Pengamat Beberkan Dampak Pelemahan Rupiah yang Sudah Dirasakan Masyarakat
Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga barang elektronik menjadi sinyal nyata bahwa tekanan eksternal kini merambat ke kehidupan sehari-hari.
Pengamat ekonomi, Ibrahim Assu’aibi menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat bakal mulai terasa langsung di kantong masyarakat.
Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga barang elektronik menjadi sinyal nyata bahwa tekanan eksternal kini merambat ke kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, kombinasi gejolak global dan lonjakan harga minyak dunia menjadi pemicu utama lonjakan harga di dalam negeri. Kondisi ini diperparah dengan ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.
"Nah, dampak terhadap masyarakat Indonesia gimana? Pada saat harga rupiah mengalami pelemahan, minyak mentah mengalami kenaikan, dampaknya cukup luar biasa. Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (5/5).
Seiring melemahnya nilai tukar, harga sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan signifikan. Produk berbasis impor seperti kedelai dan gandum menjadi yang paling terdampak karena transaksi menggunakan dolar AS.
"Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya inipun juga mengalami kenaikan. Harga plastik mengalami kenaikan dan ini dampaknya cukup luar biasa," ujarnya.
PMI Manufaktru RI Merosot
Di sisi lain, sektor manufaktur juga mulai tertekan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di bawah level 50 menunjukkan adanya kontraksi, yang menandakan aktivitas industri mengalami perlambatan akibat mahalnya bahan baku impor.
"Kita melihat sudah di bawah 50, artinya ini mengindikasikan bahwa impor-impor barang dari luar negeri mengalami tekanan karena harganya mahal kemudian barangnya tidak ada, sehingga membuat manufaktur di Indonesia mengalami penurunan. Nah ini dampaknya sudah terlihat," ujarnya.
Menurut Ibrahim, situasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Terlebih, kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di kawasan Selat Hormuz turut memperbesar tekanan inflasi.