Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama Indonesia, setiap tahunnya menghadapi tantangan kekeringan saat musim kemarau tiba. Kondisi ini menyebabkan tanah retak di wilayah selatan pulau dan debit air sungai menurun drastis.
Para petani seringkali harus mengoperasikan pompa air lebih lama untuk mendapatkan air tanah demi mengairi sawah mereka. Tak jarang, beberapa petani memilih menunda masa tanam untuk menghindari kerugian akibat gagal panen, beralih menanam tembakau yang membutuhkan lebih sedikit air.
Di sisi lain, di bagian barat Lombok, aliran air tawar melimpah dari dataran tinggi menuju laut melalui Sungai Meninting, yang berhulu di lereng barat Taman Nasional Gunung Rinjani. Perbedaan curah hujan yang signifikan antara lereng barat dan utara Gunung Rinjani dengan wilayah selatan pulau menjadi penyebab utama krisis air di Lombok bagian selatan.
Advertisement
Advertisement
Manfaat Multiguna Bendungan Meninting untuk Lombok
Untuk mengatasi ketidakseimbangan air yang telah berlangsung puluhan tahun ini, terutama saat musim kemarau, pemerintah telah membangun Bendungan Meninting di Desa Penimbung, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ide pembangunan bendungan raksasa ini sebenarnya sudah ada sejak era Orde Baru, namun baru terealisasi tiga dekade kemudian sebagai bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) yang diluncurkan pada tahun 2015 untuk membangun puluhan bendungan demi memperkuat ketahanan pangan dan air nasional.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan bahwa Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung 10 juta meter kubik air yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Bendungan ini mengairi 1.559 hektar sawah yang sebelumnya hanya bergantung pada curah hujan, melalui jaringan irigasi sepanjang sekitar 26 kilometer. Indeks pertanaman padi meningkat dari satu kali menjadi tiga kali panen setiap tahun, dengan produktivitas padi mencapai 6,3 ton per hektar.
Selain itu, Bendungan Meninting juga menyediakan pasokan air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik, memperluas akses air bersih bagi 100.000 penduduk. Bendungan ini juga berfungsi mengurangi risiko banjir di Kabupaten Lombok Barat dan Kota Mataram, serta menawarkan potensi untuk pembangkit listrik tenaga air dan pengembangan pariwisata. Dengan tinggi 74 meter dan panjang puncak 260 meter, Bendungan Meninting merupakan bendungan besar pertama yang dibangun di Pulau Lombok sejak Bendungan Batujai di Lombok Tengah selesai pada tahun 1982.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Sedimentasi dan Konservasi Hulu Sungai
Meskipun membawa banyak manfaat, keberlanjutan Bendungan Meninting sangat bergantung pada kondisi daerah hulu. Lokasi bendungan di perbukitan, dikelilingi lereng curam di sisi barat Taman Nasional Gunung Rinjani, menimbulkan tantangan serius terhadap kelangsungan infrastruktur jangka panjang. Perubahan iklim menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan curah hujan semakin tidak menentu, sementara permintaan air tawar terus meningkat untuk pertanian, rumah tangga, dan sektor pariwisata yang menggerakkan ekonomi regional.
Setiap tetes air yang mengalir ke bendungan berasal dari hutan lebat di hulu Sungai Meninting. Kanopi hutan yang rapat memperlambat aliran air hujan sebelum mencapai dasar hutan, sementara lapisan serasah daun yang tebal menyerap kelebihan air, menstabilkan aliran permukaan. Area tangkapan air Bendungan Meninting mencakup sekitar 32,77 kilometer persegi, sebagian besar terdiri dari daerah perbukitan.
Namun, pembukaan lahan untuk pertanian dan permukiman, bersamaan dengan tanah longsor dan erosi, mengancam untuk mempercepat sedimentasi. Sebuah studi ilmiah yang dilakukan oleh Universitas Mataram memperkirakan laju sedimentasi sebesar 40.526 meter kubik per tahun, laju yang mengancam untuk mengurangi masa pakai bendungan menjadi hanya 45 tahun. Akumulasi sedimen ini merupakan ancaman jangka panjang terhadap kapasitas penyimpanan Bendungan Meninting. Untuk mitigasi sedimentasi ini, upaya konservasi di daerah tangkapan air hulu harus segera dilakukan dan dijaga secara berkelanjutan. Sungai Meninting sendiri merupakan rumah bagi sembilan air terjun, tujuh di antaranya dikenal luas, termasuk Tibu Tereng dan Aiq Kelep, yang menjadi sumber air baku penting bagi penduduk setempat. Namun, peraturan perlindungan hutan yang ada, dari tingkat nasional hingga regional, belum memberikan perlindungan yang memadai bagi ekosistem hulu ini. Pemerintah harus secara aktif melibatkan masyarakat lokal dan sektor swasta dalam melindungi kawasan hutan di sekitar Bendungan Meninting.
Advertisement
Advertisement
Menggerakkan Ekonomi Lokal dan Pariwisata Berbasis Alam
Bendungan Meninting, yang menggenangi area seluas 45 hektar, tidak hanya menguntungkan petani tetapi juga menciptakan peluang bisnis bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), agrowisata, serta perikanan air tawar. Beberapa warung makan kecil telah bermunculan di atas bendungan, menawarkan pemandangan panorama Kota Mataram, laut biru, dan Gunung Rinjani yang megah.
Setiap Sabtu dan Minggu, warung-warung makan tersebut ramai dikunjungi wisatawan. Banyak yang datang sebagai bagian dari komunitas pesepeda, sementara yang lain datang bersama keluarga. Area ini juga menawarkan lokasi perkemahan dengan penyewaan tenda yang terletak di tengah lanskap hutan. Puluhan aliran sungai yang berasal dari Gunung Rinjani menyatu menjadi Sungai Meninting, sebuah area yang terkenal dengan air terjunnya, jalur pendakian, formasi batuan, dan hutan lebat yang sebagian besar masih alami.
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Lombok Barat, Agus Gunawan, mengatakan bahwa area di sekitar Bendungan Meninting memiliki potensi pariwisata berbasis alam yang sangat besar. Pemerintah harus mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk memainkan peran penting dalam mempromosikan objek wisata, antara lain dengan bertindak sebagai pemandu wisata. Bendungan Meninting adalah investasi untuk generasi mendatang. Nilai infrastruktur ini tidak boleh diukur dari biaya pembangunannya sebesar Rp1,47 triliun, melainkan dari seberapa lama bendungan ini dapat terus menyediakan air bagi petani, masyarakat lokal, dan lingkungan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews