Strategi Mengurai Kepadatan Lintas Jawa-Bali

Menhub Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang adalah langkah strategis untuk mengurangi kepadatan di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Jalur ini merupakan penghubung utama antara Pulau Jawa dan Bali yang sering mengalami lonjakan volume kendaraan. Pengalaman dari lintas Merak-Bakauheni menjadi pelajaran berharga dalam mencari solusi pemecah kepadatan.

Kementerian Perhubungan telah melakukan kajian terhadap beberapa alternatif lintasan penyeberangan guna mendukung distribusi arus kendaraan. Alternatif tersebut meliputi Jangkar–Celukan Bawang, Tanjung Wangi–Celukan Bawang, Ketapang–Padang Bai/Gunaksa, serta Ketapang–Benoa. Dari opsi-opsi ini, Pelabuhan Celukan Bawang diproyeksikan menjadi salah satu simpul penting.

Pelabuhan Celukan Bawang diproyeksikan menjadi salah satu simpul penting dalam mendistribusikan arus penyeberangan dari Jawa menuju Bali. Ini akan memberikan pilihan baru bagi pengguna jasa penyeberangan, sehingga tidak hanya bergantung pada satu lintasan saja. Diversifikasi jalur diharapkan dapat menciptakan kelancaran arus transportasi, terutama saat volume kendaraan tinggi.

Peran Pelindo dan ASDP dalam Percepatan Operasional

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi telah menginstruksikan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk mempercepat kesiapan Pelabuhan Celukan Bawang. Instruksi ini mencakup penyelesaian kajian teknis serta pengembangan fasilitas pelabuhan sesuai target yang telah ditetapkan. Kolaborasi kedua BUMN ini krusial untuk mencapai target operasional pada akhir tahun 2026.

Pelindo diminta secara khusus untuk melakukan revitalisasi Pelabuhan Celukan Bawang agar mampu melayani lintasan penyeberangan dari Pelabuhan Jangkar, Ketapang, dan Tanjung Wangi di Banyuwangi. Revitalisasi ini merupakan bagian dari upaya memperluas alternatif konektivitas antara Jawa dan Bali. Peningkatan kapasitas dan fasilitas pelabuhan menjadi prioritas utama.

Kedua perusahaan, Pelindo dan ASDP, diminta menuntaskan seluruh persiapan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Harapannya, Pelabuhan Celukan Bawang dapat mulai beroperasi pada Desember 2026 mendatang. Operasional pelabuhan ini diharapkan dapat secara signifikan membantu mendistribusikan arus penyeberangan dan mengurangi kepadatan di lintas Ketapang-Gilimanuk, terutama saat puncak musim liburan.

Inovasi Transportasi dan Pengembangan Infrastruktur Bali

Selain fokus pada penyeberangan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga berupaya melanjutkan program taksi air (water taxi) sebagai moda transportasi alternatif di Bali. Layanan ini diproyeksikan mampu memangkas waktu tempuh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu. Perjalanan yang semula memakan waktu 1,5 hingga 2 jam diperkirakan dapat menjadi sekitar 30 menit saja.

Pengembangan taksi air bertujuan untuk mengurangi beban lalu lintas jalan di Bali yang semakin padat. Menhub Dudy menyebutkan bahwa animo wisatawan terhadap moda transportasi ini cukup tinggi karena menawarkan pengalaman perjalanan yang berbeda dan efisien. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi kemacetan di destinasi wisata populer, sekaligus memberikan pengalaman baru bagi wisatawan.

Pada sektor udara, Kemenhub terus mendorong penguatan konektivitas melalui pengembangan bandara eksisting di Bali. Bandara I Gusti Ngurah Rai saat ini melayani sekitar 24,9 juta penumpang per tahun, bahkan sudah melampaui kondisi sebelum pandemi COVID-19. Pengembangan kapasitas bandara ditargetkan dapat meningkatkan jumlah penumpang hingga sekitar 32 juta, mendukung pemerataan pembangunan dan pariwisata Bali.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi