Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Ringgit dan Dolar Singapura, Ternyata Ini Penyebabnya
Tidak semua mata uang Asia mengalami nasib serupa. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura justru relatif lebih stabil dibanding rupiah.
Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pada pukul 10.20 WIB, kurs rupiah telah menembus Rp 17.510 per USD berdasarkan data wise.com.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya permintaan dolar AS, hingga arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang membuat mata uang Asia bergerak melemah sepanjang tahun ini.
Namun di tengah tekanan tersebut, tidak semua mata uang Asia mengalami nasib serupa. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura justru relatif lebih stabil dibanding rupiah.
"Sekalipun memang ada beberapa currency lainnya yang relatif masih menguat, salah satunya Ringgit Malaysia dan juga Singapura Dolar," kata Josua dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026, Selasa (12/5).
Kondisi ini dinilai dipengaruhi oleh kekuatan fundamental ekonomi kedua negara, terutama dari sisi transaksi berjalan dan dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian mereka.
"Mengapa dua currency ini juga tidak ikut melemah? karena tentunya ada faktor-faktor lain yang tidak dimiliki salah satunya adalah mungkin rambatan dari kenaikan harga energi terhadap ekonominya, kita juga bisa melihat bagaimana struktur dari sisi neraca transaksi berjalannya Malaysia dan juga Singapura yang memang relatif kuat lebih kuat, sehingga ini membuat tadi mengapa dua currency ini tidak mengalami pelemahan bersama mata uang Asia lain," jelasnya.
Rupiah Tak Melemah Sendirian
Ia mengatakan, pelemahan rupiah saat ini bukan terjadi sendirian. Menurutnya, sebagian besar mata uang Asia juga mengalami tekanan akibat meningkatnya risiko global dan perpindahan dana investor ke aset aman atau safe haven.
Berdasarkan data year-to-date, rupee India melemah hampir 5 persen, rupiah sekitar 3,9 persen, peso Filipina 2,8 persen, baht Thailand 2,2 persen, dan won Korea Selatan sekitar 1,2 persen.
"Secara umum kembali lagi bahwa yang tadi kami sampaikan rupiah tidak melemah sendirian dan memang kerana tadi ada efek dari penguatan dolar secara umum, sekalipun memang DXY saat ini cenderung mengalami perlemahan namun kalau kita melihat secara real secara realnya bahawa pun juga terjadi perlemahan sebagian besar mata uang di Asia," pungkasnya.